Saturday, 29 September 2012

TEMAN YANG ANEH


Abis ngobrol ama orang yang banyak nyari-nyari alasan. Rasanya kepingin ngacir mendadak. Seandainya nggak ada aturan sopan-santun, udah aku tinggal dia sementara dirinya lagi ngoceh.

Jadi aku tuh lagi muji seorang penulis baru yang bukunya jadi best seller. Tanggapan dia: “Masa? Emang bagus beneran? Emang si ‘X’ itu bisa nulis? Jangan-jangan yang nulis sebenernya bukan si ‘X’? Buku kayak gitu masak ada di rak best seller?”

Aku: “Tanpa ngeliat siapa ‘X’, harus kuakui, bukunya layak berada di rak best seller.”
Dalam hati aku mbatin, nih orang kenapa sengak gitu tanggapannya? Kan dia belum baca? Kalo udah baca trus komentar, jelek-jelekin mutu tulisan yang bersangkutan, baru deh wajar. Lah, dia belum baca juga. Trus, kenapa harus sangsi sang penulis bisa nulis apa nggak? Kenyataannya bisa, gitu? 

Aku rada gimanaaaaaaaa, gitu. Masalahnya kukembalikan ama posisiku dulu. Waktu aku nyodorin print out naskah pertamaku. Tulisan pertamaku. Dan tanggapan, My Voldemort itu adalah: “Ini beneran kamu yang nulis? Masa?” Belum lagi pas naskahku sering dimuat. Penulis-penulis lama pada sangsi. 

Helloooo!! Yang namanya nulis itu, anak SD juga bisa. Kenapa harus sangsi? Andrea Hirata sekali bikin buku udah langsung melejit, gitu. Analoginya begitu kan? Oh, ya. Si Penulis Laskar pelangi itu juga nggak luput dari komentar dia. “Itu gara-gara tema yang diangkat beda kan? Tulisannya biasa aja kan?”

Hah??? Biasa aja?? Dibandingin tulisanmu, bagus punyamu gituuuuu?? Tentu saja kalimat itu nggak aku ucapin. Tapi, rasanya aku kepingin menyumpal mulut nih orang pake Apel.

Oke, beres perihal buku, Mr. X, lanjut ke obrolan berikutnya. Saat itu, beberapa teman memuji produktivitasku (Alhamdulilllah, segala puji bagi Allah, hanya Allah, bukan aku). Tahu tanggapan dia?

“Soalnya belum nikah. Kalo udah nikah aja, pasti rempong. Pasti riweuh. Belum lagi ngurus ini, itu. Kayak aku ini. Nulis udah susah.”

AKu melotot. WHAT??? Kayak dia katanya???? Oh, please!! Emang sebelum dia nikah, dia super-produktif, gitu? Aku makin jengah. 

Selanjutnya.

Aku kan orangnya gampang kagum ya. Jadi mudah sekali memuji.
Aku: “Si C itu ya, naskahnya dimuat melulu.”
Temenku ini, nggak mau kalah. Apa jawabnya? “Iya. Tapi cerita seputar hal-hal aneh. Jelas aja dimuat.”

Oh, Tuhan! Kesabaranku habis. Tanpa banyak cincong, aku pura-pura menelepon, ngomong sendiri kayak orang gila atau artis kelas dawet lagi acting. Selanjutnya, aku pamit.
Bu-bay, temen banyak alasaaaaaannn! Never wanna see you, next time.


MINGGU CERIA


Hi, Sunday. Bersyukur banget hari ini, pagi-pagi udah bisa ketawa-ketiwi bareng temen, meskipun yang kami ketawain hal-hal nggak penting dan sedikit merepotkan. Jadi karena lagi nggak sholat, dan Minggu juga, abis adzan subuh aku merem lagi. Merem sambil ngayal. Ngayal dia (the one who musn’t be named, halah. Kayak The Dark Lord :P), trus ngayal sarapan muffin, ngayal sarapan omelet campur daging cincang plus irisan jamur, ngayal makan roti butter dicolek ama yoghurt, ngayal American Breakfast, ngayal pancake superlembut yang disiram saus entah apa namanya, pokoknya ngayal macem-macem deh. Efek udah lama nggak makan beginian :P. Diet, bo!

Tapi trus lamunanku bubrah. Aku inget. Janjiku semalem sama temen kos lantai 1, mau ke pasar. Akhirnya setengah tujuh aku SMS dia. Ya sudahlah. Dalam kondisi sama-sama baru bangun tidur, kami naik motor boncengan. Sepanjang jalan, kami nguap. Aneh ya, padahal aku tidur jam setengah sebelas kok mata masih lengket aja bawaannya.
Dan sodara, pas di pasar, temen kos lainnya nitip via SMS. Alhasil aku bawa belanjaan sambil miring-miring. Beraaaaaattt banget. Berulang kali belanjaannya aku taruh di tanah. Berat, sumpah.

Nah, giliran naik motor mau pulang, aku mirip bakul sayur. Belanjaan aku taruh di tengah. Sambil menikmati pagi, aku nyanyi. Karena Noah lagi happening, lagu mereka jadi pilihanku. Tapi bukan SEPARUH AKU. Kemarin aku dah didrill ama lagu tersebut. Di amna-mana pada nyetel Separuh aku. Eneg juga lama-lama.

Mulailah aku nyanyi ngawur. Pikiranku, tak dapat kupahami. Kaki di kepala, kepala di kaki. Kalo nggak salah, judulnya “Di Atas Normal”. Liriknya ituuuuu aja kuulang-ulang. Maklum nggak apal. Dan tiba-tiba…

Wusss! Sebuah motor, melesat melewati aku dan Yani. Awalnya aku cuek, tapi mendadak aku dan Yani ngakak. Tau nggak? Itu yang dibonceng bawa kursi plastik, disunggi  di atas kepalanya. Jadi kaki-kaki kursi macam mahkota empat pilar, teracung di atas kepalanya.
Lagi-lagi aku nyanyi lebih keras. Kaki di kepala, kepala di kaki. Yani makin ngakak, sampe-sampe kami pada teriak karena lewat polisi tidur.
Alhamdulillah. Cuma perkara sepele begitu kami udah ngakak. Sesimple itu.  Minggu pagi yang diawali keceriaan. Seru!!






Tuesday, 25 September 2012

KASUS MARRIED BY ACCIDENT

Sudah entah ke berapa kalinya aku dicurhati teman, mulai yang akrab sampai yang nggak terlalu akrab, kalau mereka telat menstruasi. Di sekitarku, kasus Married By Accident bukan perkara baru lagi. Bikin khawatir memang. Bikin prihatin juga.

Kebanyakan dari mereka, memiliki latar belakang keluarga yang bermasalah. Ada yang, ibunya meninggal trus bapaknya nikah lagi, dan nggak pernah jenguk anaknya selama bertahun-tahun. Ada pula yang sejak kecil tinggal bareng nenek, orangtuanya nggak tau kemana. Ada lagi, orangtuanya lengkap, tapi sejak remaja berjauhan. Si anak bersekolah di Jawa, ortunya tinggal di Sulawesi.

Aku nggak tau kok mereka milih aku jadi tempat pengakuan. Pada kasus pertama, aku seperti kesetrum mendengar curhatan temenku. "Apaaaa??? Hamiiiiiilll??"Yang kebayang adalah, seandainya saat ini posisiku adalah ortunya. Kali bisa langsung jantungan.

Biasanya mereka curhat sambil nangis. Kalau udah begitu, aku bisanya cuma diam, mendengarkan, bertanya langkah selanjutnya gimana, apakah si cowok mau tanggung jawab apa nggak, gimana cara menyampaikan hal ini sama keluarganya. Aku menghindari kalimat-kalimat menggurui. Mereka udah terbebani, dan aku yakin sekali, mereka pasti menyesal. Kalo nggak, buat apa nangis-nangis segala.

Selanjutnya, aku tetep tutup mulut, no comment, karena itu bukan urusanku, tetap positive thinking sebab yang namanya manusia pasti ada khilaf, dan mensupport mereka diam-diam agar kuat. Pasti nggak mudah lah ngadepin masalah begitu. Bermasalah dengan keluarga aja itu udah bikin pusing. Apalagi ketambahan kasus seperti ini.

Salah satu temenku yang tau (karena kehamilannya membesar ya), langsung heboh. Crita sana-sini. Aku cuma bisa mesem sinis. Dia emang nggak melakukan seperti apa yang telah dilakukan temanku yang hamil ini. Tapi apa bedanya coba, kalo dia koar-koar tebar gosip? Melakukan hubungan seksual sebelum menikah memang salah, tapi bergosip menyebarkan aib juga salah.

Kadang suka sebel liat orang-orang penyebar gosip begini nih. Lagaknya kadang sok suci aja. Tapi ternyata keranjingan gosip. Aku suka menghindar, atau mendadak jadi pendiam kalo udah berada dalam lingkaran orang-orang macam begini. Bukan mustahil suatu ketika aku bakal jadi bahan omongan.

Beberapa bulan lalu juga. Mendadak temanku (padahal nggak akrab nih), bilang kalo hamil.

"Aku hamil."
 Aku berusaha keras mempertahankan ekspresiku agar tetep keliatan cool.
 " Keluargamu tau?"
Dia manggut-manggut. Dia inilah yang sejak kecil tinggal bersama kakek neneknya.
"Ya udah. Hadapi aja. Udah ke dokter?"
"Udah. Kata dokter udah 5 bulan. Anak-anak tau nggak ya, aku hamil?"
"Cuek aja. Dihadapi aja. Yang paling penting sekarang, kamu harus menjaga bayimu biar tetep sehat."
Dia tersenyum tipis. Selanjutnya, aku mulai meracau, mencoba menghibur dirinya.
"Eh, kamu tambah cantik ya kalo hamil. Kamu ngidam apa? Aku punya buah, mau? Kamu pasti hobi makan ya? Makan yang banyak biar sehat bayinya. Asyik deh, punya ponakan. Udah beli baju-baju bayi? Bla bla bla..."
Kebanyakan temenku yang awalnya canggung, wajahnya langsung berubah cerah. Mereka akan bercerita lebih banyak lagi.

Dan kalo ada temen maniak gosip tanya-tanya sama aku, jawabanku: nggak tau. Namanya juga manusia. Mana ada yang bebas dosa. Jadi aku berusaha menahan diri untuk nggak banyak komentar. Aku cuma bisa berdoa agar mereka kuat, agar kejadian tersebut benar-benar menjadi pelajaran.

Dari kasus ini aku belajar, sebesar apapun kesalahan yang dilakukan seseorang, pasti ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Mungkin kurang kasih sayang, kurang perhatian, suntuk, atau entah apa lagi. Tiap orang kan punya latar belakang beda-beda. Bersyukur juga nih, aku jadi tempat curhat. Jadi tau seluk beluk masalah orang lain. Bisa buat pelajaran juga.




Sunday, 23 September 2012

SEKILAS CERITA TENTANG KISAH BUKU "TIGA KECOAK PAHLAWAN"

First Novel: Tiga Kecoak Pahlawan
Penulis: Widya Ross
Diterbitkan oleh Tiga Ananda, creative imprint of Tiga Serangkai
Harga Rp22.000,00





Buku baru , Alhamdulillah :). Seneng? Iya dong. Tapi membatasi diri nggak terlalu larut dalam euforia. Alasannya, buku anak baru yang muncul, buanyaaaaakkk banget di tobuk. 

Harapanku pada buku ini adalah, banyak dibaca anak-anak (entah itu dari meminjam, nggak harus beli, soalnya aku juga hobi minjem buku di perpus :D), anak-anak ketawa, anak-anak nggak suka meremehkan sesuatu, dan punya keteguhan mewujudkan cita-cita.

Ide novel ini sebenarnya udah lama. Udah sejak 2010 silam, pas aku belajar nulis ke media. Aku mencoba mengirimkan cerpen tentang kecoak trus aku kirim ke Kompas Anak, juga lomba Write A Story Contest Erlangga for Kids. Dua-duanya, nggak lolos. 

Kenapa aku pilih kecoak? Karena aku habis baca artikel kalo daya tahan kecoak ini tinggi. Walopun ada radiasi nuklir, dia tetep hidup. Dan kecoak ini, sudah ada sejak zaman purba dulu. Karena itulah ilmuwan Eropa, mulai meneliti kecoak buat kemungkinan dibikin antibiotik. 

Dari situ aku nyadar. Meskipun dibenci sampe muntah pun, kecoak tetap punya kelebihan. Tahan banting dan mampu membuat para ahli punya kerjaan hahahaha. Diteliti bo'!

Aku yang sering liat kecoak jalan-jalan di lantai 1 kos, kepikiran nulis kecoak. Tapi aku nggak mau nulis tentang fantasi yang lagi booming. Kalo fantasi, fantasinya nggak boleh nanggung. Udah banyak buku fantasi nanggung yang akhirnya membuat reaksi pembaca juga tanggung hehe. Karena kapasitas imajinasiku masih nanggung, ya udah, aku bikin model seperti di buku itu.

Detik-detik mau nulis novel ini, aku baca buku Andy Stanton, serial Mr. Gum. Aku jatuh cinta sama buku ini. Buku superkacau, super-nggak-masuk-akal, supernyleneh, dan superlucu. Tapi buku ini, mendapat penghargaan. Trus, sebelum nulis buku ini, aku bela-belain nonton kartun, Tintin, sendirian ke 21. Aku nonton Shaun The Sheep juga. Aku nggak mau konflik di bukuku ini datar dan membosankan. Soalnya aku juga rewel perkara bacaan.

Awalnya, isi buku ini kacau. Nggak masuk akal. Tapi diminta editor agar dibuat rada masuk akal hahahaha. katanya mirip Sponge Bob. Aku seneng aja disebut seperti itu.Ya udah edit sana sini, pangkas sana sini karena over words. Aku kebanyakan ngoceh di buku ini :P.

Novel ini bercerita mengenai aksi tiga kecoak yaitu: Sonon ( menetas pada hari Senin), Robo (menetas pada hari Rabu), dan Komos (menetas pada hari Kamis). Para kecoak ini tinggal di halaman belakang rumah Bu Surti, seorang pembuat kue Pilus. Karena mereka kerap diejek Pus (kucing Bu Surti) sebagai makhluk menjijikkan dan nggak berguna, para kecoa ini lama-lama jengkel juga. 


Robo berangan-angan jadi seorang pahlawan biar nggak diolok-olok lagi. Nah, angan-angan Robo diremehkan kedua saudaranya. Tapi setelah Robo menceritakan kisah cacing tanah pada kedua saudaranya, mereka mulai tertarik.

Kan kalo mau jadi pahwalan kudu kuat tuh. Esok hari, ketiganya bangun subuh, lalu berolahraga. Lari keliling pohon mangga. Habis lari, latihan beban. Pake baut bekas. Psst! Ini sama kayak yang nulis. Biar sehat dan punya body proporsional, hobi banget lari sama angkat beban hihihi. Cewek kudu cantik dan sehat dong yah... *ngelantur :P

Ketika antusiasme ketiga kecoa lagi tinggi-tingginya, sebuah kabar menakutkan tanpa sengaja didengar Komos. Bu Surti berniat membuat taman. Itu berarti, wajan bekas yang menjadi tempat tiga kecoak bernaung, bakal digusur. Itu berarti nasib ketiganya terancam. Mereka galau berat membayangkan menjadi kecoak gelandangan.

Pas mau nyari remah-remah pilus di dapur Bu Surti, mereka kaget. Dapur Bu Surti masih tertutup rapat. lampu di samping rumah masih menyala. Mereka memutuskan menyusup ke dapur. Sepi. kemana Bu Surti? Setelah diselidiki, ternyata Bu Surti sakit. Kelihatannya sakit parah.

Ketiga kecoak nekat beraksi. Mereka pulang, mengenakan helm dan pelindung lutut dari stirofom, kemudian lari ke pinggir jalan. Mereka melompat pada motor penjual lumpia. Tiba di Puskesmas, mereka mendarat di sana. Adegan para kecoak saat berusaha memancing sang dokter Puskesmas mengunjungi rumah Bu Surti, cukup seru. Ada adegan kejar-kejarannya. Ada celetukan-celetukan yang waktu aku baca beberapa kali, bikin senyam-senyum sendiri.

Berhasilkan ketiga kecoak mewujudkan impian mereka? Apakah mereka selanjutnya jadi akur dengan Pus? Baca saja bukunya :).

Pokoknya kisah Tiga Kecoak Pahlawan ini lucu dan seru. Coba deh, cari di toko buku. Sebelum memutuskan beli, pinjam dulu sama yang udah punya. Atau baca buku yang udah dibuka, tiga halaman pertama aja. 


Kalo dirasa oke, silahkan beli. Kalo nggak, ya sudah. Beli buku anak lainnya saja. Karena pendapat tiap orang terhadap buku bacaan beda-beda. Aku nyadar nih. Bagiku, Twilight series, bikin ngantuk. Tapi bagi yang lain, sangat wow! Bagiku Harry Potter series, sangat impressive. Tapi bagi sebagian orang, nggak. Bahkan dikutuk habis-habisan. Ada ibu-ibu yang ngelarang anaknya megang buku sihir-sihir begitu.  Ini kenyataan. Kalo ada emak-emak mendelik gara-gara milih buku tentang kecoak, ya wes nggak apa-apa.

Berkaca dari kejadian tersebut, aku nggak mau bilang kalau bukuku: BAGUS. Yang menilai adalah pembaca. Tugasku adalah berusaha menulis dengan usaha terbaik. Novel tipis ini, openingnya aja aku rombak sekitar 6xan loh. Openingnya aja. Paragraf pembukanya. Meski pada akhirnya terpaksa aku pangkas karena kelebihan jumlah kata. Dan waktu mau nulis buku ini, aku maraton baca buku anak. Harry Potter 1, I Was A Rat, Mr. Gum & Goblin, dan The Gate. Aku kepingin, deskripsiku enak dibaca, aku kepingin tulisanku mengalir. Soalnya aku kan nulis cerpen buat media remaja, anak, dewasa. Khawatir kecampur-campur.

Mmm... Segitu aja deh sekilas cerita mengenai buku baruku, "Tiga Kecoak Pahlawan". Yang udah beli, mohon pinjemin pada yang belum bisa membeli, biar buku ini menyebar kemana-mana. Biar anak-anak terhibur. Biar mereka ketawa. Tapi kalau emang mau beli, aku juga seneng hihihi.Oke deh, selamat membaca aja, bagi yang pegang bukunya ya :) Oya, buku Tiga Pahlawan Kecoak ini nggak cocok bagi:


- orang yang anti-tertawa
- orang yang realistis
- orang yang nggak suka berimajinasi
- dan orang yang nggak suka buku cerita





Dan jangan lupa, just info nih, coming soon ada buku baru lagi terbitan BIP, KUMPULAN DONGENG SUPER ANEH. Lagi diilustrasi. Isinya? Dongeng-dongeng lucu yang nggak masuk akal. 


Oke deh. Segitu aja. Met baca :)


JAGA KECANTIKAN DIRI, JAGA LINGKUNGAN

Jerawatan? Wajah kusam? Itu adalah masalah kulit saya sejak SMA. Kalau cuma kusam masih lumayan lah. Yang membuat tidak percaya diri adalah ...