Sunday, 7 March 2021

JAGA KECANTIKAN DIRI, JAGA LINGKUNGAN

Jerawatan? Wajah kusam? Itu adalah masalah kulit saya sejak SMA. Kalau cuma kusam masih lumayan lah. Yang membuat tidak percaya diri adalah jerawatan. Duh, rasanya ingin mecahin kaca tiap kali bercermin. Apalagi kalo jerawatnya sejagung-jagung yang terus matang berjamaah. Merah di mana-mana. Bernanah di sana-sini. Aaaa! Toloooong! 

Pernah saya datang ke dokter yang pasiennya membludak. Antre sampai saya ngantuk. Hasilnya bagus. Jerawat sembuh, wajah bersih, dan glowing . Begitu paket krim habis dan saya terlambat datang ke dokter tersebut, wajah langsung berubah kacau. Jerawat-jerawat saya seolah bermutasi jadi semakin besar lagi. Macam  bisul bentuknya. Astaga! Sungguh mengerikan sekali.

Segala macam cara saya coba. Mulai dari maskeran rempah-rempah sampai obat diare. Iya, obat diare saya larutkan dengan air terus dioles ke wajah. Sembuh? Tidak ! Duh,  saya semakin putus asa.

Dokumentasi pribadi


Syukurlah, akhirnya Tuhan memberikan petunjuk.
Pas ketemu Tante, saya disuruh rutin memakai skincare.  Beliau menyebutkan sebuah merek. Merek skincare tersebut mengandung zat yang berguna untuk menenangkan dan menghilangkan jerawat. Okelah saya coba. Eh, ajaib, Saudara-saudara! Kulit wajah saya dari hari ke hari makin bagus. Para jerawat hijrah entah ke mana. Terus muka jadi tampak lembut, halus, lembab, dan kenyal.

Sejak saat saya keranjingan memakai skincare. Berikut langkah-langkah skincare-an ala saya.

Pagi :

Facial wash - toner - serum - krim pagi - tabir surya

Malam :

Cleansing oil - facial wash - toner - serum - krim malam 

Untuk skincare saya mania dengan produk-produk korea. Seiring waktu produk skincare semakin hits. Banyak merek lokal bermunculan yang kualitasnya tidak kalah dengan produk luar.  Saya mulai berpikir. Kenapa tidak mencoba produk dalam negeri saja? Biar saya bisa turut andil memajukan produk-produk nusantara. 

Selain itu, jika saya memilih skincare dalam negeri, berarti kan secara tidak langsung saya ikut mendukung pemberdayaan komoditas lokal sebagai bahan baku produk perawatan wajah. Seperti salah satu merek skincare andalan saya. Perusahaan tersebut membeli lidah buaya, pohon teh, dan rasberi dari petani di daerah Jawa dan Bali.  Dari situ saya paham. Bahwa dalam satu botol serum atau krim misalnya, ada peran petani lokal, karyawan lokal, dan perusahaan lokal.  

Kita tahu bahwa pandemi berdampak serius pada lapangan pekerjaan. Keputusan  kerja terjadi di mana-mana.  Memilih skincare lokal sama dengan memberikan kontribusi terhadap kehidupan petani, pekerja atau karyawan, reseller, toko, dan perusahaan lokal. 

Mari kita dukung visi ekonomi lestari untuk Indonesia yang lebih baik dan masyarakat sejahtera.

 


Atas dasar pemikiran tersebut maka pelan-pelan saya mulai beralih ke produk lokal. Walaupun jujur, belum total. Berikut ini  beberapa merek lokal yang saya pakai.

Dokumentasi pribadi


Dari sekian banyak produk skincare lokal yang ber-BPOM asli, saya memilih merek yang rajin mengadakan program konservasi lingkungan. Jadi sebelum membeli, saya stalking dulu akun medsos skincare tersebut atau mencari informasi lebih dalam di Google. Beberapa produk lokal sudah cukup aware terhadap lingkungan. 

Ada produk yang mengadakan program pengembalian wadah skincare dan penanaman pohon di daerah-daerah tandus. Ada juga yang berinisiatif dengan mengadakan program pemberian makanan pada hewan-hewan yang mengalami kelaparan saat pandemi. Terus ada juga inovasi merek lokal yang menciptakan produk ramah lingkungan. Contohnya sheet mask yang bisa terurai atau bio-degradable . Kan asyik tuh. Wajah cantik, lingkungan terjaga.

Apakah dengan mengandalkan skincare saja kulit akan bagus terus dan glowing ? Belum. Kulit yang bagus juga dipengaruhi oleh gaya hidup. Menerapkan pola hidup sehat tidak hanya bagus untuk kulit tapi meningkatkan daya tahan tubuh. Terutama pada era pandemi begini. 

Beberapa langkah yang saya lakukan agar badan tetap fit antara lain:

1. Istirahat cukup

Saya pernah membaca dan mendengar kalau malam akan bekerja efektif saat kita tidur lelap dan cukup. Daripada rugi beli krim malam mahal tapi gagal fungsi, saya menghindari begadang. Jam tidur saya dimulai sekitar pukul 22.00-03.30 WIB. 

2. Cukup minum

Jangan remehkan aktivitas minum. Kurang cairan akan membuat kulit kering alias tidak terhidrasi dengan baik. Kalau terus-terusan akibatnya akan terjadi penuaan dini. Cukup minum juga akan memperbaiki metabolisme di dalam tubuh. Sehingga imun kita bagus dan jarang sakit.

3. Makan teratur dengan menu bergizi

Hindari diet ketat tanpa ilmu. Saya pernah punya kenalan. Dia anti banget sama nasi. Memang hasilnya kurus. Tetapi seharusnya jadi kelihatan tua. Jadi, konsumsilah makanan bergizi secukupnya. Jangan kelewat sedikit atau kebanyakan.

4. Jangan lupakan sayur dan buah

Biasanya orang yang suka sayur dan buah kulitnya bagus. Banyak sekali faedah buah dan sayuran bagi tubuh. Menurunkan kolesterol, mencegah kanker, dan lain-lain. Untuk sayuran, saya lebih suka mengonsumsi sayur yang tidak terlalu matang. Lebih enak aja menurut saya. Kandungan vitaminnya juga lebih banyak. 

5. Minum madu

Dulu waktu masih ngantor , saya berangkat pagi pulang malam. Untuk menambah daya tahan tubuh, mengonsumsi madu secara rutin menjadi pilihan saya. Takarannya cukup satu sendok makan madu setiap pagi. Badan jadi lebih fit dan jarang banget sakit. Sampai teman sekantor pernah nanya. "Kok kamu jarang sakit ya, Wid?" Gitu. 

Untuk madu, saya lebih suka mengonsumsi madu lokal. Sekalian mendukung usaha para peternak madu daerah. 

Peternakan lebah madu di Kabupaten Sintang.
Dokumentasi: Kelingkumanggoup.co.id


6. Olahraga

Saya melakukan olahraga 3-5 kali dalam seminggu. Jenis olahraganya bervariasi. Kadang-kadang angkat beban, yoga, jalan pagi termasuk joged-joged Tiktok. Durasinya nggak lama. Paling cuma 20 menitan. Kalau weekend baru melakukan yoga sekitar satu jam.

7. Mengurangi konsumsi makanan dan minum kemasan 

Saya bukan pecinta makanan kemasan. Menurut saya, real food lebih sehat dan enak. Kalau makanan kemasan kan ada pengawet. Agak khawatir aja. Selain itu, pengurangan konsumsi makanan dan minuman kemasan dapat mengurangi potensi adanya sampah baru. Sampah adalah masalah lingkungan yang serius di negeri ini. Terutama sampah plastik. Satu orang mengurangi sampah plastik, biasa saja. Tapi kalau 10 ribu orang? Jadi luar biasa kan?

8. Mengurangi konsumsi minyak goreng 

Ada alasan unik kenapa saya mengurangi makanan yang digoreng. Bermula dari ada tawaran dari penerbit untuk menulis tentang fabel kisah ibu dan anak. Salah satu cerita saya mengangkat kisah orangutan. Nah, sebelum nulis cerita, biasanya saya melakukan studi literatur alias riset. Biar karakter tokohnya kuat.

Pada saat saya belajar tentang kehidupan orangutan, saya nangis. Betapa tragisnya hidup orangutan di negeri ini. Habitatnya rusak akibat lahan kelapa sawit. Menurut artikel yang saya baca di Madani , Indonesia sudah hilang hutan seluas 4 kali lapangan sepak bola setiap 10 menit gara-gara perluasan kebun kelapa sawit. Mengerikan sekali!

Tidak heran kehidupan orangutan semakin terancam. Mereka telah kehilangan rumah. Saya pernah baca di Detik , ada orangutan diberondong 74 peluru saat berkeliaran di perkebunan kelapa sawit. Ya Tuhan! Sebagai pecinta binatang, perasaan saya jadi tercabik-cabik. Air mata saya menetes. Mereka udah tak punya tempat tinggal. Habitat mereka sudah rusak. Tidak heran ada orangutan yang berkeliaran ke perkebunan kelapa sawit.

Artikel tersebut meneror benak saya. Saya jadi kepikiran. Jangan-jangan saya punya peran nih dalam tragedi tersebut. Saya juga pemakai minyak kelapa sawit. Maka, sejak saat itu saya mulai mengurangi gorengan. Untuk minyak goreng, saya pindah haluan ke minyak kelapa produksi lokal. Memang sedikit lebih mahal, tapi biarin. Toh lebih sehat. Saya juga tidak menumpuk minyak jelantah karena minyak kelapa tak cepat menghitam setelah dipakai. Menu makanan saya juga jarang yang digoreng. Efek dari mengurangi makan gorengan dan hijrah ke minyak kelapa adalah badan saya tidak mudah gemuk.

Dokumentasi pribadi


Memang saya belum sepenuhnya meninggalkan produk berbahan kelapa sawit dan turunannya. Tapi setidaknya saya sudah melakukan langkah kecil. Langkah kecil jika dilakukan bersama-sama dan berkesinambungan, tentu dampaknya akan besar juga. Ya kan?


9. Jaga hati dan emosi

Saya punya prinsip, kurangi memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan. Memang hidup ini ada saja cobaannya. Orang-orang menyebalkan bersliweran menguji kesehatan mental. Saya belajar untuk realistis, belajar memaafkan, berlapang dada, mengontrol emosi, menghindari konflik, dan semacamnya. Di medsos, saya hindari like dan komen di status mengandung yang ghibah, marah-marah, nyindir. Pokoknya jangan. Biar hati jadi lebih damai dan tenteram.

Dokumentasi pribadi


Keinginan untuk menjadi cantik adalah lumrah bagi setiap wanita. Tapi jangan lupakan hak alam, masyarakat, dan lingkungan. Mari jaga kecantikan dan jaga lingkungan. Semoga artikel ini bermanfaat. 


Referensi

https://madaniberkelanjutan.id/2020/01/20/dilema-komoditi-sawit


https://kelingkumanggroup.co.id/news/keling-kumang-dampingi-petani-lebah-madu


https://youtu.be/qnw6p2slxxQ


https://news.detik.com/berita/d-4465364/kisah-tragis-orang-utan-hope-bayinya-mati-tubuhnya-diberondong-74-peluru










JAGA KECANTIKAN DIRI, JAGA LINGKUNGAN

Jerawatan? Wajah kusam? Itu adalah masalah kulit saya sejak SMA. Kalau cuma kusam masih lumayan lah. Yang membuat tidak percaya diri adalah ...