Thursday, 17 September 2015

[RESENSI BUKU] SHOPAHOLIC TO THE STARS (SI GILA BELANJA KE HOLLYWOOD) – SOPHIE KINSELLA


***
Becky Brandon (d.h Bloomwood) pindah ke Hollywood! Becky bersama Minnie menyusul Luke, yang kini menangani kehumasan artis terkenal, Sage Seymour. Tentu saja Becky tak sabar ingin segera memulai gaya hidup ala Hollywood, lengkap dengan selebriti, retret yoga, serta sesi belanja di Rodeo Drive. Tapi, yang sebenarnya ingin dia lakukan adalah menjadi penata gaya Sage Seymour—sayang sekali Luke tidak mau memperkenalkan mereka.

Upaya Becky untuk meraih cita-citanya tidak selalu mulus. Selain itu, muncul masalah baru dari ayahnya yang mendadak terbang ke L.A. untuk suatu urusan rahasia. Tapi, tahu-tahu saja, Becky ditawari kesempatan mendandani Sage untuk suatu acara. Walaupun keadaan sedang kacau-balau, ini durian runtuh!

Karpet merah, pemutaran perdana, paparazzi... Masa depan gemerlap membentang di hadapannya. Tapi benarkah hanya itu yang Becky dambakan?
***
Khas Luke. Pertama, etika kerja, sekarang gaya hidup sehat di ruang terbuka? Dia omong apa sih? Aku tidak datang ke LA demi “gaya hidup sehat di ruang terbuka”, aku datang untuk “gaya hidup seleb, kacamata hitam besar, dan karpet merah” (Becky, hal. 64).

Mencapai obsesi tidak selamanya mulus. Ada yang mendukung, ada yang tidak. Termasuk ketika Becky memiliki impian setinggi langit menjadi seorang penata gaya di Hollywod. Suaminya, Luke, keberatan dengan ide tersebut. Karena menurut Luke, mereka tidak akan menetap di Hollywod untuk selamanya. 
 
Namun bukan Becky namanya kalau menyerah begitu saja. Ia bahkan nekad membelikan pakaian dan tas untuk artis Sage Seymour, klien Luke. Ya. Becky bilang kalau berbelanja untuk Sage adalah sebuah investasi. Saya terkikik membaca bagian ini. Pemikiran si Becky memang nyentrik.

Pada seri Shopaholic pertama saya sebal setengah mati sama tokoh antagonis, Alicia. Dia itu seperti serigala berbulu domba. Di buku ini dia kembali muncul. Di sini Sophie Kinsella belum menceritakan gamblang sih, apakah Alicia semenjengkelkan dulu. Tapi membaca gelagatnya yang sok manis, kelihatan sekali kalau dia menyimpan rencana berbahaya. 
 
Satu hal yang membuat saya terperangah adalah ketika Lois Kellerton dan Sage Seymour ternyata bersahabat. Padahal masyarakat sejagat tahunya mereka berseteru. Dan perseteruan keduanya sengaja diblow up demi kepentingan ketenaran. Nah lho? 

Saya jadi berpikir, jangan-jangan pertengkaran artis yang heboh di media sebetulnya juga setting-an? Artis kan pintar berakting? 
 
Di buku ini, nasib Becky lumayan gawat. Suze, sahabatnya, mulai menjauh dan memusuhi Becky. Suze jengkel sama Becky yang terlalu mengejar obsesi sampai tega sedikit mengabaikan Suze. 

Suze butuh perhatian. Sebab tahu-tahu suami Suze lenyap. Suze jadi sinis sama Becky dan dia malah lengket dengan Alicia. Oh, God. Saya jadi bisa membayangkan betapa jleb-nya Becky. Belum lagi ayah Becky yang jauh-jauh datang ke LA, lenyap pula tanpa alasan. Dicari kemana-mana tidak ada. Belum selesai masalah tersebut, Luke juga tidak setuju Becky akrab dengan artis terkenal, Sage Seymour. Bahkan Luke memilih terbang ke New York dan meninggalkan Becky. 
 
Lantas bagaimanakah nasib Becky? Apakah dia tetap mengejar impiannya? Akankah tercapai? Apakah dia akan tetap bersahabat dengan Sage?

Saya suka sama novel ini, sama seperti buku Sophie Kinsella lainnya. Lucu dan unik. Saya suka dengan gaya bahasanya yang lugas dan tidak membuat dahi berkerut. Ceritanya ringan namun kompleks dan mirip dengan dunia nyata. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita sering berkonflik dengan orang-orang terdekat? Saya bisa merasakan kehampaan Becky ketika ditinggalkan sendirian. Karena saya pernah mengalami. Bagaimanapun bersama-sama lebih baik daripada sendirian.

Membaca buku ini juga membuat saya lagi-lagi berpikir mengenai kehidupan artis. Jadi merenung. Ada juga ya, artis yang rela melakukan hal memalukan demi bisa terekspos? Demi jadi ngetop? Seperti kasus Sage yang benang gaunnya mendadak lepas semua. Ya, dia melakukannya dengan “sengaja”.

Selain jengkel sama Alicia, saya juga agak sebal terhadap Suze. Agak sih, bukan jengkel sungguhan. Karena dia malah menyalahkan Becky setelah suaminya raib secara tiba-tiba. Nah, kan yang memutuskan dia terbang ke LA bukan Becky? Kenapa juga harus uring-uringan terhadap Becky. Meski begitu saya bisa mengerti juga sih perasaan Suze. Saat suaminya tak tahu ada di mana, saat dia butuh tempat bercerita, Becky malah memilih berakrab-akrab ria dengan artis Hollywood. Para artis yang baru dikenal.

Buku ini tergolong tebal, yakni sekitar 496 halaman, namun bukan berarti masalah yang menimpa Becky usai. Ayah Becky dan suami Suze masih belum ketemu. Sepertinya buku Shopaholic berikutnya akan menceritakan petualangan Becky mencari sang ayah. Becky goes to Las Vegas.

Yang saya penasaran adalah, apa benar, ada keterlibatan Alicia atas hilangnya ayah Becky dan Tarkie? Apakah Becky yang modis merasa kerepotan berpetualang mencari sang ayah? Hmm, semoga buku berikutnya segera dirilis. Sudah tak sabar ingin baca :)

Judul   : Si Gila Belanja ke Hollywod (Shopaholic to The Stars)
Penulis : Sophie Kinsella
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit  : 2015
Harga   : Rp. 88.000,-
Tebal   : 496 halaman
Ukuran  : 13,5 x 20 cm
Cover   : Softcover
ISBN    : 978-602-03-01574-4

Saturday, 5 September 2015

BANK SYARIAH SAMA SAJA DENGAN BANK KONVENSIONAL. BENARKAH?


Malam itu saya pulang kerja. Saya naik mobil antar jemput kantor bersama teman-teman. Seperti biasa suasana di dalam mobil ramai mengobrolkan banyak hal. Mulai dari hal sepele sampai sesuatu yang benar-benar menghebohkan. Kala itu, sebut saja Bobi dan Rendi, sedang membicarakan bank syariah. Bobi lagi sebal akut sama pelayanan produk keuangan syariah dan ia melampiaskan kejengkelannya dengan curhat pada Rendi. Saya tidak ikut campur karena saya tidak tahu menahu perihal sistem keuangan syariah plus saya juga mengantuk. 
Halah sama saja mau syariah apa bukan. Mbulet,” omel Bobi.
Rendi tertawa bernada meremehkan. “Syariah kok gitu ya.Sami mawon ternyata,” kata Rendi.
Ngomong-ngomong, benarkah bank syariah sama saja dengan bank konvensional? 

BANK SYARIAH VS BANK KONVENSIONAL
Kebingungan saya terjawab beberapa waktu kemudian. Ceritanya saya ingin memindahkan dana tabungan dari bank konvensional ke bank syariah. Kenapa mendadak kepingin? Soalnya teman saya habis cerita, kalau pemberi dan penerima riba sama-sama berdosa. Selain itu, ada teman di Facebook, mantan karyawati bank konvensional yang sudah resign, terang-terangan ragu menggunakan jasa bank konvensional karena takut terkena harta riba.


Was-waslah hati saya. Saya pun memutuskan berangkat ke kantor cabang bank syariah terdekat. Maksud hati mau tanya-tanya dulu, apa dan bagaimana sih bank syariah itu?


Di sana saya bertemu mbak Dinda, yang menjabat jadi Customer Service. Dia menjelaskan beberapa akad yang diterapkan bank syariah. Kebutaan saya mengenai bank syariah pun tersingkap. Saya merasa tercerahkan sekaligus tertarik. Memang sih semua bank memiliki tugas sama yakni mengumpulkan dana, mengelola dana, dan menyalurkan dana pada masyarakat yang membutuhkan pembiayaan. Namun, bank syariah dan bank konvensional tetap berbeda. 

Beberapa perbedaannya adalah, dana yang dikelola oleh bank syariah cuma digunakan untuk proyek usaha yang halal dan diawasi oleh DPS (Dewan Pengawas Syariah). Kalau bank konvensional kan usaha apa saja boleh. Selain itu, bank syariah tidak memakai sistem bunga melainkan menggunakan sistem bagi hasil atau bonus yang jumlahnya tidak tetap tiap bulannya. Terakhir, kalau bank syariah lebih sesuai dengan syariat Islam tentunya.

Pembaca mungkin ada yang membatin, "Hah? Masa sih?" 

Baiklah agar lebih jelas, berikut saya jabarkan beberapa akad yang digunakan dalam bank syariah. Bagi yang masih awam dengan bank syariah, semoga bisa membantu ya. Dalam akad-akad berikut, akan kelihatan jelas perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional.

AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH

1. Akad Mudharabah 
Akad mudharabah adalah perjanjian kerja sama antara nasabah dan bank syariah dengan cara, nasabah menyerahkan dana untuk diinvestasikan di bank syariah

Jadi tujuan nasabah sejak awal adalah memang untuk investasi jangka panjang. Kemudian pihak bank mengelola dana tersebut untuk proyek usaha yang halal. Catat ya, usaha yang halal. Bukan proyek usaha haram semisal pabrik minuman keras, tempat karaoke, dll. 
Jika ada laba maka akan ada bagi hasil antara pihak bank dan nasabah sesuai nisbah (persentase). Bila ternyata usaha yang dikelola rugi maka kerugian ditanggung nasabah. Imbasnya bukan tabungan nasabah malah berkurang, namun nilai bagi hasil nasabah yang berkurang atau malah tidak ada sama sekali. Lebih gampangnya, akad mudharabah adalah akad bagi hasil.


Terus keuntungan bagi hasil sama aja kan dengan bunga bank konvensional? Tetap berbeda. 

Pertama, sudah pasti uang bagi hasil untuk nasabah adalah halal. Bayangkan dengan bunga bank yang tidak jelas halal haramnya. Kedua, jumlah uang bagi hasil tidak ditentukan di awal perjanjian. Cuma nisbahnya saja yang ditentukan. Semisal nisbahnya 70:30. Jadi bagi hasilnya adalah 70 persen keuntungan diberikan pada bank, 30 persen keuntungan dialirkan ke nasabah. Ketiga, uang bagi hasil jumlahnya tidak tetap seperti bunga bank.

Kalau keuntungan yang didapat pihak bank besar, nasabah juga dapat uang bagi hasil yang besar. Kalau keuntungan yang diperoleh pihak bank kecil, nasabah pun juga mendapatkan nilai bagi hasil yang juga kecil. 

Wajar toh, kalau kita berinvestasi ternyata menghasilkan laba besar, kecil, atau malah tidak ada laba sama sekali alias rugi? Jadi sebetulnya nilai bagi hasil yang ditambahkan pada nasabah, bukanlah bunga bank seperti yang ada di bank konvensional. 

Biasanya akad mudharabah ini digunakan untuk produk tabungan yang dikenal dengan tabungan mudharabah.

Berikut adalah skema akad mudharabah menurut Nurhayati dan Wasilah (2011)

 Sumber gambar: Buku Akuntansi Syariah di Indonesia, 2011

Keterangan:
1. nasabah dan bank syariah sudah sepakat melakukan akad mudharabah.
2. sesuai akad, dana dari nasabah dikelola oleh bank syariah   untuk usaha non-haram.
3. Proyek usaha bisa menghasilkan keuntungan atau malah rugi.
4. Jika menghasilkan keuntungan atau laba, maka laba akan dibagi dengan nasabah sesuai nisbah.
5. Bila mengalami kerugian, maka akan ditanggung pihak nasabah. Bukan berarti lantas tabungan nasabah jadi minus. Dana dari nasabah tetap utuh. Karena uang nasabah sudah dapat jaminan dari bank. Hanya saja, nilai bagi hasilnya kecil atau tidak dapat sama sekali.


Sekilas tabungan mudharabah mirip dengan tabungan di bank konvensional karena dikenakan biaya bulanan. Jadi begini. Biaya tersebut adalah biaya jasa yang diberikan kepada bank syariah karena telah menyimpan dan mengelola uang nasabah. Biasanya biaya yang dikenakan lebih kecil dibanding biaya bulanan bank konvensional.

Bagi nasabah yang tidak ingin tabungannya kena potongan bulanan, bisa saja. Yaitu dengan menggunakan tabungan yang menggunakan akad wadi’ah atau tabungan wadi’ah. Akad wadi’ah akan dijelaskan pada poin berikutnya.
 
2. AKAD WADI’AH
Akad wadi’ah adalah perjanjian antara pihak bank dan nasabah dengan cara, nasabah menitipkan uang pada bank syariah, demi tujuan keamanan. Lebih mudahnya, akad wadi’ah ini adalah akad titipan.

Produk keuangan syariah yang menggunakan akad wadi’ah biasanya adalah produk tabungan yang dikenal dengan tabungan wadi’ah. 

Berikut adalah skema dari akad wadi’ah menurut Nurhayati dan Wasilah (2011):

 Sumber gambar: Buku Akuntansi Syariah di Indonesia, 2011

Keterangan:
1. Nasabah dan bank syariah setuju untuk melakukan akad wadi’ah.
2. Nasabah menitipkan uang pada bank syariah demi keamanan dan bisa diambil sewaktu-waktu bila nasabah ada keperluan.
3. Bank syariah menyerahkan dana tabungan pada nasabah jika sewaktu-waktu diminta.

Bila menggunakan tabungan wadi’ah, maka nasabah akan dibebaskan biaya bulanan sama sekali. Kalaupun ada, biasanya nilainya jauh lebih kecil daripada tabungan berakad mudharabah. Karena sifat tabungan wadi'ah cuma titipan.

Contoh:
Saya ingin menabung dengan niatan biar uang saya aman. Jadi saya titipkan di bank. Ya sudah. Jika saldo akhir bulan saya tersisa 150 ribu, maka bulan berikutnya pun saldo akan tetap sejumlah 150 ribu. Tidak dipotong biaya apapun. Kalaupun dipotong, nilainya sangat kecil.
 
Nasabah yang menggunakan tabungan wadi'ah tidak mendapatkan uang bagi hasil. Jika nanti ada tambahan bonus dari bank, maka bonus tersebut adalah wujud terima kasih pihak bank kepada nasabah. Sebab dana yang dititipkan atas seizin nasabah, digunakan pihak bank untuk berbisnis dan meraih keuntungan.

Bedanya dengan bunga bank konvensional apa? Kalau bonus tabungan wadi’ah, nilai bonus tidak ditentukan di awal akad. Bedanya dengan tabungan mudharabah, bonus yang diberikan tidak menentu. Kadang dapat, kadang tidak sama sekali.

Tabungan wadi’ah ini sering digunakan banyak kalangan lho. Terutama mahasiswa karena bebas biaya bulanan dan saldo minimalnya lebih rendah dibandingkan tabungan mudharabah. Bagi yang ingin berhemat-hemat ria, pakai saja tabungan wadi’ah.

3. AKAD MURABAHAH
Akad murabahah adalah perjanjian jual beli dengan tambahan keuntungan yang telah disepakati. Istilah gampangnya, akad murabahah adalah akad jual beli. Jadi bank membeli dulu barang pesanan nasabah. Kemudian barang tersebut dijual lagi ke nasabah dengan tambahan keuntungan yang diambil pihak bank.

Berikut adalah skema akad murabahah menurut Muhammad Syafi'i dan Antonio, 2001:
 Sumber gambar: Buku Bank Syariah dari Teori ke Praktik, 2001

Keterangan:
1. Nasabah ingin membeli barang atau sesuatu yang nilainya tinggi sekali. Karena keterbatasan dana, nasabah mendatangi bank syariah. Terjadilah negosiasi dengan beberapa persyaratan.
2. Nasabah dan bank syariah sepakat melakukan akad murabahah.
3. Bank syariah pergi ke penjual lalu membeli barang yang dibutuhkan nasabah.
4. Barang pesanan yang sudah menjadi milik bank syariah, dijual lagi sama pihak bank dengan tambahan keuntungan yang telah disepakati. Kemudian barang tersebut diserahkan pada nasabah.
5. Nasabah pun membayar pada bank syariah.

Contoh:
Semisal kita ingin mengajukan KPR rumah pada bank syariah. Maka pihak bank akan membeli rumah yang kita inginkan terlebih dahulu. Sebut saja rumah yang dibeli bank seharga 700 juta misalnya. Berikutnya, bank akan menjual rumah tersebut pada kita. Nah, biasanya kan kalo menjual sesuatu, harus dapat untung ya? Pihak bank pun demikian. Jadi, bank syariah menjual rumah pada kita dengan tambahan keuntungan yang ditetapkan. Semisal 50 juta per unit rumah. Berarti kita akan mencicil 750 juta selama 10 tahun katakanlah. Maka tiap bulan kita akan membayar Rp. 6.250.000, flat alias tetap. Mau harga tanah dan rumah melejit, cicilan bulanan kita tidak berubah.
Bagaimana kalau kita ingin cepat-cepat melunasi cicilan? Ya tidak masalah. Tidak akan didenda. Bahkan bisa dapat diskon. Asik kan? 

Produk keuangan syariah yang menggunakan akad murabahah biasanya jenis pembiayaan. Seperti pembiayaan rumah, emas, dll.

4. AKAD IJARAH
Akad ijarah merupakan perjanjian sewa mengenai barang atau jasa dalam waktu tertentu, tanpa diikuti pemindahan hak milik. Akad ijarah disebut juga dengan akad sewa beli.
Untuk ijarah Al-Muntahia bit-Tamlik (IMBT), akad sewa diakhiri oleh perpindahan hak milik dari bank syariah ke nasabah. Jadi bank syariah selaku pihak yang menyewakan barang atau objek, berjanji pada nasabah selaku penyewa, untuk memindahkan hak milik barang tersebut setelah masa sewa berakhir.

Contoh:
Saya butuh mobil. Saya pun pergi ke bank syariah lalu terjadilah negosiasi. Pihak bank akan membeli mobil yang saya inginkan, kemudian mobil tersebut disewakan pada saya. Belum jadi milik saya lho ya. Jadi masih milik bank syariah. Saya membayar sewa selama waktu yang ditentukan, semisal lima tahun. Begitu lima tahun berlalu dan saya sudah melunasi uang sewa, maka mobil akan menjadi milik saya melalui akad baru yakni akad jual beli. 

Berikut gambaran skema akad ijarah IMBT menurut Muhammad Syafi'i dan Antonio, 2001:
  Sumber gambar: Buku Bank Syariah dari Teori ke Praktik, 2001

Keterangan:
1. Nasabah mendatangi bank syariah untuk membeli barang yang harganya mahal sementara nasabah memiliki dana terbatas.
2. Bank syariah menemui penjual dan membeli barang pesanan nasabah. Hak milik ada di pihak bank.
3. Pihak bank menyewakan barang tersebut pada nasabah dan nasabah harus membayar biaya sewa hingga masa yang telah ditetapkan. Pada akhir masa sewa, hak milik berpindah dari bank syariah kepada nasabah.

Biasanya akad ijarah ini digunakan untuk produk seperti leasing kendaraan bermotor, penitipan emas, pembiayaan pendidikan, dll.

Begitulah penjelasan sekilas mengenai beberapa akad yang diterapkan bank syariah. Lebih adil kan bagi nasabah? Dan yang pasti lebih berkah, halal, dan aman bagi kehidupan akhirat kita ya.

Bagi yang sedang bingung mau menabung di bank syariah atau bank konvensional, mau kredit mobil, mau menabung untuk biaya haji, dan lain-lain, semoga tulisan saya bisa memudahkan dan memantapkan teman-teman dalam mengambil keputusan.

REFERENSI:
1. Antonio dan Muhammad Syafii.2001. Bank Syariah Dari Teori ke Praktik.Jakarta.Gema Insani Press.
2. Sri Nurhayati, Wasilah.2011.Akuntansi Syariah di Indonesia.Jakarta.Salemba Empat.

































JAGA KECANTIKAN DIRI, JAGA LINGKUNGAN

Jerawatan? Wajah kusam? Itu adalah masalah kulit saya sejak SMA. Kalau cuma kusam masih lumayan lah. Yang membuat tidak percaya diri adalah ...