Sunday, 27 April 2014

VIRUS SEBEL

Waktu nulis postingan ini, aku sedang dalam posisi merasa bersalah. Sebab aku sebel sama seseorang. Kalo udah mengandung kata sebel, berarti diriku nggak beres dong ya. Sebab nggak bisa mengatasi situasi yang nggak nyaman.

Kenapa sebel? Mari kujabarkan. Jangan-jangan aku-nya yang memang nggak becus menata hati.

Pertama. Aku lagi capek, males ngomong, trus ditanya-tanya. Dari mana? Aku: beli (semisal) kelapa. Ditanya lagi. Di mana? Aku: Di toko ABC misalnya. Ditanya lagi, Bro/Sis. Kelapa yang seperti apa?

Lihat? Apa kalian bakal terkena virus jengkel dalam sekejap? Atau memang akunya yang rentan karena ketahananku lemah?

Sejujurnya, aku paling nggak suka ditanya-tanya. Sebab aku nggak tertarik nginterogasi orang :P. Dan diberondong pertanyaan, terkesan kepoooo banget. Aku nggak suka dikepoin :D.

Kedua. Waktu ada temenku yang terkena musibah kecelakaan, komentar dia apa coba. "Aku pengen ketawa denger cerita dia."

Ketawa katanya! Teman kami meringis kesakitan trus dia mau ketawa????? Rasanya pengen teriak, hatimu mbok taruh di pantatmu ya?

Ketiga. Aku lagi kena Infeksi Saluran Kencing waktu itu. Jadi bawaannya beser. Dia tahu. Reaksi dia adalah: ngetawain. Nah! Apa karena aku sensi ya, kok jadi sebel? Mungkin akunya aja yang lebay ya? Ah, nggak tau lah. Bisa jadi iya. Anggap sajalah begitu.

Alasanku sebel: Kena ISK itu nggak enak banget. Beser, meriang, sakit perut. Dan sakit ISK itu kurasa bukan drama Tom and Jerry yang bisa diketawain sesuka hati. Sekecil apapun, yang namanya sakit tetep aja nggak enak. Kecuali sakit panu nggak terasa ya :P

Kan? Keliatannya aku yang sensi dan lebay. Mungkin kalo orang lain diketawain bakal balas ngakak juga.

Keempat.

Waktu itu aku beli timus singkong buat sarapan. Dia ta tawarin. Jawabannya: Nggak. Aku nggak suka manis-manis. Bisa bikin mules. Ekspresinya gitu itu deh. Seolah-olah aku makan timus busuk.

Ya udah nggak mau. Eeeeh, besoknya dia nyari kue itu. Langsung deh ta sindir. Katanya nggak suka. Katanya males. Katanya mules. Dia berkilah ini itu bla bla bla.

Bukan cuma perkara timus singkong. Hal-hal lain juga seperti itu. Aku rajin olahraga, diketawain. Berbulan-bulan kemudian, dia niru. Kalau ada yang kasih makanan, diendus-endus dulu. Pernah dia nitip makanan, ya ampun. Ngeyel kalo dia lebih suka makanan di tempat yang biasa dia beli. Padahal aku juga beli di tempat yang dia maksud. 

Pernah juga waktu itu aku mau makan malam. Aku nggak pakek make up. Cuma bedak dan lipstik tok *catet. Dia juga sering liat aku dandan gitu. Tapi pakaianku emang beda. Hehehe. Sengaja aku pilih pakaian yang paling cocok buatku :P. Komentar dia nggak ngenakin. Sampe temenku bilang, "Kamu tuh iri yaaaa."

Nah berdasarkan sekelumit kisah tentang dia(kalau semua dicritain nanti jadi berjam-jam ngeblognya hehe), pantas nggak ya, kalo aku sebel? Sementara ini aku berusaha berpikir, nggak pantes sebel. Soalnya mustahil semua manusia asyik ya :D. Tapi usahaku berpikir seperti itu suka kalah dengan rasa sebel hihihi. 

Semoga kesebelanku nggak berlangsung lama. Semoga cuma sejam dua jam saja :D

Wednesday, 16 April 2014

REUNI, DIMUAT MAJALAH CHIC edisi 164 (2-16 April 2014)


REUNI


Dari balik kaca taksi, aku bisa melihat deretan gedung perkuliahan menjulang angkuh. Jalan-jalan kecil berpaving berpola melingkar, diapit pohon-pohon palem dan bunga kecil-kecil berwarna ungu menciptakan sensasi ketakjuban tersendiri. Kampusku dulu. Sudah berubah drastis. Aku menarik kepala, kembali fokus ke depan. Sebentar lagi. Feeling-ku mengatakan sebentar lagi lembar-lembar masa lalu akan dimulai. Perutku jadi mulas.
Pada sopir taksi aku berkata, “Berhenti di depan tenda putih.” Taksi bergerak melambat. Aku menelan ludah. Dari sini sudah kudengar gelak tawa juga dengung obrolan merambati udara. Mendadak aku tidak ingin turun. Khawatir bakal bertemu lagi dengannya. Apakah dia ada di sana? Bagaimana kalau aku nanti jika kami saling menatap? Aku mengernyit ngeri.
“Ibu, benar di sini tempatnya?” Sopir taksi berpaling menghadapku.
“Ah..,” Aku menjilat bibir, “yup. Benar.”
Kegugupankanku teralihkan oleh nominal argo yang berkedip-kedip merah di dashboard. Setelah menyerahkan sejumlah uang, juga menarik napas panjang, sekaligus memotivasi diri sendiri bahwa ini cuma pesta reuni biasa, tanganku mantap membuka pintu. Dengan jantung berdegup keras, aku melangkah menuju tenda putih itu.
oOo
“LILI!”
Aku tersentak. Windi. Oh, mau tak mau aku ternganga. Windi, si model kampus nan langsing di masa lalu, kini sudah berubah. Lemak sudah menjangkiti tubuhnya. Tapi dia masih memesona seperti dulu. Windi meletakkan minumannya dan menyeretku ke tengah kerumunan.
“Friends, lihat! Si cewek barbie ini masih sama seperti dulu!” Dia mengumumkan.
Kesenyapan tercipta. Berpasang-pasang mata menumbukku bersamaan.
“Ya ampuuun! Cantik banget!” Deva buru-buru mendekat. Tangannya mengusap-usap pipiku.
Dalam sekejap aku sudah terlibat dalam obrolan ringan dengan pertanyaan ulangan yang sepertinya akan terus meneror. “Kapan menikah?”. Bagaikan artis, kujawab pertanyaan tersebut berkali-kali. Memperhatikan riuh canda di dalam tenda, kusadari begitu cepat waktu melaju. Rasanya baru setahun lalu aku berada di tempat ini bersama mereka, berkutat obrolan seputar tugas kuliah sambil jajan batagor murahan. Kini waktu melemparku kemari. Sementara aku masih berstatus sama seperti dulu, teman-temanku kebanyakan telah bertransformasi menjadi bapak dan ibu.
Di pintu keluar, lima dosen bergerombol, bercakap-cakap dengan para alumni. Aku tak ingat siapa mereka. Mungkin angkatan setelahku. Seharusnya aku bersalaman dengan dosen pembimbingku, Bu Galuh. Tapi ah, nanti saja.
“Lili?”
Secara otomatis aku berbalik. Dan di sanalah dia berada. Tatapan kami beradu. Bibirnya melengkung menciptakan senyuman canggung. Kakiku seperti terbenam ke kolam lumpur. Aku terpaku.
“Apa kabar?” Dia mendekat, menyalamiku.
“Sangat baik.” Aku mengangguk beberapa kali, berusaha menyembunyikan kegugupan.
“Lili makin cantik ya? Dia seperti princess disney hijrah kemari,” kata Deva.
Celetukan Deva memicu komentar-komentar lain. “Iya. Kayak artis,” Ryan mengamatiku dari bawah, terus ke ujung kepala.
Aku terkekeh. Dari sudut mata, aku bisa melihat dia mengawasiku. “Masa? Kamu juga makin ganteng.” Aku membalik umpan.
“Gendut apa ganteng? Sama-sama berawalan ‘g’ nih?” balas Ryan. Ledakan tawa membahana.
“Kalo Ryan sih lebih tepatnya gentong, Li,” kelakar Merta.
Aku tertawa.
Dia yang sedari tadi diam, menarikku duduk. Sentuhan jemarinya. Berdampingan dengannya. Menciptakan sensasi aneh yang membuatku ingin melarikan diri ke dunia lain yang tidak terjamah olehnya.
“Kamu belum juga menikah?”
Aku mengedikkan bahu. “Seperti yang kamu lihat.”
“Kenapa?”
Kenapa katanya. Beberapa menit aku berpikir. Kenapa. Jawabannya adalah aku tidak tahu. Tuhan belum menakdirkan menikah. Harusnya dia bertanya pada Tuhan. Bukan padaku. “Belum ada yang sreg aja.”
“Aku minta maaf.” Dia memandangku seakan-akan aku anak kucing persia yang dianiaya.
Aku mengibaskan tangan. Tertawa. “Maaf untuk apa? Nggak ada hubungannya denganmu,” sahutku sok santai.
“Setelah kita, emm, berpisah, pernah mencoba membuka hati lagi?”
Aku mengembuskan napas banyak-banyak. Kenapa aku harus diinterogasi begini? Dia masih sama seperti dulu. Memperlakukanku seolah-olah aku tak berdaya.
“Itu sudah menjadi urusanku. Bukan urusanmu lagi,” tegasku. Intonasiku berubah tegang. Oh, jangan bahas itu lagi.
Dia memegang kedua pundakku, memaksa badanku menghadap ke arahnya. “Akan jadi urusanku kalau kamu seperti ini gara-gara aku,” bisiknya.
Bulu kudukku merinding. “Jangan konyol!” Aku melotot.
Dia hendak bicara lagi namun kehadiran Ryan mencegahnya. “Kalian ini, reunian kok serius amat. Anakmu nggak ikut?” Ryan duduk di sisinya.
“Nggak. Lagi lengket sama papanya. Habis dibeliin kelinci.” Dia berkata. Posisi tubuhnya sekarang condong pada Ryan.
Oh, dia sudah punya anak. Bagus kalau begitu. Seharusnya kalau sudah memiliki anak, dia tak perlu lagi repot-repot memikirkanku. Bukankah kehadiran anak sudah cukup menyita pikiran? Seperti ibu-ibu yang jangankan berdandan di rumah, mengganti daster saja sepertinya tak sempat. Lantas kenapa dia masih sibuk membahas masa lalu? Hei, ini sudah delapan tahun.
“Li. Nunggu apa? Ayo cepetan nikah,” Ryan nyengir.
“Dia masih trauma dengan masa lalu kayaknya,” dia berkata.
Dahi Ryan berkerut. “Oya? Dikhianati pacar, Li?”
Sialan! Lagi-lagi hal ini dibahas. Oke, aku tak tahan lagi. Secara otomatis aku berdiri. Meja snack adalah tujuanku. Aku ingin melahap semua yang terhidang. Sebal ternyata bisa menimbulkan kelaparan hebat. Dan sudah pasti, semakin lama aku berdiam di sisinya, maka perutku bakal melilit.
“Lili! Mau kemana?” Suaranya berusaha menahan.
“Aku lapar,” sahutku terus melangkah tanpa menoleh.
Aku mencomot risol lalu menyurukkannya ke mulutku. Lelehan mayones bercampur rajangan daging asap lumer di lidah. Perasaanku membaik. Di sebelah barat, teman-temanku bercanda dan berceloteh. Aku terlalu malas bergabung bersama mereka. Dia masih asyik mengobrol dengan Ryan. Ah, seharusnya aku tak usah kemari. Dia belum juga berubah. Caranya bertanya. Memangnya aku ini gadis paling sengsara sedunia apa? Aku juga tidak menyukai cecarannya.  Bahasa tubuhnya. Pokoknya cara dia memperlakukanku. God, I’m sick.
“Li, ngapain berdiri di situ aja? Yuk gabung sama yang lain,” Nadia si jenius mengambil mini burger.
Aku tersenyum masam. “Kayaknya aku harus pulang. Rada pusing nih,” aku memegang kepala. Pura-pura.
Nadia berhenti mengunyah. Malah memelototiku. “Waduh, jangan pulang sendiri dong. Minta anter Lexi tuh.”
Aku menggeleng kuat-kuat. “Telepon taksi aja.”
Nadia tak mengubris. Sebaliknya dia malah melambai. “Lexi! Lili mau pulang nih. Sakit katanya.”
oOo
Mungkin karena terlalu malu melongok pada kejadian delapan tahun silam, itulah sebabnya aku resah selama reuni berlangsung. Tidak akan merasa tak nyaman begini, kalau dia tutup mulut. Menganggapku manusia baru. The new Lili. Toh, perasaanku terhadap dia sudah tak lagi sama.
“Agak ngebut nggak apa-apa? Pukul sembilanan kan reuninya selesai. Aku harus balik ke sana cepat-cepat.” Suaranya menyibak keheningan.
“Terserah,” sahutku lelah.
Kesunyian membentang di antara kami. Aku dilanda kecanggungan akut.
“Aku tau kamu nggak pusing,” katanya datar.
Aku tak menjawab.
“Kamu masih dendam sama aku?”
Itu lagi. Tekanan darahku naik selevel. “Lexi! Bisa berhenti ngomongin itu?”
Mendadak dia meminggirkan mobil lalu menginjak rem, membuat kepalaku terhentak ke depan. “Jadi kamu masih menyalahkanku?” Dia menoleh, menatapku lekat.
“Aku bilang stop! Apa efeknya bahas itu terus? Aku bakal sangat terbantu kalau kamu diam. Tidak mengungkit masa lalu!” Aku mulai marah.
“Terus kenapa kamu masih seperti ini? Nggak menikah, nggak menjalin hubungan dengan pria?” Air matanya menggenang. “Aku selalu merasa bersalah padamu, Li.”
Kualihkan pandangan ke jalan raya. Lalu lalang kendaraan masih saja membuatku merasa makin putus asa. Kenapa dia masih belum percaya juga? 
“Keputusanmu sudah benar, Lex. Menikahi suamimu. Tentang aku, karena memang belum ada yang pas di hati. Bisa dimengerti nggak sih?” cerocosku tak sabar.
“Apa yang harus kulakukan untuk menebus semuanya? Aku nggak mau kamu terus-terusan terluka, Li. Harusnya aku menolak dijodohkan waktu itu.” Suaranya bergetar karena isakan.
Astaga! masih ngotot rupanya. “Lex, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Aku baik-baik saja. Lihat!” Telunjukku teracung pada wajahku.
Dia menggeleng. “Aku masih nggak yakin,” ucapnya lirih.
Oh, Tuhan! Mataku berputar kesal. “Aku bukan Lili delapan tahun yang lalu, Lex. Penampilan aja yang masih feminin. Tapi tentu saja aku sudah ber-u-bah!” Aku nyaris berteriak.
“Lusa aku balik ke Bali.”
Aku berpaling padanya. “Terus?”
“Boleh aku memelukmu?” Dia memohon.
Reflek aku membuka mulut. “Lexi. Please. Aku sudah bukan Lili yang dulu.”
Dia menatap setir. Sedetik kemudian dahinya sudah menempel di sana. Tampaknya dia frustasi.
Aku jadi iba. Apa aku terlalu keras kepadanya? Apa dia kecewa? Bukankah kenyataanya kami memang tak mungkin bersama? Kalaupun bisa, di mana kami akan melanggengkan hubungan kami? Luar negeri? Yang benar saja. Keluargaku bisa kena stroke mendadak. Aku juga sudah mengubur kenangan itu. Tak ada gunanya dikorek lagi.
“Lex, cintailah suamimu. Aku masih sayang sama kamu. Tapi ... Sayang sebagai teman,” ujarku pelan. Ingin aku membelai rambutnya yang masih cepak. Aku tak melakukan. Khawatirnya menimbulkan persepsi yang berbeda.
Dia mengangkat kepala, menumpukan kedua lengannya pada setir. “Yah. Teman,” dia tersenyum getir.
Dia menghidupkan mesin. Mobil melaju, berbaur dengan keramaian penghuni jalan raya. Dia tak lagi bicara. Demikian pula diriku. Dan aku berharap, berikutnya dia tidak lagi membahas tentang hubungan kami delapan tahun silam. Aku sudah jauh melangkah maju. Dan tak ingin lagi menoleh ke belakang. 



JAGA KECANTIKAN DIRI, JAGA LINGKUNGAN

Jerawatan? Wajah kusam? Itu adalah masalah kulit saya sejak SMA. Kalau cuma kusam masih lumayan lah. Yang membuat tidak percaya diri adalah ...