Wednesday, 19 February 2014

SMS (NASKAH GADO GADO DI FEMINA. Nggak tau edisinya :P, pokoknya Februari)



Siang itu aku baru pulang jalan-jalan. Mia, teman kosku, keluar kamar dengan mata  sembab. Dia melenggang ke kamar mandi. Tumben Mia si Ratu Cerewet ini sedih? Biasanya dia paling heboh di kos-an. Mengingat orangnya lucu, gampang ketawa, dan kalau terttawa, cetar membahana sampai terdengar ke rumah tetangga. Sebagai sahabat, aku mencoba menghibur. Habis ganti baju, aku main ke kamar dia. Mia lagi tiduran sambil selimutan.
Singkat cerita, kami mulai ngobrol.
“Ibu abis nelpon. Katanya kemarin lusa nemu SMS di hape Ayah. Dari cewek.” Ia menjelaskan.
“Kok bisa tau kalo cewek?” tanyaku .
“Dari isi SMSnya. Masa SMS Ayah trus bilang, ‘Selamat tidur, Mas. Mimpiin aku ya. Beneran kangen kamu.’ Kan dari cewek? Lha wong panggil ‘Mas’? Apalagi akhir-akhir ini Ayah suka pulang malem. Alasannya sibuk di kantor. Aku kasian sama Ibu.” Air mata Mia menitik lagi.
Aku tercengang sesaat. Duh, kasian amat ibunya Mia. “Trus, ayahmu bales nggak?”
“Hapenya keburu diambil Ayah karena mau berangkat ke mana gitu. Untung Ibu udah nyatet nomernya. Kata Ibu, ntar sore mau ditelpon tuh cewek. Sekarang Ibu masih repot jualan. Aku juga minta nomer cewek itu tadi.” Mia memeluk bantal Spongebob-nya lebih erat.
“Kenapa nggak kamu aja yang telpon? Daripada galau mellow nggak melakukan apa-apa?” Aku mulai mengompori.
Bukannya menurut, Mia malah duduk tegak. Matanya berbinar-binar layaknya habis ditetesi obat mata anti-iritasi. “Nah! Gimana kalo kamu yang telpon?” tanyanya penuh semangat.
Aku kaget. “Kok malah aku? Itu kan urusan keluargamu? Aku nggak mau ikut-ikut ah.” Aku mengelak.
Mia nyengir jail. “Kan kamu pinter debat. Ayo lakukan! This is an order!” Ia menyerahkan ponselnya padaku. “Tinggal tekan nomor, ‘GILA’, di situ. Aku menamainya begitu.”
Aku masih bersikukuh. “Nggak mau!” Kepalaku menggeleng tegas.
“Harus mau! Kamu nggak mau bantuin sahabat sendiri apa? Kamu mau aku dan Ibu sakit karena penasaran?” bentaknya judes.
Buset! Kalau tak lagi ada masalah, sudah kujitak anak ini. Mau tak mau aku menerima ponsel tersebut. Setelah mencari-cari di daftar kontak, aku mulai menelepon.
“Halo.”
Aku kaget. Lho, benar? Suara cewek! Aku bingung mau bilang apa.
“Halo. Ini siapa ya?” tanyaku sangsi.
“Lho? Adik ini siapa?” Ia balik bertanya dengan lembut.
“Anda yang SMS ayah saya! Dasar wanita penggoda!” Aku mencoba mengomel.
Hening sejenak. Telingaku menangkap suaranya memanggil seseorang, entah siapa. Aku menunggu. Lalu ada suara dengung obrolan. Aku masih menunggu.
“Maaf, Dik. Adik ini masih sekolah? Ayah ibunya ada? Saya mau bicara,” katanya.
Makin bingung aku. Tiba-tiba Mia terkikik. Kan obrolan kami di loudspeaker jadi dia mendengar semuanya. “Suaramu kayak anak-anak,” bisik Mia sambil memegangi perut.
Sialan! Pantesan! Jangan-jangan aku dikira anak SD lagi.
“Bicara sama saya saja!!” balasku gemas.
Hening sejenak.
“Halo? Dik, itu tadi istri saya. Nama saya Kabul.” Sekarang yang bicara cowok berlogat Jawa.
Aku melongo. Terus hubungannya apa? “Kenapa istri Anda SMS ayah saya?” tanyaku tegas.
“Maaf. Salah kirim. Istri saya salah nomer. Saya kan pergi ke Bojonegoro. Baru tadi malam datang. Maaf, Dik. Istri saya keliru.” Mr. Kabul menjelaskan, suaranya terdengar agak ketakutan.
Spontan Mia ngakak sejadi-jadinya. Kurang ajar! Sekarang yang gantian malu malah aku.
“Ya udah kalo gitu. Maaf, Pak ya. Sampaikan salam buat Ibu, saya minta maaf,” kataku tak sabar ingin segera menutup telepon.
Untung Mr. Kabul tak marah. Sementara Mia masih guling-guling terpingkal-pingkal. Iiiihhh, ingin aku siram dengan air mineral deh.
“Lain kali, aku nggak mau diminta melakukan hal-hal semacam ini!” ujarku sengit.
“Halah! Ketawa aja deh! Lucu kan, ya kejadian tadi?” balasnya cengar-cengir.
Iya sih, lucu tapi memalukan. Tapi biarlah, sudah kadung. Jadi malam minggu itu, kami tak henti-hentinya membahas Mr. Kabul sambil ketawa-ketiwi.




DAY 1: CALON NOVEL YANG NGGAK TAU ISINYA APA

Seperti yang sudah kutulis sebelumnya. Aku ingin bikin novel tebel. Aku tahu apa yang akan kuceritakan, tapi belum tahu premisnya apa.

Kemarin aku mewawancarai karakter novel.Orang? Bukan. Aku nulis di MS Word, ada poin pertanyaan, ada jawaban. Satu karakter aja udah menghabiskan 10 lembar sendiri. Dan kayaknya masih kurang juga. Fiuhhh! Bisa-bisa aku bikin 100 halaman isinya karakter semua ya hehe.

Tapi nggak apa-apa. Aku enjoy mewawancarai karakterku. Sangat enjoy sampai lupa diri. Saking jatuh cintanya aku pada tokoh utama novel ini, kemana-mana aku ingat dia. Jalan pagi, makan, tidur, dia ada di mana-mana.

Kemarin aku pusing berat. Mauku sih nerusin wawancara sama si "A" itu. Tapi apa daya, kepalaku migren. Ya sudah, aku baca buku aja semalam. 

Aku nggak tau apakah proses ini akan berjalan cepat atau lama. Kalo aku sih nggak mau buru-buru. Mauku semua berjalan maksimal. Karakternya jadi dengan maksimal adalah prioritas pendekku saat ini.Kalo yang lain-lain, aku belum tahu. Seperti yang udah aku bilang, aku nggak tau jalan ceritanya bakal gimana,meskipun sudah tahu apa yang bakal kuceritakan. 

Apakah beneran tebel? Belum tau. Kayaknya memang bakal tebel. Banyak adegan yang ingin aku masukkan. Apakah sama dengan dua buku sebelumnya? Beda banget. Yang ini novelnya sangat serius. Kenapa aku menulis novel serius? Nggak tau juga haha. Aku cuma ingin menyampaikan apa yang terpikir di kepala saja.

Semoga berjalan lancar. Kalopun tersendat, semoga aku tetap keukeuh menyelesaikannya. Gampang, tersendat, susah, bukan sesuatu yang perlu dipikir terlalu mbulet ya :). Susah dan sulit itu sudah seharusnya seperti itu. 

Kayak pas aku bikin 50 kumdong "baik-baik" itu. SUsah awalnya, jadi mudah karena disupport seorang teman. Jadi sulit pun sebenarnya bisa jadi mudah. Haish, apaaaa coba :P

Ya sudah itu aja :)

Wednesday, 12 February 2014

SHEILA (PERCIKAN GADIS NO. 01, 03-13 JANUARI 2014)









Apa? Nggak bisa nganter? Wajah Sheila seketika berubah masam setelah membaca pesan dari BBM. Segera ia menelepon.
“Kok mendadak nggak bisa sih?” Semprotnya to the point.
“Iya sori. Ibu mendadak minta anterin belanja,” Ryan, pacar Sheila di tempat lain, mengusap dahi. Hatinya mengingatkan, bohong lagi nih.
“Berarti aku harus berangkat sendirian ke ulang tahunnya Zeva?” Sheila merengek. Matanya yang sudah dibingkai eyeliner hitam mulai berkaca-kaca.
Ryan menggaruki kepalanya yang jelas-jelas nggak gatal. “Ajak siapa gitu. Kan ada sepupumu. Siapa namanya? Marsha ya? Kenapa nggak sama dia aja?”
Sheila bergidik. “Ngajak Marsha? Duh! Ngapain juga aku pergi sama cewek kampungan gitu. Mendingan juga sendirian daripada barengan ama dia!”
Ryan tersenyum. “Tapi kayaknya dia asik.”
Sheila bagai diterjang gelombang tsunami. Ia meradang. “Asik? Asik dari mana? Jelas-jelas Marsha itu kutu buku! Sok pinter! Nggak gaul! Dia juga pergi nggak tau kemana!”
“Jangan gitu. Bagaimanapun, dia sodaramu.”
“Nggak usah nasihatin perkara Marsha deh! Ini aku gimana mau ke ulang tahunnya Zeva?” Sheila menjejak-jejakkan kaki dengan gemas ke lantai kamar.
“Ya udah berangkat sendiri aja kalo gitu,” Ryan menenangkan.
“Masalahnya aku udah pamer kamu ke temen-temen. Aku ceritain tentang kamu dan hubungan kita. Mereka penasaran sama kamu. Trus kalo kamu nggak datang, ntar aku ditanya-tanyain, gimana doooooongggg?”
Ryan melongo. “Pamer? Baru sebulanan jadian kok udah disebar-sebarin sih, Shei?”
“Emang kenapa? Masalah? Kan kamu pacarku. Temen-temen penasaran dong. ‘Shei, cowok yang suka jemput kamu kalo pulang sekolah itu siapa? Cakep banget.’ Gitu. Masa aku nggak mau ngaku? Akhirnya aku ceritain semuanya.”
Ryan menarik napas panjang. “Hmm. Mau gimana lagi. Eh, udah ya. Aku mau nganter Ibu dulu.”
Sheila mendelik. “Tungguuuu! Sambil telponan doooonggg!”
“Sungkan sama Ibu lah, Shei,” gantian Ryan yang protes.
“Kamu nggak sayang aku ya? Udah berangkat ke ulang tahun Zeva sendirian! Kamu batalin janji! Kamu nggak kasihan apa?”
Biasa aja tuh, Ryan membatin. Tapi mustahil dia mengatakan seperti itu. Sheila bisa histeris. “Gini aja deh, Shei. Mendingan barengan sama Marsha biar kamu nggak sendirian. Bagaimanapun, ada temennya lebih enak.”
“Marsha lagi, Marsha lagi! Udah aku bilang, aku benci sama cewek itu!” lengking Sheila.
“Aneh deh benci sama sepupu sendiri,” Ryan menggumam.
“Kamu nggak tau sih. Di rumah, dia selalu dipuji Mama Papa. Yang sederhana lah. Nggak suka ngabisin uang lah. Bla bla bla. Dik Nino juga lebih lengket ama dia ketimbang aku. Nyebelin! Mana dia penampilannya ndeso lagi. Pokoknya aku nggak mau barengan ama dia!”
“Gini aja. Setengah jam lagi aku telpon kamu. Nggak enak sama Ibu, Shei. Ntar kan kalo belanja, Ibu sibuk sendiri tuh. Baru aku telpon. Gimana?”
Sheila mendengus. “Janji lho!”
“Iyaaaa. Kalo aku bohong, misscall aja ntar.”
Sheila menekan tombol merah. Di tempatnya, Ryan juga melakukan hal serupa. Sheila pun akhirnya berangkat seorang diri ke ulang tahun Zeva. Di tempatnya, Ryan tersenyum pada sosok cewek berambut sebahu yang sedari tadi tersenyum memperhatikan Ryan teleponan.
“Ternyata dia keukeuh sama perasaannya. Tetep benci sama aku,” cewek  itu berkata.
“Ceritamu bener. Nggak nyangka kalo watak Sheila seperti itu. Sabar ya, Marsha,” Ryan menimpali.
“Makanya, kadang aku nggak betah tinggal di rumah Om Bagio. Sheila suka jutek. Tapi mau gimana lagi. Aku harus melanjutkan sekolah. Orang tuaku udah nggak ada. Mungkin kalo udah lulus SMA aku mau kerja dulu. Ngumpulin uang buat kuliah. Biar nggak membebani orang tua Sheila.”
“Salut sama kamu. Gimana kalau Sheila tau ya, aku jalan sama kamu? Pasti dia bakal semaput,” Ryan berkata seraya menggigit kentang goreng.
“Dan dia pasti bakal sejuta kali lebih membenciku.”
Marsha dan Ryan terkekeh. Mereka terus mengobrol hingga beberapa jam ke depan, nggak mempedulikan jeritan handphone Ryan yang terus-terusan berbunyi.







Tuesday, 11 February 2014

AKHIRNYA 50 DONGENGKU SELESAAAAAIIIII!

Hari ini bahagia lagi. Hihi. Sebab... 50 dongeng sudah kuselesaikan. Tadiiiii sudah aku email ke editornya. Lega lega lega.

Aku ngerjainnya berapa lama ya? sebulanan kurang kayaknya. Sebenarnya 2-3 minggu sudah beres. Cuma ada beberapa yang perlu dibongkar pasang :). Menyesuaikan dengan tema bukunya.

Aku nggak tau, 50 dongeng dalam waktu sebulan kurang itu termasuk cepet apa lelet. Dulu aku pesimiiiis. Bisa nggak nulis buku anak seperti ini. Soalnya dari beberapa buku yang sudah ada, aku nggak yakin bisa.

Aku kalo nulis cernak suka yang aneh-aneh. Nulis konflik lurus-lurus itu malah jelek jadinya. 

Ide ceritanya dari mana aja? 
Macem-macem. Dari Harry Potter. Nah kok bisa? Hehehe. Bisa aja buktinya :P. Dari dongeng klasik Cinderella. Dari kehidupan sehari-hari yang dominan.

Kalo kata editornya sih, kayak dongeng buku impor. BUKAN KATAKU, catet! Dan aku, nggak bermaksud menulis seperti itu. Udah bawaan tangan. Karena kalo nulis cerita, aku dikelilingi oleh aneka buku anak.

Dan gara-gara nulis buku ini, beberapa orderan dari penerbit aku tolak. Aku cuma ingin fokus. Aku harus total kalo mengerjakan sesuatu. Biarin bukuku cuma seuprit. Aku cuma ingin melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh.  Apa yang aku tulis, harus bisa menghibur dan bermanfaat buat pembaca. Bermanfaat itu mudah. Tinggal kasih ceramah aja. Tapi menghibur? Bukan perkara gampang buatku.

Setelah fabel ini selesai, rencananya aku mau leha-leha dulu. Belajar. Tapi tetep nulis dong ya. Aku kepingin nulis novel yang tebel. Dan aku mempersiapkannya untuk itu. Jadi sementara, belajar sambil sesekali nulis ke media. 

Semoga bisa lebih berkualitas ya tulisanku. Dan semoga teteeeeep semangat! Semangat itu rezeki. Bayangkan hidup tanpa semangat. Ya nggak :)
 

COMING SOON: TEROBSESI PADAMU



Judul hari ini adalah... SELASA KEJUTAAAN! Karena:

1. Habis diemail editor. Isi emalnya tentang cover buku yang coming soon.
2. DiSMS Mbak Ratna Femina. Naskahku mau dimuat di rubrik Gado-gado minggu ini.

Rasanya kepingin senyum selama sebulan hehe. Lebay? Kalo kejadian ini menimpa kalian pasti bakal merasakan hal yang sama. 

Tadi juga sempat liat Facebook movie. Aduh, terharuuuuu sekali. Ada zamannya aku nulis cerpen, postingan-postinganku ada beberapa yang disorot. Aih, keren ya, Facebook ini. Kok bisaaaa coba? Milih-milih post-post yang nyentuh begitu.

Oya. Novel yang covernya ijo royo-royo ini adalah teenlit pertamaku. Isinya umum banget. Ada pacarannya, TAPI, aku punya alasan mengangkat tema pacaran. 

Pertama, pacaran di sini bukan yang romantis-romantisan.
Kedua, pacaran di buku ini aneh. Haha. Nah, keanehan si cowok dan kebodohan si ceweklah yang aku tekankan. 

Gaya bertuturku lucu. Sebab novel ini aku tulis pas aku galau. Ibuku habis meninggal. Jadi yaaa, kalo nulisnya serius, tokohnya serius, ceritanya berurai air mata, dijamin kegalauanku bakal naik ke level sejuta. 

Nah, tokoh di sini namanya Selina. Oon dia tuh. Hahaha. Iya beneran. Si cowok namanya Ezra. Cowok aneh. Ada pula teman-teman Selina yang konyol abis. Sebenernya temen-temen Selina itu manifestasi dari temen-temen deketku. Hehe. Tapi Selina bukan aku lho ya. Jangan sampe deh...

Jujur, pas liat cover novel ini, aku berkaca-kaca. Akhirnya ya, bukuku ada di tobuk lagi. Walaupun aku masih belum puas. Aku masih ingin menulis buku yang tebel.

Prosesku menulis sejak awal bukan terbilang mudah. Yang meremehkan ada, yang mendukung juga ada. Yang meremehkan bukan orang yang jarang ketemu aku (sepengetahuanku). Mereka justru, orang yang kenal baik denganku. Down, itu jelas. Kaget aja, kok di belakangku mereka seperti itu. 

Tapi tapi... Lambat laun aku belajar melupakan. Kalo yang diingat pas 'mereka' ngomongin, sakit hatinya nggak ilang-ilang. Tapi kalo aku mikirnya: mereka belum yakin kalo aku mampu, itu akan jadi trigger buatku.

Yang mendukung dan yang tidak, buatku sama-sama jadi penyemangat. Aku berterima kasih pada semuanya. Tanpa mereka, aku nggak bakal berusaha keras. Ya kan?

Asal kalian tahu, tokoh Selina di novel "Terobsesi Padamu" ini nyata. Dia temenku, bukan sahabatku. Dia menyebalkan. Hanya saja karakternya aku ubah sedikit. Tuh kan. Orang nyebelin bisa jadi cerita. Coba kalo nggak ada tokoh Selina, nggak bakal jadi novel ini.

Apalagi ya? Mmm, udah gitu aja. Eh, itu nama pengarangnya kudu diedit. Kalo buku kan aku pakek nama Widya Ross:). Baiklah, semoga kebahagianku menular pada semuanya. Aamiin 3x

Friday, 7 February 2014

KECEPLOSAN ATO SENGAJA?

Aku nggak percaya dengan "keceplosan" alias nggak sengaja nyeplos. Emang ngigau apa nggak sengaja? Jauuuuuhhh sebelum nyeplos itu keluar dari bibir, jauuuuh di dalam hati juga pasti ada keinginan kuat ingin mengatakannya. 

Aku punya temen. Cewek. Tipe cewek pendiam, kelihatannya. Aku nggak mau menggambarkan detailnya kayak apa, dia ini. Pokoknya, sepintas, sekelebatan, sekilas, dia itu superbaik.

Nah. Suatu ketika kami hang out. Aku emang jarang hang out bareng dia, karena, yah... Merasa insecure aja. Ealah, gimana tadi dibilang baik. Hahaha. Iya memang baik. Tapi nggak tau ya. Nggak nyaman aja. Seperti mau masuk ke rumah mewah, tapi kitanya nggak sreg. Ada kan, kadang, perasaan seperti itu.

Ok. Dari awaaaaal papasan wajah, aku udah nyesel mati-matian. Eh, kenapa tadi aku keluar sama yang ini? Kenapa nggak temen yang lain? Mendadak kepingin kabur tanpa noleh ke belakang hihi. 

Apa pasal? Opening obrolan kami sudah menjurus pada masalah pribadi orang lain. Bukan masalah pribadi lagi. Tapi ke aib masa lalu. 

Ngomongin si A, B, C, D. Ujung-ujungnya membahas masalah pribadi temen baik kami. Dan dia nyebut-nyebut kata "keceplosan". Ya iyalah gimana nggak mau keceplosan. Selama hang out dia mendominasi pembicaraan. 

Dia yang tampak seperti boneka barbie berhati lembut, modis, berwajah cantik, tiba-tiba di hadapanku jadi manusia ular. Lidahnya bercabang. Dan aku berkali-kali menggeleng dan mengelak kalo dia menginterogasi kehidupan pribadiku. 

Aku termenung berkali-kali. Di sini ini apa aku yang goblok? Sudah eneg sama dia. Apa hatiku yang keruh, karena nggak nyaman bareng dia. 

Nggak tau lah. Yang jelas pasca kejadian itu aku memilih membatasi. Tetep berteman, tetep saling sapa, tapi nggak mau terlalu intens juga. 

Yang lucu lagi, kalo dia curhat, aku diinstruksi jangan cerita ke siapapun. ya jelas lah. Emang apa urusanku apa, ngumbar masalah pribadi orang? Emang aku infotainment kelas kotamadya?

Dia begitu takutnya masalah pribadi dia tersebar. Tapi dia enteng aja mengumbar masalah pribadi orang lain.

Sebentar, sebentar. Ini yang aneh aku, apa dia ya? Aku seringkali khawatir kesalahannya justru di aku. Karena suka ilfil sama dia. Yah, anggap saja aku yang salah ya. Karena ilfil. Aku yang o'on. Karena nggak bisa mengendalikan ilfil.

Tapi untuk saat ini, biarlah aku jadi orang o'on. Aku males hang out bareng dia lagi. Mungkin kapan-kapan. kalo ilfilku sudah ternetralisir.



Thursday, 6 February 2014

AKU BERSEMANGAT? NGGAK SELALU KOK.

Ngeblog lagi hehehe. Males mau ngelanjutin nulis. Otakku perlu leha-leha bentar 

Seringkali aku ditanya, "Gimana sih biar semangat terus?" Ada pula yang bilang. "Wid, semangatin aku dooooong."

Kenapa nanya ke aku ya? Kenapa lapor padaku ya. Hahaha. Apa dikiranya hatiku dilapisi plasma anti-down? Apa dikiranya selama ini aku wonderwoman? Hahaha. Nggak lah.

Kalau galau, jujur, jarang. Kalaupun galau, cepet pulihnya. Pulihnya biasanya bukan curhat. Kadang cuma ngobrol ketawa-ketiwi, sembuh deh. Kadang baca buku yang seruuu, sembuh deh.

Yang sering itu capek. Capek otak. Nah, inilah yang mencetuskan malas dan nggak semangat. Kadang ta turuti malas-malasan. Walopun pada akhirnya aku ngerasa bersalah. Kok aku males-malesan sih? Kan harusnya waktuku produktif, gitu.

Kadang kalo lagi bete, aku main-main ke rumah temen. Siapa sangka, di sana temenku juga bete. Curhatlah dia. Ya, mendengarkan masalah orang lain, bikin aku jadi lebih plong. Karena ternyata, ada yg jauuuuh lebih bete ketimbang aku.

Sering-sering belajar juga. Maksudku, dengerin ceramah. Yang paling aku suka itu kajian tentang mengenal Allah. Aduh, kalo pas bahas itu hati adeeeeem. Kadang denger kajian motivasi. Aku download MQ FM di android. Aku merasa butuh ilmu untuk mengendalikan hati. Habis dengerin itu, jadi semangat lagi deh. 

Sebelum tau hal itu, dulunya kalo bete cuma mengandalkan doa saja. Semoga yang ruwet dimudahkan. Semoga yang susah bagiku, digampangkan. Semoga aku mendapat kejutan manis.

Apakah aku emang dari sononya anak yang bersemangat? NGGAK! Aku ini anak bungsu. Usiaku dan kakakku terpaut sangat jauh. Jadi bisa kebayang kan, aku diperlakukan kayak apa? Dimanja habis-habisan. Yup, aku ini anak manja. Sensitif. Reaktif kayak bom hehehe.

Dulu aku cepet marah kalo ada hal-hal sepele yang mengganggu hati. Tapi makin lama, aku belajar cuek. Capek. Kalo hal remeh temeh dipikirin, yang karunia besar-besar nggak bakal terlihat. Susahkah berproses jadi cuek? Oh, banget!

Apalagi pas tau kalo orang-orang dekatku yang bermuka semanis permen lolipop, ternyata membicarakanku di belakang. Sebagai manusia normal, marah doooong aku. Sedihnya nggak ketulungan. Tapi setelahnya, aku belajar nggak peduli.

Aku ingat, pernah ada temenku hamil di luar nikah. Aku tanya, "Gimana kalau nanti kamu ditanya-tanya yang lain." Apa jawab dia? "Biarin." Enteng aja ngomongnya.

Nah. Dia aja bisa secuek dan sesantai itu, masa aku justru sebel? Justru marah? Dari situlah aku belajar nggak peduli. Mau diomongin model apa saja, aku nggak mau ambil pusing.

Namanya hidup, dikomentari itu pasti. Kecuali di dunia ini cuma aku sendirian, baru nggak ada yang komen. Sering-sering berpikir realistis membuatku juga lebih ringan. Nggak gampang gondok seperti dulu. 

Jadi kalo tentang gimana caranya supaya tetep semangat, semua kembali pada diri sendiri. Berusaha berjuang tetep semangat, atau justru membiarkan semangat itu pudar oleh rasa pesimis, malas, bete, dll.

Baiklah, aku mau bersiap untuk lari pagi dulu :)






KUE LUMPUR LABU KUNING

Bulan lalu aku janji mau ngasih resep Lumpur Labu. Sebelumnya juga janji ngasih Cake Pisang. Hihihi. Sementara Lumpur Labu saja yaaa. Maafkan kalo resep ini masuk ke label "Resep Simple" padahal bikinnya nggak simple.

Banyak resep sebetulnya. Tapi aku milih resep dari blog ini.Jadinya begini. Taraaa! 


Baik, aku copas.Check it out:

Bahan:

500 gr labu kuning (aku pakeknya 500 gr lebih)
250 gr tepung terigu (ta kurangi)
250 gr gula pasir
3 kuning telur
2 putih telur 
1/2 sdt garam
1 sdt vanilli
500 ml santan dari 1/2 butir kelapa (1 santan kara kecil trus ta cairkan)
100 gr margarin, lelehkan
1 lembar daun pandan, simpulkan
kismis secukupnya untuk toping (aku pakek coklat chips)

Cara membuat:
  1. Kocok telur dan gula hingga mengembang, masukkan labu kuning halus, aduk rata. Tuangi santan secara bertahap sambil diaduk rata.
  2. Panaskan cetakan kue lumpur, tuang adonan ¾ penuh. Tutup. Biarkan setengah matang, buka tutupnya, hias dengan kismis.
  3. Tutup lagi masak sampai matang. Angkat.

Awalnya aku ragu. Takut nggak jadi. Tapi ternyata jadi tuh. Dan SUPERLEZAT! Bapakku suka. Masku suka. Semua suka. Dua hari kemudian, aku disuruh bikin lagi. Hahaha. Emang lezat lho. Lembut-lembut gimanaa gitu. Coba deh :D

Monday, 3 February 2014

MANUSIA LUCU

Aku mau lari pagi. Tapi sambil nunggu kopi agak dingin, mau curhat dulu.

Ini tentang bukuku yang CURHATAN MANTAN CEWEK GEMUK. Kayaknya buku ini bikin senewen orang-orang sensi. Waktu itu aku lagi ngobrol-ngobrol. Awalnya becanda-becanda. Nah, kemudian salah satu teman, sebut saja namanya Bagus, bilang. "Subur-subur ya kita ini."

Temanku, Neni, nyeletuk. "Widya, ajarin dong biar kurus. Kan kamu bikin bukunya."

Nah, catet ya. Pas acara ngobrol nggak penting itu aku sama sekali nggak nyinggung-nyinggung perkara buku. Untuk teman-temanku yang "itu", aku juarang nyinggung tentang menulis karena mereka, ngg nggak tau deh. Hahaha. Tapi aku nyoba ngeblend. 

Oke lanjut. Belum sempat aku menjawab, temenku yang lain sudah nyolot. "Walaupun gemuk asal sehat!" katanya.

Kalian tahu reaksiku? Aku ngakak. Bukan, bukan ngetawain dia. Tapi ingat, aku dulu seperti itu. Aku dulu membohongi diri sendiri. Aku dulu jealous ngeliat orang langsing trus dipuji-puji di deketku. Aku jawab aja reaksi ketusnya dengan, "Aku diet kan karena pengen sehat." Eeeeh, dia nggak komentar lagi. Diem-diem begitu sarkas ya dia.

Lucuuuuu gitu. Diet tuh kayak nulis. Ada yang pro ada yang kontra. Percaya deh, sejuta persen. Kebanyakan yang merasa dirinya subur, pasti juga kepingin kurus. Tapi mau kurus emang nggak mudah. Aku juga ngerasain soalnya. 

Nggak masalah mereka bertahan dengan kesuburan mereka. Lha wong aku nulis buku ini untuk sharing kok. Dan menjadi gemuk, langsing, kuruss sekali, itu hak orang lain ya. Pilihan. Kenapa harus senewen? Buku ini juga bukan ditujukan untuk nyindir orang-orang subur. Ini tentang AKU! *catet!

Jadi kalo memang bertahan dengan kesuburannya, ya jangan jutek-jutek. Aku milih diet kan nggak ngembat makanan orang lain. Nggak ngabisin beras merah dia. Nganggep aku tersiksa? Believe me, aku justru harus selalu kenyaaaaang, kalo mau kurus. Makanya jangan asal ngomooooong kalo nggak tau. Hahahaha. Orang-orang tipe begini ada lho di bukuku.

Trus apakah aku tetep bertemen dengan orang-orang yang mencibir? Oh, harus! Mereka itu aset! Mereka itu ide nyata! RUGI kalo dijauhi. Berapa puluh kali naskahku dimuat media perkara orang-orang macam itu. Haha. Mereka darah tinggi, aku kipas-kipas honor. Life is beautiful indeed :D.

Nah, sekarang aku mau lari-lari sebentar. Biar langsing. Biar kalo ketemu orang-orang macam itu, ada yang nyolot lagi :P.

 

 

Saturday, 1 February 2014

CURHAT NGGAK PENTING

Siaaaang. Harusnya aku ngeblog resep masakan ya. Insya Allah minggu depan deh. Hari ini hasratku untuk curhat menggebu tiada tara.

Nggak tau kenapa aku masih toleran kalo ada orang minta buku gratisan. Apalagi itu orang dekat kita. Alasanku, mungkin mereka belum tau kalo kita cuma dapet 10 exsemplar. Mungkin mikirnya, solidaritas dooong temennya dikasih.

Tapi kalo sudah minta soft copy? WHAT?? SOFT-COPY?? Kalo anak SMP masih aku maklumi juga. Pikirannya kan masih ngalor ngidul. Tapi ini bukan abegeehh alaaay. Ini.... MANUSIA DEWASA.Pikirannya pastinya juga nggak ngalor ngidul.

Jadi pas ada yang ngomong gitu padaku, waktu seolah macet. Pikiranku campur aduk. Antara pengen ngakak, pengen ngatain, pengen meremove, memblokir sekalian. Nah, jahat kan aku? Tapi kejahatanku cuma di dalam hati. Tanggapanku adalah ngakak. You know what, aku kalau benci sama tingkah seseorang (ini tingkah lho, bukan orangnya), maka aku akan ketawa. Edan ya aku? Whataver!

Entahlah. Ngakak membuatku jadi berdamai sama keadaan. Ngakak membuatku merasa (perasaanku aja) lebih smart ketimbang sikap orang yang membuatku sebal. Lebih smart apa lebih edan? Wkwkwk. Whatever!

Terus terus...

Nah, terus, aku bilang aja kalo keberatan. Aneh lagian, minta soft copy. Mental bajakan. Nggak menghargai jerih payah orang lain. Yang nulis sampe puyeng, eeeh, minta soft-copy.. Soft-copy gundulmu a? Tapi hak dia juga sih. Aku nggak boleh berlarut-larut mikirin orang aneh macam itu. He's just one in a million *I wish. Nggak ada gunanya dipikirin.

Ini aku tulis di blog, karena mau ngasih tau. Hei, jangan minta-minta soft copy gitu lah. Kecuali cerpen mungkin ya... Ini buku. Bikinnya susah payah. Mikir, ngedit, begadang. Tiba-tiba dateng minta soft-copy. Serasa pengen ngelempar ke bulan aja *sorry*  

Udah itu aja. Aku mau ngetik cernak lagi. Ntar kalo buku yang cernak ini jadi trus ada yg minta soft-copy, tenan mau ta remove *jahat*.

JAGA KECANTIKAN DIRI, JAGA LINGKUNGAN

Jerawatan? Wajah kusam? Itu adalah masalah kulit saya sejak SMA. Kalau cuma kusam masih lumayan lah. Yang membuat tidak percaya diri adalah ...