Wednesday, 31 October 2012

TENTANG NONI

Kemarin-kemarin habis ditelpon Ibu. Seperti biasa, ada cerita baru di kampung. Anak tunggal dari tetanggaku yang usianya masih belasan, lagi disekap di Dolly Surabaya, mau dijadikan PSK. Sontak tetanggaku gempar. Kasak-kusuk menggema di mana-mana. Kayaknya semua orang menyalahkan Noni (sebut saja begitu), karena dia dicap "perempuan nakal". Suaminya ditinggal selingkuh dan sekarang statusnya adalah janda. Pokoknya, segala kesalahan ditimpakan pada Noni.

Jujur, aku kasihan sama Noni. Bukannya sok bijak berbelas kasih pada orang yang berbuat salah. Tapi aku melihat riwayat kehidupan dia. Aku ingat betul, anak ini nikah begitu lulus SD. Bayangkan! Dia menikah di usia sekitar 11-12 tahun. Tentu saja dia belum sempat mengenyam indahnya masa remaja. Dia terkurung di rumahnya, ngurusi segala tetek-bengek masalah rumah tangga, sementara suaminya, setauku, belum kerja waktu itu. Kalo mendadak dia selingkuh akhir-akhir ini, yah... Mungkin dia lagi mengidap masa puber. Bukannya aku membenarkan. Tetep salah. Tapi aku berusaha melihat dari sisi yang lain.

Perihal dia terjebak ke wilayah prostitusi juga bukan disengaja. Ada orang nawarin kerjaan. Katanya sih kerja di rumah makan gede. Ikutlah si Noni. Ndilalah kok disekap di kamar, makan minum cuma dikasih lewat lubang kecil di pintu. Beruntung hapenya nggak disita. Jadi Noni bisa nelpon ibunya di kampung. Dia nelpon sambil terisak-isak. Liat kan? Dia, TERISAK-ISAK. Artinya apa? Artinya dia juga NGGAK MAU.

Yuk Marni, ibu Noni, langsung minta tolong sama sodaranya yang jadi tentara. Noni pun berhasil ditebus dan kembali ke kampung halaman. Tapi tetap saja para tetangga hobi mencibir. Bukan cuma tetangga yang nggak sekolah. Tetanggaku yang udah lulusan universitas juga ikut-ikutan nge-judge. Ckckckck. Apa bedanya orang berpendidikan sama yang nggak sekolah, kalo melihat masalah dari satu sisi saja?

Wow! Rasanya pengen teriak, LIHATLAH MASALAHNYA SECARA KOMPLEKS! Kalo cuma main nyeplos: Dia salah, dia brengsek, dia nakal, dll, aku pikir anak kecil juga bisa ya. Tapi solusi itu yang penting. Nggak bisa ngasih solusi, mendoakan aja udah baik. Nggak ikut-ikutan ngrasani juga lebih baik. Daripada komentar sampe mulutnya berbusa-busa tapi nggak ada manfaatnya. Yang ada malah nambah-nambahin omongan.

Siapa sih yang mau nikah di usia muda? Siapa sih, yang rela putus sekolah? Zaman sekarang, aku rasa semua anak kepingin sekolah setinggi-tingginya. Semua kepingin jadi orang pintar. Tapi kalau nasib sudah berkata lain dan sudah terlanjur? Mau nyalah-nyalahin orang hanya karena fakta sekilas? Konyol banget!

Monday, 22 October 2012

Gerombolan Pelahap Maut



Aku punya koleksi orang-orang yang hobi membuatku geregetan. Sebentar, aku hitung dulu. Si K, Si R, Si F, Si A, Si N, dan Si Y. Enam orang. Dulu, mereka baik banget sama aku. Tapi seiring waktu, kok omongan mereka di belakangku mulai ngawur. Trus, beberapa kali aku beritikad baik, berusaha bersilaturahim ke tempat mereka masing-masing, sambutannya sedingin cuaca di malam hari kalo lagi kemarau. Eng ing eng...

Nyoba aku instropeksi diri. Salahku di mana? Apa? Dan aku belum menemukan di mana letak minusku terhadap mereka, karena aku juga jarang berkomunikasi dengan gerombolan pelahap maut itu. Ya sudah. Biarlah mereka bersikap menyebalkan, tapi aku berusaha ramah. Meskipun hatiku cekot-cekot.

Beberapa tahun berlalu, nggak ada perubahan. Yang ada malah aku diomongin macam-macam, via SMS. Saat itu aku sekadar menyapa si R. Yah, nyoba ngakrabin diri lah. Aku diceramahin. Dibilangnya, aku cuek lah, nggak peduli lah, sok sibuk lah, dan macem-macem. Baca SMS itu membuat mataku panas.

Hey! Yang nggak peduli siapa coba? Apa kalo aku sakit dia datang? Nope. Apa dia pernah mampir ke tempatku? Never. Apa dia menemuiku baik-baik kalo aku bertandang ke rumahnya? Nggak. Yang ada kalo aku dateng adalah: omongannya bikin aku pengen segera mangkir jauh-jauh.

Nah, suatu ketika, sebuah kejadian membuat semua gerombolan pelahap maut itu berkumpul melibatkanku. Di depan orang-orang terdekatku, sikap mereka semanis Panna Cotta. Aku muak luar biasa. Jadi pas kumpul-kumpul, aku berubah jadi superpendiam. Aku nggak bicara kalo nggak ditanya. Aku nggak memandang kalo nggak disapa. Aku nggak komentar atau tertawa, sekonyol apapun cerita mereka.

Temans, aku bukan tipe orang yang hobi memendam amarah. Semua orang tau aku nih nggak tegaan. Tapi untuk kasus gerombolan pelahap maut itu, kayaknya sifat "nggak tegaan" itu nggak berlaku deh. Jadi, daripada aku berkomunikasi bermanis-manis ria padahal sebenarnya hati mereka busuk, mending aku anteng.

Bukan minder atau takut. Aku berusaha menahan gemas dengan cara diam. Aku anggap mereka bukan siapa-siapa, nggak kenal, orang lain yang jauuuuuuuuhhhh, jadi kurasa, diam lebih baik.

Diam membuatku serasa punya kekuatan lebih. Dengan diam, aku bisa cuek sejadi-jadinya. Nggak peduli mau diomongin apa, nggak peduli mau dijudge bagaimana, nggak peduli, nggak peduli 1000X. Diam membuatku nyaman.

Salah satu dari mereka mencoba memancing reaksiku dengan pujian basa-basi, aku cuma mesem. I know who they are. Aku belum lupa dengan komentar-komentar buruk mereka tentang aku. Aku masih ingat semuanya. Emang mereka komentar apa sih? Aku nggak bisa nulis di sini. Pokoknya parah aja. Buktinya temen-temen yang aku ceritain pada melongo nggak percaya.

Suatu saat ketika aku kembali ditakdirkan bertemu dengan gerombolan pelahap maut itu lagi, aku akan diam. Bukan diam layaknya perempuan kalem yang emang pendiam. Bukan gitu. Tapi diam tegas. Diam menjaga jarak. Diam nggak peduli. Bukankah dulu aku dibilang begitu? Dan sebisa mungkin, khusus untuk pertemuan dengan mereka, aku selalu sibuk. Nggak ada waktu bersantai dengan orang-orang yang nggak mau mendukungku. Sama aja dengan menyerahkan diri ke kandang singa. Oh, tidak. Dan kalau pun harus, aku akan muncul dengan sikap sedingin ratu salju. Seperti yang akhir-akhir ini kulakukan.

Pernah suatu ketika, si Y ketemu aku. Dia lagi sendiri. Aku tersenyum dan menyapa sekadarnya. Tetap dengan sikap berjarak. Dan si Y gugup kayak orang ketemu hantu. Hahahaha. Aku hantunya :P. Dulu aku emang sok ramah ya... Sekarang biasa aja. Nehi lah, ramah-ramah sama orang-orang begitu.

Di IDailyDiary, aku mencatat karakter mereka. Sedetail mungkin. Siapa tau kelak, tokoh-tokoh nyata itu bakal menjelma jadi cerita. Siapa tau orang-orang yang berkarakter begitu bakal tersentil. Karena aku yakin, orang-orang tukang komentar, yang suka nyindir, yang sombong luar biasa, yang suka nambah-nambahin omongan, bukan cuma enam orang itu di dunia. Superbanyak.

Oya, satu lagi. Satu hal yang membuat aku berani menegakkan dagu di hadapan orang-orang menyebalkan itu adalah: mereka sekumpulan orang-orang rapuh. Mudah ngeluh, mudah bete, mudah emosi, mudah sakit, mudah ngumbar masalah di social media sehingga semua orang bersimpati, mudah down juga. Sifat-sifat yang berkebalikan denganku. Itulah yang membuatku merasa menang dan berani buat nggak peduli terhadap mereka.

Friday, 19 October 2012

I LOVE READING!







Gambar di atas aku ambil waktu bikin cerpen seminggu lalu. Kadang kalo pas bikin paragraf yang kurang asik, aku buka-buka novel koleksiku, aku baca lagi. Atau kalo pas bikin dialog hasilnya kurang oke, aku suka ngintip. Novel-novel tersebut bukan kusontek. Tapi biar bisa ngasih gambaran padaku.

Buku-buku di atas cuma sebagian kecil. Yang lain masih di lemari, yang lainnya lagi udah kuangkut ke kampung halaman. Awalnya aku ngoleksi buku cuma sekadar buat have fun aja. Aku emang hobi banget baca buku. Bahkan kalo di mejaku nggak ada buku baru yang asik, aku nggak ngerasa tenang. Lebay ya :P. Begitulah adanya.

Karena tujuannya buat fun, aku milihnya yang bener-bener pas dengan seleraku. Sekiranya buku tersebut membuat aku terhipnotis, sampai benar-benar lupa diri dan larut dalam cerita.

Aku beli buku bukan bertujuan nyari ide. Tujuan utamaku adalah fun. Aku bukan tipe orang yang bersusah payah nyari ide. Karena gini. Apa yang aku lihat, baca, dengar, dan amati, udah nyatu di memori. Suatu saat aku kepingin membuat sebuah cerita, kepingan-kepingan yang pernah kubaca, dengar, lihat, dan amati, bakal mewujud dengan sendirinya. Jadi buatku, nggak masalah aku beli buku tapi nantinya malah nggak bisa membuat cerita dari buku-buku yang aku beli. Ini buatku lho ya... Lha wong tujuannya buat hiburan kok.

Dulu waktu kuliah, aku seringkali seharian berada di toko buku. Ngapain lagi kalo bukan membaca. Sampe-sampe temenku nanya, "Kamu nggak diusir?" Untungnya nggak hehehe. Pas mau wisuda, bapakku ngasih uang buat nyalon. Apa yang aku lakukan? Batal nyalon, pergi ke tobuk, pulang-pulang bawa buku segebok. Apa aku nggak sayang? Nggak rugi? Jawabanku: Nggak!

Alasanku, kalo buku bisa membuat aku mendapatkan pelajaran hidup, memperluas cakrawala berpikirku, memberikan input-input baru buat otakku, why not?

Jadi kalo sekarang aku rela belanja beberapa buku sekali datang ke Gramedia, aku nggak sayang. Aku juga nggak terbebani dengan pikiran, kalo udah beli buku, nulisnya kudu bagus, kudu dimuat, kudu dapet ide, dll. Nope! Dengan sendirinya, kalo udah sering baca buku, nulisnya jadi luwes dan lancar. Sejam udah bisa dapet 1000 kata.

Walopun buku mahal nggak bisa memunculkan cerita di kepalaku, at least cara bercerita yang ada di buku tersebut bisa aku pelajari. Makanya, aku rada gimanaaaa gitu, kalo ada orang lain dengan soknya geleng-geleng nggak mau beli buku padahal dia kepingin jadi penulis. Padahal dia sanggup makan di resto. padahal dia bisa beli make up yang harganya lebih mahal dari buku. Padahal bisa beli busana yang harganya juga nggak bisa disebut murah.

Ada lagi yang bilang aku sok. Aneh ya? Perkara membaca aja udah dibilang sok. Kepingiiiiiiinnnn banget bertanding nulis cerpen dengan orang yang ngatain aku sok itu. Bukan sok lah. Membaca itu sebuah kebutuhan buatku. Perkara nanti mau jadi cerita apa nggak, peduli amat. Yang penting aku terhibur.

Nah, minggu ini, aku lagi setengah jalan baca Porcupine. Teenlit jadul. Baguuuus banget. Tentang keluarga yang carut marut. Kalo udah selesai, lanjut baca bukunya Neil Gaiman, trus Sophie Kinsella. Kalo udah abis semua, biasanya aku main ke perpus kota, minjem buku. Gratisan hehehehe. Buku jadul juga nggak apa-apa asal ratingnya di Goodreads oke. Dan yang terpenting, asal sebelum tidur aku membaca. Ini ritual penting buatku. Sangat penting :).









Wednesday, 17 October 2012

BELAJAR, BELAJAR, DAN BELAJAR

Udah sering dimuat media, udah punya buku, jadi nggak perlu ribet-ribet belajar teori menulis dong? Ngapain juga belajar? Kan tulisannya udah oke. SALAH TOTAL!

Sampai detik ini, aku terus membaca dan mengamati apa saja yang bisa dibuat belajar. Dan setiap kali aku belajar, saat itu pula aku nemu buanyaaaaaakkkkk yang kudu dibenerin. Satu hari aku ngerasa cerpen yang dimuat majalah A adalah cerpen terbaik yang pernah kubuat. Pas belajar lagi atau baca buku bagus, mendadak aku ngerasa kalo cerpenku tuh superjelek. Aku nggak pernah puas.

Ada yang bilang, aku ini sok. Karena belajar nulis terlalu serius. Yang santai-santai aja bisa dimuat berkali-kali (maksudku sering dimuat tapi di majalah itu-itu aja), buku juga ada beberapa, ngapain juga aku sok gawat saban hari membaca & belajar? Awalnya sih jengkel denger komentar macam begini. Tapi aku diem aja. Berdebat dengan orang narrow-minded emang susah. Yang dia liat kan lingkaran kecil. Jadi mau ngotot ngasih pemikiran yang lebih luas lagi juga sulit. Batasannya aja lingkaran kecil. Ya segitu aja cara berpikirnya.

Alasanku sebenernya gini. Ada penulis, yang udah sejak SMA, SMP, bahkan SD udah mulai menulis. Tapi hingga saat ini, begitu-begitu aja. Maksudku, dimuatnya di media yang sama, bukunya pun modelnya gituuuuuuu aja, meskipun mungkin punya beberapa. Nah, aku, nggak mau kayak begitu. Harus ada peningkatan kualitas dari waktu ke waktu.Ngapain juga buang-buang waktu mempertahankan prestasi yang sama.

Demi meningkatkan kualitas itulah, aku getol membaca dan belajar. Belajarnya bisa dari penulis lain, bisa juga dari novel yang aku baca. Kalo cuma belajar teori, aku nggak sreg. Aku bukan tipe orang yang dikasih tau langsung nurut. Dulu pernah kejadian. Ada penulis lumayan senior, bilang, jangan pernah mengulang kata yang sama dalam satu paragraf. Alasannya apa, pikirku. Lah wong penulis sekelas Andrea Hirata aja kadang suka ngulang kata yang sama dalam satu paragraf kok. Di buku-buku anak konyol yang dapat penghargaan, aku malah sering nemu satu kata yang dengan sengaja diulang-ulang.

Jadi, setiap kali belajar teori nulis, aku bongkar-bongkar buku. Novel-novel yang kebaca, aku buka-buka lagi. Dan... Dalam belajar teori menulis, aku juga pilih-pilih. Hahahaha. Terkesan sombong ya? Bukan gitu. Lah, kalo yang ngajarin sumbernya valid, aku turutin. Tapi kalo, udah sumbernya dari dia sendiri, dan orang ybs nulisnya itu-itu aja, males juga yah.

Kalo sekarang, aku lagi getol ngutak-ngatik blognya Nicola Morgan. Soalnya, apa yang beliau tulis di situ emang bener banget. Satu postingan aku baca, trus aku copas di word. Aku nemu blog tersebut setelah bertanya pada Jonathan Stroud. Penulis Bartimaues Trilogy. Weeee, sok banget aku ya, pake nanya-nanya ama Jonathan Stroud segala. Hehehehe. Biarin juga! Dia orangnya baik kok. Support banget sama penulis yang baru belajar. Pernah aku bilang ama dia, pas cerpenku pertama kali muncul di Majalah Sekar. Dia memujiku dan terus mensupportku. Hal itu, membuatku makiiiiiiiiiiiinnnnn bersemangat.


Belajar, belajar, dan terus belajar. Penulis sekelas Andrea Hirata aja, yang bukunya udah meledak, yang diterbitkan bukan cuma di tanah air, tapi di banyak negara, masih tetep belajar nulis di IOWA kok. Kabarnya A. Fuadi juga kursus nulis sebulan ya, di luar negeri. Apalagi akuuuuh? Haruskah aku cukup bangga dan puas dengan kualitas yang masih jauh dari "bagus" dan berhenti belajar? Yang bukunya betah nangkring di rak best seller aja butuh kursus. Alasan ini makin memperkuat diriku untuk terus belajar.









Tuesday, 16 October 2012

ILMU MENULIS DARI TERE LIYE

September lalu, aku menghadiri acara seminar jurnalistik yang menghadirkan Tere Liye sebagai bintang tamu. Acara ini digelar di gedung Graha Medika Fakultas Kedokteran. Universitas Brawijaya.Saya pergi ke sana bersama penulis cute, mbak Rf Dhonna.Makasih dah nemenin, Mbak :D.

Berikut adalah tips-tips seputar menulis dari beliau. Dalam slide yang ditayangkan, beliau menuliskan, TIPS MENULIS YANG BAIK.

1. IDE

Problem penulis pemula biasanya kesulitan menemukan ide. Solusinya adalah: ide cerita/tulisan, bisa apa saja. Saat itu Tere Liye meminta peserta menulis paragraf yang mengandung kata: HITAM dan MULUT.
Saat itu, aku menulis tentang perempuan berambut hitam, yang punya kegemaran mengecat rambutnya dengan warna-warna berbeda tiap hari. Alhamdulillah, ide ini sudah aku tulis jadi cerita. Semoga dimuat :).

Nah, Tere Liye bilang, "hitam" atau "mulut" tidak harus identik dengan sesuatu yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Beliau memberi contoh:


Andi adalah teman baikku. Kulitnya hitam, hidungnya hitam, tangannya hitam, telinganya hitam, kakinya hitam, semua hitam. Tetapi aku yakin sekali, Andi hatinya putih.”
dan
Gadis hitam manis. Saat masa tua datang, hilang manisnya, tinggal hitamnya. Oh, dunia.”
  
Kata beliau, BOHONG, kalau penulis kehabisan ide nulis. JANGAN PERCAYA. Tapi, penulis yang baik selalu memiliki sudut pandang yang spesial.

Bagaimana cara menulis yang memiliki sudut pandang spesial? Tak ada jalan lain kecuali, LATIHAN. Beliau menyuguhkan foto tentang situasi di pasar dan bertanya, apa yang bisa ditulis dari gambar tersebut. Semua peserta seminar terdiam. Trus beliau lanjut cerita. Katanya, ada anak kecil yang melihat foto tersebut dan bilang, "Tiba-tiba ada dinosaurus menyerang pasar."

Nah! Begitulah yang spesial itu. Saat orang lain memikirkan hal umum, kita justru menemukan sesuatu yang nggak kepikiran oleh orang lain. Nggak ada tips untuk hal ini. Beliau tetap menyarankan untuk terus berlatih.

2. Menulis itu butuh amunisi.

Penulis yang baik itu selalu pandai: membaca, mengamati, mencatat, mengumpulkan, rekonstruksi, lalu menuliskan.
Kalo Tere Liye sendiri suka mengamati karakter-karakter orang melalui Facebook. Nah, demi menutupi waktu yang hilang akibat Facebook-an, beliau menulis note, status-status di fan page-nya, yang sekiranya bermanfaat bagi orang lain.

Oya, jangan pernah lupakan membaca juga ya :). Urutannya nomer satu tuh :).

Beliau juga menganjurkan untuk berlatih sinonim kata. Jadi di contoh slide, ada kata benci berada di urutan pertama, dan ada 12 nomor lagi berupa kolom, ke bawah. Kalau bisa isilah 11 sinonim yang tersisa.

3. Tidak ada tulisan yang buruk atau bagus.

Yang ada adalah relevan dan tidak relevan. Semua kembali pada selera.Novel laris yang mendapatkan banyak penghargaan pun, tetap ada yang nggak suka. Bahkan, buku Harry Potter, aja banyak yang nyela kok.Iya toh?


4.  Melatih gaya bahasa.
Boleh aja meniru gaya bahasa siapapun yang kita sukai. Seiring waktu, kebiasaanlah yang membentuk gaya bahasa kita. Jadi intinya, tetep dong... LATIHAN!


5. Mulailah dari tulisan pendek, sederhana, tapi bermanfaat. Ini juga harus... (ehem, ini akan nampol buat yang suka cari alasan) DILATIH!
Kalo di Facebook atau di Twitter bisa nulis banyak hal, bahkan sampai 1000 kata/hari, sayang dong. Seminggu udah 7 ribu kata. Kalo sebulan? Udah jadi novel tuh. Eh, aku juga suka Twitteran & Facebook-an.

6. Mengatasi mood.

Mood jelek itu anugerah. Tapi kalo terus-terusan, jadi masalah. Intinya sih kembali ke pribadi masing-masing yah. Mungkin dengan mencoba melakukan kegiatan yang berbeda. Tapi kalo terus-terusan berkelindan dengan bad mood, kembali ke niat awal jadi penulis.

Terakhir, pokoknya, lakukanlah yang terbaik. Lupakan: plot, kerangka, outline, dll. Menulislah seperti menari.

Jadi emang nggak ada tips khusus kan? Yang ada tuh kita disuruh latihan, latihan, dan latihan. eman-teman tau nggak, Tere Liye ini udah nulis sejak kapan? Jawabannya adalah SD. Beliau langsung sukses? Nggak. Bahkan suka gonta-ganti nama pena :). Ya ya. Memang kesuksesan itu nggak ada yang instan. Tul nggak?

CERPEN RONI, Dimuat di Percikan Majalah Gadis

CERPEN RONI

“Wuiiiiih! Roni emang kereeeen! Bisa ya, dia nulis cerpen sebagus ini? Aku yakin banget kelak dia bisa jadi sekelas Andrea Hirata,” Yessy geleng-geleng takjub di depan papan mading. Tiap minggu, mading sekolah selalu menempelkan cerpen-cerpen Roni.
“Biasa aja tuh. Kamu naksir dia sih, makanya semua keliatan bagus,” kata Dewi to the point.
“Emang dia serba bagus kok. Cakep, pinter nulis, ramah lagi. Kurang apa coba?”
Dewi mengangkat alis. “Kamu-nya yang kurang baca. Coba deh, sering baca majalah atau novel. Bandingin ama karya-karya Roni. Baca novelnya Andrea Hirata aja kamu belum pernah,” cetus Dewi.
Yessy sepertinya sudah kena hipnotis kertas berisi cerpen berjudul “Galau” yang ditulis Roni. Dia tersenyum-senyum nggak jelas.
“Bagiku, karya Roni tetap juara,” gumam Yessy. Jarinya terulur meraba permukaan kertas berwarna hijau muda lembut yang tertempel di papan mading.
“Hadeeehhhh!” Dewi menghembuskan napas panjang.
oOo
Siang  itu Yessy nongkrong di sisi lapangan basket sambil minum softdrink. Ada Roni lagi nonton latihan basket. Yessy bela-belain berpanas-panas ria demi memerhatikan pujaan hatinya. Roni duduk di bangku panjang, di pangkuannya ada kertas, tangannya memegang pulpen. Duh, bahkan dalam situasi begitu, dia masih saja sempat menulis. Memang calon penulis hebat, Yessy membatin. Pas lagi khusyuk-khusyuknya mengamati Roni, suara Dewi melengking memanggilnya.
“Yes! Yessy!”
Yessy reflek menoleh. Dewi tergopoh-gopoh mendekat, tangannya mencengkeram sebuah buku.
“Apaan?”
Dewi langsung mengenyakkan badan di samping Yessy. Yessy bergeser. Dewi menyodorkan buku yang dipegangnya.
“Nih. Baca.”
“Haduh. Males aku baca ginian,” kata Yessy, menatap tulisan-tulisan kecil di buku Dewi dengan enggan.
“Baca coba. Ini kumpulan cerpen remaja. Karangan penulis teenlit terkenal,” Dewi memaksa.
Yessy mendesah jengah. Dia menggeleng. Mau tulisan pengarang teenlit terkenal kek, dia nggak berminat kalau bukan tulisan Roni. Kalau majalah sih, masih bisa rada menarik ada gambarnya. Tapi kalau buku full huruf begitu, melihatnya saja Yessy sudah serasa mengantuk
“Katanya suka dengan karya Roni. Ayo dong, baca,” Dewi bersikukuh.
Pandangan Yessy terpancang pada Dewi. Apa hubungannya dengan Roni? Katanya buku itu karya penulis teenlit terkenal. Berarti bukan tulisan Roni kan? Ngapain dia kudu susah-payah baca?
“Malas ah. Coba bacain deh.”
Wajah Dewi langsung berubah ketus. “Enak aja! Baca sendiri dong! Ini penting banget buat kamu. Lebih penting daripada sekadar merhatiin Roni. Pokoknya BACA!” gertak Dewi. Dia menyambar tangan Yessy, memaksanya menggenggam buku bersampul biru yang dibawanya.
“Haduuuuuhhhhh!” keluh Yessy.
Mau nggak mau akhirnya dia mengalihkan perhatian pada buku Dewi dan membaca cerpen berjudul “SUNTUK” di hadapannya. Ceritanya bagus. Tapi… Tunggu dulu! Dia seperti mengenal tulisan tersebut. Baca di mana ya? Beberapa saat kemudian, dahi Yessy mengernyit. Dia meneruskan membaca sementara benaknya terus berpikir, di mana dia pernah menemui tulisan seperti itu. Tiba-tiba Yessy mendongak, dan menoleh cepat pada Dewi. Mulutnya terbuka, matanya membelalak.
“Ceritanya sama dengan cerpen ‘Galau’ Roni ya? Cuma tokoh-tokohnya aja yang beda,” Yessy menggumam sambil terus membaca
“Ini tulisan Roni bukan?” Yessy kembali menatap Dewi.
“Bukanlah. Karya Mbak Ferrisca Mahendra. Penulis teenlit terkenal,” sahut Dewi enteng.
“Loh? Berarti?” Yessy mengerjap-ngerjap.
“Nah. Berarti apa?” Dewi menatap Yessy lekat-lekat.
Yessy mendongak. “Dia.. Dia.. Men-jiplak?” tanya Yessy sambil gigit bibir.
Dewi mengangguk mantap. Yessy melotot tak percaya. Sekali lagi, dia membaca cepat-cepat. Bahkan demi memastikan, Yessy sempat membaca tahun terbit kumpulan cerpen tersebut. Tahun 2010. Sudah dua tahun yang lalu.
Di kejauhan, Roni bertepuk tangan atas shoot three point Adi, sahabatnya. Yessy memandanginya. Dia cakep, ramah, tapi.. Plagiat. Nyontek. Yessy meneguk ludah kecewa. Entah kenapa, sosok Roni mendadak tak begitu spesial lagi bagi Yessy.
“Nggak nyangka Roni bakal berbuat begitu. Apa nggak takut ketahuan ya?” gumam Yessy.
Dewi tersenyum. “Yuk, kita ke kelas aja. Hal itu, biar jadi urusan Roni,” ujar Dewi.
Yessy dan Dewi bangkit, keduanya berjalan menuju kelas tanpa bicara lagi.

Boneka Dari Yuli Dimuat di Percikan Majalah Gadis


BONEKA DARI YULI

Lena tercengang. Sekali lagi dibacanya SMS dari Yuli yang baru masuk di hape Rama. Dada Lena bergemuruh karena cemburu.
Bonekanya jadi kan? Ntar malam bisa ke tempatku?
Perasaan nggak enak menyelusup di hati Lena. Yuli? Siapa Yuli? Rama nggak pernah cerita punya temen bernama Yuli? Dan Si Yuli itu membahas boneka? Lena mulai curiga. Dan entah kenapa, mendadak dia sangat marah sampai kepingin membanting hape Rama. Bahkan Lena nggak tahan ingin membalas pesan Yuli dan mengatakan “jangan ganggu pacarku”. Tapi Rama keburu muncul di lorong toilet.
Lena meletakkan hape Rama di dekat piring nasi goreng. Dia melengos jutek ketika Rama duduk. Dahi Rama berkerut.
“Kenapa?” tanyanya.
 “Ada SMS dari.. YU-LI!” sahut Lena ketus.
Rama salah tingkah. Tahu kan ekspresi orang gugup? Matanya berkedip berkali-kali, meneguk ludah, trus Rama buru-buru mengalihkan pandangan. Kalo dia nggak salah, kenapa harus bersikap begitu coba. Lena jadi nggak berselera menghabiskan Fu Yung Hai-nya. Dia hanya menusuk-nusuk makanannya itu dengan ujung garpu.
“Aku benci banget cowok nggak jujur!” sindir Lena. Rahangnya mengeras karena geram.
“Kok tiba-tiba ngomong gitu sih?”
“Selain aku, siapa cewek yang kamu dekati? Ngaku!” Lena melotot pada Rama.
Di luar dugaan, Rama malah tertegun. “Kamu ngomong apa sih?”
Lena makin gemas. Bisa-bisanya Rama ngeles padahal jelas-jelas di hapenya ada SMS dari Yuli. “Ngomong apa, ngomong apa. Ya ngomong itu tadi!!” Suara Lena hampir melengking. Beberapa pengunjung café meliriknya.
“Aku nggak tau maksudmu, Len.”
Lena kehilangan kesabaran. “Kalo kamu udah bosen sama aku, mending kita PU-TUS!! Aku nggak mau dibohongin!” Lena bangkit, menyandang tas coklatnya, dan berjalan cepat keluar café. Air matanya merebak siap menetes. Sementara itu, Rama terbengong-bengong tak paham di tempatnya.
oOo
Keputusan Lena sudah bulat. Dia nggak mau mendengar alasan Rama lagi. Kebencian sudah menguasai dirinya. Dia akan menjauhi Rama. Kepercayaannya pada cowok itu sudah raib setelah membaca pesan dari Yuli tempo hari.
Dua hari kemudian, Rama mendatangi kelas Lena. Lena pura-pura sok sibuk baca buku paket Matematika padahal Lena benci banget sama pelajaran bertabur angka tersebut.
“Len, aku minta maaf kalo emang dianggap salah.” Rama berdiri di sisi bangku Lena.
Lena mendongak. Buku Matematika diletakkannya di atas meja. Matanya bertemu dengan tatapan Rama yang tampak memelas.
“Udah deh, Ma. Jangan ganggu aku lagi. Aku udah eneg ama sikapmu,” tegas Lena. Ia berdiri, melangkah keluar kelas dengan kebencian menjadi-jadi. Rama hanya bisa mendesah pasrah.
oOo
Lena melepas headset ketika Beno, adiknya, melongokkan kepala di pintu kamar. “Kak, ada yang nyari tuh,” katanya.
“Siapa?”
“Katanya sih, Yuli.”
Hati Lena berdesir. Yuli. Apa itu cewek gebetan Rama? Mau apa dia kemari sore-sore? Jangan-jangan mau menjelaskan kalau dia nggak ada apa-apa dengan Rama. Sudah pasti, Yuli bilang begitu karena disuruh Rama. Biar Lena bisa kembali cinta, biar bisa balikan lagi, biar nggak jadi putus. Nah, kalau dia pacaran lagi sama Rama, bukan mustahil Yuli dan Rama tetap menjalin hubungan tanpa sepengetahuannya. Banyak kan kejadian seperti itu? Lena mendengus. Dia bertekad nggak mau kasih Rama kesempatan.
Beno sudah kembali ke depan televisi saat Lena berjalan ke teras. Sebelum keluar, dia mengintip dulu dari balik tirai kaca ruang tamu. Ada cowok berkaos biru, duduk di sana. Di dekat kakinya, ada sebuah kotak pink besar. Lena bingung. Itu Yuli gebetan Rama atau Yuli siapa?
Nggak mau kebingungan melingkupi benaknya, Lena membuka pintu. “Cari saya, Mas?” sapanya.
Cowok tersebut menoleh, bangkit dari duduknya. “Mbak Lena ya?”
Lena mengangguk samar tapi dahinya masih mengernyit.
“Saya Yulianto. Mau nganter boneka yang dipesen Rama dua minggu lalu. Udah dibayar juga. Katanya buat hadiah kejutan. Hari ini ultah kan Mbak?”
Jreng! Lena membeku dengan mimik terperangah. Betul! Hari itu memang hari ulang tahunnya yang ke-17. Sontak kilas balik kejadian di cafe terentang di benaknya. Jadi boneka itu? Dan Yuli? Ah! Mendadak Lena jadi kangen Rama. Dia benar-benar menyesal sudah menuduh yang tidak-tidak. Seharusnya dia nggak sembarangan mengambil keputusan. Dia bertekad mau minta maaf.

Monday, 1 October 2012

BEDA PENDAPAT


Bagi orang lain, dandan itu nggak penting. Dan dia yang anti-dandan itu, biasanya rada sinis ama yang hobi dandan. Bagiku? Penting doooooonggg. Tapi dandanannya nggak perlu lah, kayak topeng salah cat. Itu menurutku. Kalo pun ada yang mau dandan ala Syahrini atau siapa pun, itu hak mereka. Terserah juga. Tapi itu, hei, yang anti-dandan, uruslah urusanmu sendiri. Nggak usah banyak komentar.

Bagi orang lain, tampil mewah itu penting. Jadi segala cara, meski kantong menjerit, bela-belain berusaha biar keliatan “amazing”. Bagiku, tampil mewah nggak terlalu penting. Alasanku: aku nggak terlalu peduli dengan kesan dari orang lain. Jadi, mau dibilang “kok gini, kok gitu”, biarin. Kalo dikomentarin ama yang sok mewah, baru deh aku rada sengak, atau cuek bebek kayak patung hidup, atau aku tinggal aja sementara dia ngoceh. Yang hobi tampil mewah, silahkan, asal nggak banyak komentar, asal duit ada, asal nggak ngutang. Yang nggak suka keliatan gemerlap, ya udah nggak usah sinis. Be yourself aja.

Bagi orang lain, menulis itu penyaluran kesumpekan. Udah nulis, udah aja ngerasa bahagia. Meski yang didapat kurang bagi dia. Kalo aku, nulis itu sebagai penyaluran uneg-uneg sekaligus nyari duit. Kalo gak dapet duit, males juga susah payah ngirim ke media atau ke penerbit. Yang aku dapat kudu seimbang dong. Kalo belum??? Ya usaha lah. Gimana caranya biar kualitas tulisanku meningkat. Tau prinsip marketing mix kan? Yang 4P itu. Salah satunya adalah product. Sama kayak jual tulisan. Kalo mau marketnya bagus, product yang dihasilkan juga bermutu. Dan tulisanku bakal laku ke media yang marketnya luas, kalo dianggap “layak” muat. Media macam itulah yang ngasih honor layak.
Jadi, yang nulis sekadar pelampiasan perasaan, nggak usah banyak komentar apalagi update status, komen-komen, nyindir-nyindir tentang penulis yang nyari honor gede. Itu kan udah jadi pilihan masing-masing. Atau sebenernya kepingin tapi belum bisa? Kalo kepingin, belajar lah.

Bagi orang lain, pake kerudung gaul ala hijaber, itu nggak penting. Biasanya nih, yang anti kerudung gaul, suka gimanaaaa gitu ama yang pake kerudung cantik. Kalo aku, ada kalanya aku kepingin tampil beda. Kadang pake ala hijaber kadang ngasal aja karena buru-buru. Trus aku diomongin di belakang dong? Hahaha. Cuek aja. Namanya aja berpendapat. Silahkan aja kasih pendapat tentang aku. Suka-suka mereka. Dan mereka yang anti kerudung gaul, coba deh tanya baik-baik sama diri sendiri. Emang anti, atau karena nggak bisa beli? Atau karena nggak bisa pake? Atau karena ribet? Atau karena nggak bisa padu padan baju? Kalo emang udah pendiriannya “anti”, ya udahlah nggak usah pake sindir sana-sini. Di socmed pula, hadeeeeh! Baru kalo ada yang nggak bener, semisal kerudungnya seketat lepet, atau transparan kayak plastik, ditulis di socmed, menurutku itu bermanfaat. Dan kalo emang niat ngasih tau, nggak usah menghina lah. Bilang baik-baik kan bisa. Orang sih bakal jengah kalo cara ngomongnya keliatan rada nge-judge gitu.

Bagi orang lain, langsing, sehat, itu nggak penting. Apalagi kalo udah menikah. Biasanya, orang model begini, suka eneg liat orang diet. Menurutku?? Langsing dan sehat itu WAJIB. Alasanku: badan sehat itu akan membuat segala aktivitasku lancar. Aku bisa solat malem, puasa bayar utang/sunnah, kerja jadi enak, kemana-mana bisa. Dibandingin waktu aku rada gemuk beberapa bulan lalu. Bawaannya males, capek, suka nggak enak badan pula.
Jadi, yang hidupnya nggak teratur, yang makannya sesuka hati, yang anti langsing, anti sehat, uruslah pola hidupmu sendiri. Nggak usah sinis. Pilihan kan di tangan individu masing-masing. Mau gemuk, itu juga pilihan. Mau langsing juga suka-suka yang ngejalanin. Nggak usah lah, pake berfilosofi, aku menikmati hidup. Asal sehat, aku makan segala. Aku nggak mau diet seperti temanku si A, B, C, dst. Jujurlah. Ngomong gitu karena nggak bisa diet, atau karena emang milih gemuk? Jujur deh. Gemuk sama berat proporsional, lebih enak mana kalo dirasakan?

Dan masih banyaaaaaakkkk lagi yang: bagi orang lain begini, bagi aku begitu. Selama nggak ngatain yang nggak-nggak, aku cuek. Suka-suka lah mau ngomong apa juga. Hidup, hidupku. Yang ngejalanin juga aku. Hahaha. Aku egois? Bisa jadi. Sombong? Boleh juga dicap begitu. Dan tulisan di atas bisa jadi renungan buatku juga. Jangan-jangan aku juga hobi berkomentar, meski kasusnya beda ama yang kutulis di atas.

Jadi kalo begitu, aku mau kasih warning ama diri sendiri. “HEY, WIDYA! JANGAN BANYAK KOMENTAR! URUSLAH KEHIDUPANMU SENDIRI!”






JAGA KECANTIKAN DIRI, JAGA LINGKUNGAN

Jerawatan? Wajah kusam? Itu adalah masalah kulit saya sejak SMA. Kalau cuma kusam masih lumayan lah. Yang membuat tidak percaya diri adalah ...