Tuesday, 31 July 2012

Cerpen ini dimuat Majalah Mombi tahun 2011


SEPATU BARU BLUP

Oh! Alangkah senangnya Blup! Dia baru saja mendapat hadiah ulang tahun dari Nenek. Sepasang sepatu perak berhiaskan lukisan bunga-bunga musim semi berwarna-warni. Bagus sekali.
“Terima kasih, Nek. Ini sepatu terindah yang pernah kutemui di Negeri Kurcaci,” kata Blup gembira.
“Benarkah? Wah, kalau begitu, kau harus menjaganya supaya tidak lekas rusak,” balas Nenek.
Blup mengangguk mantap. Dalam hati ia berjanji akan merawat sepatu barunya itu dengan baik.
Esok harinya, Blup akan berangkat ke sekolah para kurcaci. Ia mengenakan seragam hijau. Tak lupa ia mengenakan sepatu barunya. Blup tersenyum-senyum sendiri membayangkan reaksi teman-temannya nanti. Pasti mereka akan kagum setengah mati. Tentu saja. Belum pernah ada kurcaci yang memakai sepatu perak seindah miliknya.
“Kau yakin akan memakai sepatu barumu, Blup?” tanya Ibu.
“Tentu saja, Bu. Aku sudah tak sabar ingin pamer pada teman-temanku,” sahut Blup.
“Hari ini cuaca mendung. Tidakkah kau ingin mengenakan sepatu lamamu saja? Takutnya nanti hujan.”
“Tidak. Aku yakin sekali hari ini tak kan hujan. Bukankah kemarin juga mendung begini? Nyatanya tak ada hujan. Hanya gerimis sebentar,” elak Blup.
Ibu pun tak berkata apa-apa lagi. Ibu paham, bila Blup sudah menginginkan sesuatu, sulit untuk dialihkan. Di sekolah, teman-teman Blup terperangah melihat keindahan sepatunya.
“Wah, bagus sekali sepatumu,” puji Flip.
“Yah, mirip sepatu para peri. Tau kan?” timpal Snip.
“Oh, benar-benar bagus,” imbuh Glin.
Semua suka. Semua takjub. Blup senang dirinya jadi bahan pujian. Siang pun datang. Pelajaran di sekolah telah usai. Blup dan teman-temannya bersiap pulang.
Di tengah jalan, mendadak petir menggelegar. Saat Blup menengadah, tetes-tetes hujan terjun dari langit seolah menyerang bumi. Dalam sekejap Blup dan teman-temanya basah kuyup. Mereka berlari agar segera tiba di rumah.
Syukurlah Blup sampai di rumah dengan selamat. Ia segera berganti pakaian. Ibu telah menyiapkan segelas coklat panas dan kue macaroni hangat di meja. Ketika hendak melepas sepatunya, Blup terbelalak.
“Ya ampun! Sepatuku jadi coklat begini!” pekiknya panik.
Blup menangis meratapi sepatu barunya. Sepatu perak itu kini berlumur lumpur, basah, dan bau. Tak menarik lagi. Melihat Blup sedih, ibu tersenyum. Yah, Ibu akan membersihkan sepatu Blup. Dan sepatu tersebut akan kembali indah. Tentu saja, setelah Blup menyadari kekeliruannya.

Sunday, 29 July 2012

Cerpen yang dimuat Majalah Chic, 11 Juli 2012


RIVALKU ATASANKU

Apa? Pindah ke Departemen Pemasaran Divisi Biskuit? Tenang. Jangan shock dulu. Ini bukan perkara sulit kok. Malah lebih bagus lagi karena siapa tahu nantinya yang duduk di kursi Brand Manager itu adalah.. Ya. Aku. Walaupun entah harus menunggu berapa tahun lagi. Tapi kalau mulai minggu depan aku harus pindah ke sana, rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Bayangkan. Aku akan satu ruangan dengan Miss Snatcher yang menurutku tidak cantik tapi merasa cantik. Bukan hanya itu, karena dia yang berada di “hot seat” brand manager, maka bisa dipastikan akulah yang jadi kacungnya. Astaga! Bagaimana mungkin aku bisa tahan dengan perempuan yang telah menjambret (makanya kusebut dia Snatcher) pacarku itu hingga membuat kami jadi batal bertunangan dan aku jadi jomblo merana begini. Apalagi dia akan jadi atasanku.
Diam-diam aku menyesal mati-matian menyuguhkan performance kerja yang bagus. Seandainya aku tidak terlalu workaholic, mungkin sampai bulan depan pun aku akan berada di bilik Departemen Purchasing. Aku memang jomblo merana tapi setidaknya aku tak perlu berlama-lama menatap rivalku yang jelas-jelas menang. Mendadak terlintas di kepalaku, Miss Snatcher duduk anggun seraya mengobrol atau mungkin bermesraan dengan Erik, mantanku. Ulu hatiku serasa ditusuk-tusuk.
“Udah, La. Nggak usah terlalu dipikirin. Vika nggak seburuk yang kamu bayangkan kok,” Ratna muncul tanpa kusadari dari balik pintu toilet, berusaha menghiburku. Selama ini, dia memang partner yang seringkali kujadikan tempat berkeluh kesah.
“Aku nggak mikirin kok. Cuma kepingin cuci muka aja makanya ke sini,” elakku. Entahlah. Saat ini aku malas mengurai kegelisahanku.
“Syukurlah kalau kamu siap. Jangan sampai nanti air matamu meleleh kalo Erik datang ke ruangan Vika. Atau kalau pas mereka lagi telpon-telponan. Gengsi dong.”
Aku mengangguk mantap. “Hubunganku dan Erik kan udah berakhir, Rat. Ngapain harus nangis-nangis lagi,” aku berusaha tersenyum.
Ratna menatapku penuh selidik, kedua matanya menyipit. “Yakin?” Ia mencoba memastikan.
“Yakin!” balasku mantap. Tiba-tiba saja hatiku juga ikut mantap. Tak ada yang perlu ditakutkan di ruangan Marketing. Aku akan menghasilkan ide-ide yang brilian untuk mendukung brand equity yang ditangani Vika. Bisa jadi dia akan mempromosikanku naik jabatan. Mungkin Ratna benar. Dia tak seburuk yang kukira, meskipun aku tahu fakta kalau dia pernah jadi Miss Snatcher. Tapi siapa tahu Vika akan memperlakukanku dengan baik. Tapi, eng.. Benarkah??
oOo
Sisa hari setelah Senin berlalu secepat angin. Tahu-tahu sudah hari Senin lagi. Mood-ku kacau balau menjelang berangkat ke kantor. Aku sudah bersiap sejak pukul lima pagi. Memilih baju, aksesoris, tas, warna lisptik dan eyeshadow yang bagus dan cocok. Aku tak mau terlihat kalah keren di mata Vika. Sebagai seorang Brand Manager, sehari-hari Vika berusaha agar selalu tampak berkilau di kantor. Pantas saja Erik lebih tahan pacaran sama dia daripada aku yang memang cuek dalam berpenampilan. Jarang sekali aku meluangkan waktu demi mencocokkan baju dengan tas atau make up. Karena menurutku, itu hanya buang-buang tenaga saja.
Vika sudah bersilang kaki di balik meja begitu aku masuk. Tumben dia datang lebih awal? Jangan-jangan, dia sengaja merencanakan kegiatan ploncoan layaknya penerimaan mahasiswa baru dan menungguku untuk dikerjai. Oh, sial! Harusnya aku tadi tidak hanya memasukkan lipstik ke dalam tas. Tapi juga pemukul kasti. Jadi bila dia mulai cari gara-gara, aku bisa menyabetnya terlebih dahulu hingga tak berkutik.
Perempuan itu mendongak anggun. Seolah di antara kami tak pernah ada masalah, Miss Snatcher tersenyum super ramah sembari menyilakanku duduk. Anehnya, aku langsung menurut begitu saja. Dia begitu menghipnotis. Mungkin ini faktor kedua yang mampu mengalihkan cinta Erik dariku. Pesona Vika membuat Erik terhipnotis dan langsung jatuh cinta.
Tanganku mulai merogoh isi tas, meraba setiap benda yang ada di sana siapa tahu bisa berguna kalau dia mulai macam-macam. Sayangnya yang kupegang hanya lipstik, sisir, bedak, coklat.. Yah hanya itu.
“Selamat bergabung di divisi ini, Lala. Ehm.. Saya tau performancemu cukup diandalkan di Departemen Purchasing,” dia berdehem sebentar lalu melanjutkan,”Saya berharap, ide-idemu mampu mensupport brand equity divisi kita di sini. Kita tahu biskuit Healthy sudah mulai cukup populer di masyarakat, padahal masih tergolong produk baru. Tapi tentu saja kita tidak boleh langsung puas. Kita harus bisa membuat produk tersebut melekat pada konsumen. Yah.. Kamu pasti paham maksudku. Kekompakan dalam tim adalah nomor satu”.
Tenggorokanku macet, lidahku seperti di tempeli es batu dari kutub utara. Jadi aku hanya bisa duduk kaku, sementara hatiku terus menerus menghujatnya. Saat kami dilingkupi kesenyapan, dering pendek telepon intern bergema, nyaris membuatku terlompat saking kagetnya. Benakku mulai digelayuti perasaan tak nyaman.
“Halo, Erik”.
Jeda sesaat.
“Lagi ada Lala. Gimana mutu produk terakhir?” Suara Vika terdengar sehalus percikan air di tengah gurun. Harus kuakui dia memang menarik dalam segala hal. Cara bicaranya, penampilannya, bahkan caranya meraih gagang telepon pun tampak mempesona. Mereka terus mengobrol masalah desain packing bermenit-menit lamanya, sementara aku terhenyak tanpa daya memperhatikan perempuan yang berselingkuh dengan mantanku itu. Hatiku tak bisa dibohongi, dia memang lebih unggul dariku. Dalam segala hal.
oOo
Hampir tiga bulan sudah aku jadi Assistant Brand Manager. Ratna memang benar. Vika tak seburuk yang kubayangkan. Bahkan menurutku dia adalah atasan yang cukup perhatian. Seolah hubungan kami bukan antara atasan dan bawahan, tapi mirip teman kerja yang posisinya sejajar. Meski begitu aku masih bergeming menahan jarak dengannya. Dendam itu masih kusimpan. Mungkin dia juga merasakannya. Sejak awal, dia tak pernah sekalipun membicarakan Erik dan kulihat Erik pun tak pernah menginjakkan sepatunya di ruanganku. Kalau bertelepon ria sih masih. Hanya saja telingaku menangkap pembicaraan mereka berkisar seputar pekerjaan saja.
Hingga suatu ketika Vika harus ke Singapura, Erik masuk tanpa kusangka. Langkahnya tegap menuju mejaku. Jantungku bertalu-talu. Mau apa dia kemari? Semenjak putus sembilan bulan lalu, tak pernah sekalipun dia berinisiatif menemuiku. Jangankan bertemu, melirik pun saat berpapasan saja tidak. Erik menyeret kursi. Melihat wajahnya yang terpahat begitu sempurna nyaris membuat tatapanku tak bisa teralihkan.
“Apa kabar, La?”
Aku berusaha meliukkan bibir untuk tersenyum. “Baik. Tumben nih pagi-pagi? Ada apa?” Suaraku kubuat seriang mungkin.
“Nanti malam free?”
Aku terlongo. Dahiku mengerut dalam. Kenapa Erik bertanya begitu? Apakah dia berniat mengajakku kencan? Wow! Alangkah berbinarnya duniaku jika memang hal itu terjadi. Aku serasa mencuri piala emas Vika yang sudah digadang-gadang selama berbulan-bulan. Lihat saja, Vika. Kamu bisa saja berbangga hati bisa menggaet si ganteng Erik. Tapi di belakangmu, pria tersebut ternyata diam-diam mendambaku.
“Nggg.. Kenapa?”
“Mau ngajak makan malam. Udah lama banget nggak makan ama kamu.”
Kurasakan ribuan confetti tak kasat mata berhamburan menghujaniku. Beruntung aku mampu menahan diri untuk tidak bersorak dan menandak-nandak kegirangan. Erik mengajakku makan malam? Setelah sekian lama mengabaikanku? Sungguh sebuah kejutan! Tapi, tunggu dulu! Kok tiba-tiba dia menemuiku justru saat aku sudah masuk divisi ini? Bukankah lebih bebas kalau dia melakukannya ketika aku masih berkutat di Purchasing agar tidak ketahuan Vika? Tapi ya sudahlah.. Yang penting nanti malam kami bisa bersama lagi.
Aku tersenyum samar. “Oke”, putusku dan semoga dia tak melihat betapa merahnya pipiku.
“Baik. Jam tujuh aku jemput. See ya..”
Senyum Erik menutup pertemuan terlarang kami. Dia bangkit. Sebelum menarik pintu, entah sengaja atau tidak, di mengerling padaku. Astaga! Dadaku berdentang-dentang seakan luluh lantah dan hatiku meleleh. Dalam sekejap rasa sakit yang belum kunjung sembuh itu raib, tergantikan oleh harapan dan cinta yang menungguku nanti malam. Tapi.. Kok rasanya aneh ya? Ah, sudahlah! Bukankah cinta memang terkadang cukup rumit dinalar?
oOo
Erik terlihat bagai model televisi masuk café. Tubuhnya yang kekar terbalut kaos biru bertuliskan “My Love”. Aku tak tahu apakah tulisan tersebut menyiratkan perasaannya padaku ataukah dia sekedar asal ambil di dalam lemari karena memang menyukainya. Yang jelas malam ini dia sangat menawan. Kami duduk berhadapan di sudut café yang dulunya biasa kami datangi. Momen-momen manis masa lalu berkeliaran menyeruak berhamburan dari kotak memoriku. Aku berharap Erik juga merasakan hal serupa. Setelah memesan menu, Erik mulai menghadapkan pandangannya padaku.
“Lama nggak ketemu kamu. Kangen,” ia tersenyum tipis.
Aku tak mampu menahan diri. “Kamu sih. Sok cuek kalo ketemu. Seolah aku ini invisible,” tiba-tiba uneg-unegku meluncur begitu saja.
Erik terkekeh. Aku menghela napas jengkel. Jengkel dengan kegembiraan yang ia tawarkan sedangkan aku bergulat dengan rasa yang menyesakkan. Dasar Erik!
“Hey, dengar! Aku nggak bermaksud begitu. Yah.. Agar Vika nggak cemburu aja..”
Sumpit di tanganku terkatung di udara. Sesaat sulit bagiku untuk memercayai pendengaranku. Agar Vika tak cemburu? Maksudnya?
“Kok?”
“Kamu pikir yang nyuruh kamu masuk divisi biskuit itu siapa?”
Mulutku masih menganga.
“Aku, La,” lanjut Erik enteng.
“Aku mempromosikan kecakapanmu pada Vika. Tentu saja awalnya dia keberatan. Tapi. Dia kan harus bersikap professional demi perusahaan.”
Aku masih belum mampu mencerna penjelasan singkat Erik. “Tujuannya?”
“Astaga! Kamu lupa atau gimana? Ayahku pemilik Nusantara Food, ingat? Tentu saja aku harus tahu strategi marketing divisi biskuit Healthy. Kemajuan Healthy cukup pesat bersaing ketat dengan Milkuit dari Nusantara Food. Sebagai calon pewaris tunggal perusahaan tersebut, aku juga nggak mau Nusantara Food kalah.”
Sumpitku jatuh menghantam hot plate. Ya ampun! Kenapa aku tak berpikir sampai ke sana? Jadi Erik hanya memanfaatkan Vika saja? Oh, seandainya Miss Snatcher itu tahu dirinya cuma diperalat. Aku sendiri saking kagetnya tak mampu berkomentar apa-apa.
“Sekarang ada kamu di divisi itu. Aku butuh segala informasi penting yang berkenaan dengan brand equity. Tapi jangan sampai Vika tahu. Gimana, sayang?”
Dadaku bergemuruh. Tak pernah kusangka sebelumnya Erik akan memelihara niat sepicik itu. Mungkin dari segi persaingan antara aku dan Vika, akulah yang diam-diam keluar jadi pemenangnya. Tapi sayangnya, dalam kompetisi kali ini, aku tak berminat sama sekali jadi juara. Aku muak pada Erik. Dia bermain licik. Benih-benih cinta yang mulai meyubur raib seketika disapu kenyataan yang baru saja ia akui. Aku tak kuasa berlama-lama lagi. Maka aku bangkit sambil menggertakkan gigi karena emosi, tak peduli pada makanan yang masih tinggal tiga perempat.
“Sori! Kurasa aku nggak minat mendukung rencana bodohmu itu! Selamat malam!”
Kusambar clutch bag putih di tepi meja lalu melangkah mantap meninggalkan Erik yang termangu. Hatiku digerogoti rasa geram tak berkesudahan. Mendadak aku bahagia tak lagi menjalin hubungan dengannya. Seenaknya saja dia memanfaatkan perempuan. Lalu Vika? Yah, kurasa aku harus benar-benar total mendukung perempuan itu. Dan entah mengapa, detik ini aku sangat merindukannya.



Saturday, 28 July 2012

Masakanku Buat Diet (Ini resep ngawur tapi lumayan lah :P)

 ORAK ARIK TELUR WORTEL

 Bahan:

2 butir telur
1 buah wortel, iris seperti korek api
1 sdm saus sambal
1 sdm saus tiram
2 siung bawang putih

Cara membuat:

Geprek bawang putih, rajang lembut.

Panaskan minyak, tumis bawang putih sampai harum.

Masukkan telur, aduk-aduk sampai berbulir-bulir.

Masukkan wortel, aduk-aduk.

Masukkan saus tiram, kecap, aduk terus sampai matang.

Sudah deh. Beres. Tinggal dimakan dengan ubi merah. Tapi makan karbohidratnya (ubi merah) terakhir. Kudu kenyang ama sayur & protein dulu. Enak kok. Walaupun jujur, masih enak nasi goreng Jawa :D. Ups! Jangan tergoda ^^

Dimuat di Percikan Majalah Gadis tahun 2011


HUTANG

Aku tengah asyik melamunkan long dress bunga-bunga incaranku ketika mendadak Sofia muncul dan menjawil lenganku. Reflek aku memalingkan wajah. Kulihat Sofia menatapku dengan ekspresi tegang.
“Luh, aku abis kecopetan. Padahal di dompetku ada uang SPP. Aku.. Bisa pinjem uangmu nggak? Lusa aku ganti deh,” pinta Sofia melas.
Waduh. Kasian juga Sofia. Tapi, kalo uangku dipinjem dia, berarti ntar sore batal dong beli gaun idamanku itu. Padahal aku udah mimpi beli dari dua minggu lalu. Sampe bela-belain absen jajan di kantin demi menghemat uang. Mmm.. Gimana ya?
“Berapa, Sof?” tanyaku sedikit berat.
“Seratus lima puluh aja. Aku masih punya duit di ATM dua ratus. Please…”
Hmm. Apa boleh buat. Ya sudahlah. “Oke deh. Ntar istirahat pertama aku ke ATM dulu,” putusku akhirnya.
Sofia tersenyum lega. Dia meremas tanganku seraya berbisik,”Terima kasih, Sista.
oOo
Hari ini Sofia janji mau bayar utangnya tempo hari. Namun sejak pagi tadi, dia belum nyerahin uangku. Nggak ngomong apa-apa pula. Jadi rada was-was juga. Pasalnya aku ini siswa baru. Kenal Sofia juga baru sebulanan. Takutnya Sofia kayak temen-temenku di kota sebelumnya. Pura-pura amnesia kalo punya utang. Mau nagih nggak enak, tapi kalo dibiarin, malah ngelunjak.
Diluar dugaan, pas istirahat Sofia justru nraktir aku di kantin. Dia bilang lagi dapet rejeki. Dia juga pamer kalung cincin emas putihnya padaku. Pikiranku mulai berburuk sangka. Jangan-jangan tempo hari dia pinjem uang cuma buat alasan doang. Kalo beneran gitu, bisa rugi di aku.
Sampai bel pulang berdering pun, Sofia nggak kunjung menunjukkan tanda-tanda mau bayar utang. Malah dia cepet-cepet pergi, padahal biasanya kita biasanya pulang bareng.
“Aku mau ke mall dulu,” katanya sambil melambaikan tangan. Aku terperangah menatap kepergiannya. Sofia benar-benar udah lupa sama hutangnya.
Tubuhku langsung lunglai. Setiba di rumah, kulemparkan tasku begitu saja. Bad mood jadinya gara-gara Sofia. Kuhempaskan badanku di kasur.
Terdengar ketukan di pintu kamar. Aku gelagapan. Rupanya aku ketiduran. “Galuh! Ada temenmu tuh!” panggil Ibu dari balik pintu.
Temen? Siapa? Sofia kah? Ah, nggak mungkin. Dia nggak bilang kalo mau ke sini kok. Tadi pamit mau ke mall. Ibu kembali memanggilku. “Iya bentar,” jawabku.
Aku segera bangkit, keluar menuju ruang tamu. Sofia duduk menunggu sambil cengar-cengir. Aku berusaha tersenyum.
“Hai, Sof. Tumben nih,” ujarku berbasa-basi seraya ngelirik pada tas-tas belanjaan Sofia. Busyet! Nih cewek ngeborong apa aja kok banyak banget. Hatiku makin panas.
“Tadi abis beliin baju buat adik-adik.”
“Trus?” tanyaku sambil pasang tampang cuek. Jangan-jangan mau ngutang lagi nih.
Sofia membuka tas ranselnya, mengulurkan tas butik warna pink. “Buat kamu. Aku lagi dapet rejeki. Menang lomba bikin esai lingkungan hidup,” kata Sofia sumringah.
Aku terlongo. Dengan gemetar kuterima tas dari Sofia, kubuka. Astaga! Mataku mendelik. Long dress bunga-bunga.
“Maaf ya, Luh. Bayarnya telat. Ini uangmu. Makasih ya,” lagi-lagi tangan Sofia terulur memberikan tiga lembar uang lima puluh ribuan.
Aku masih terpaku. “Kok jadi shock gitu, Luh? Nggak suka bajunya ya?” Sofia tampak khawatir.
Lidahku kelu. Tak mampu berkata apa-apa lagi, langsung kupeluk Sofia. Perasaan bahagia bercampur rasa bersalah membaur menyesaki dadaku.
“Makasih, Sista,” bisikku.

Friday, 27 July 2012

Menu Diet Praktis Tadi Malam

TUMIS AYAM SAOS TIRAM.

250 gr fillet ayam, potong-potong tipis.
Taoge sesuka hati
2 siung bawang putih, geprek, rajang lembut.
1 sdm kecap manis
1 sdm saos tiram
1/2 sdt merica bubuk
2 sdm minyak canola

Caranya:
Lumuri ayam dengan kecap, saos tiram, dan merica bubuk. Diamkan, 15-30 menit.

Masukkan minyak canola ke dalam wajan atau magic com, setelah panas, tumis bawang putih sampai benar-benar harum.

Masukkan ayam yang sudah didiamkan tadi, tumis hingga matang.

Terakhir, masukkan taoge. Aduk hingga matang.

Udaaaaaahhh :). Simple banget!

Aku, Diet, dan Memasak.

Yuhuuuu!! Akhir-akhir ini aku getol masak. Hobi? Nggak! Pengen belajar? Nggak! Terus? KARENA AKU MAU NGATUR POLA MAKAN. Biar berat badanku kembali seperti semula. Aku ceritain kronologinya.

Aku mulai mengatur pola makan seminggu sebelum Ramadhan. Awalnya udah banyak baca teori nurunin berat badan. Mulai dari makan oatmeal, kentang, diat nggak makan nasi (dan perutku langsung protes), olahraga dua kali @60 menit (aku langsung stres. udah capek plus bagi waktunya susah) sampai makan nasi merah. Mana camilannya cuma buah pula. Bukannya nggak suka buah. Kupas-kupasnya itu lho yang males. Belum iris-irisnya. Biyung! Ribetnyaaaaaaa! Bukannya berat turun, aku makin gila makan. Karena itu tadi. Stres. Coklat, es krim, gorengan aku ganyang tanpa ampun.

Nah, suatu ketika, aku lagi marahan sama teman. Pokoknya dongkol aja. Mau ngapa-ngapain males. Akhirnya Twitteran. Eh, nemu Twitter bang Ade Rai. Baca baca baca.. dan... Wow! Jadi pengen diet lagi. Beliau kasih motivasi, cara makannya tuh gimana, olahraganya bagaimana. Simple Boooo! Lari cuma 20-30 menit (awalnya badanku kayak diserang tawon). Trus latihan beban. Pikiranku aneh-aneh aja pas latihan beban. Eh, ternyata simple juga Booooo! Ahay! Aku makin semangat.

Nah, karena serba simple, aku termotivasi. Tapi syaratnya cuma satu. Diusahakan nggak makan makanan berminyak dan bergula pasir. Mulailah aku makan rebus-rebusan. Bu Dheeeeee!!! Tersiksa banget. Pikirku, hidup cuma sekali kenapa aku kudu makan beginian ya? Hunting lagi. Nemu Twitter Denny Santoso. Ada website-nya ada resep-resepnya. Ternyata, boleh pake minyak buat numis. Dan minyaknya diusahakan BUKAN minyak kelapa sawit. Tapi Minyak Canola. Jrengg!!

Aku nggak punya pilihan. Segera aku hunting ke Supermarket besar (Giant),  beli minyak Canola merk Dougo. Harganya 48 ribu seliter. Udah deh, numisnya pake Canola Oil. Karena anak kos, aku masaknya di Magic Com. Dapur ada di bawah, tapi aku malas naik turun. Buang waktu pula.

Magic Com tuh emang totally magic deh. Bisa numis juga ternyata. Caranya?? Ambil sesendok minyak, tuang, tutup. tekan tombol "cook". Kalo udah njeglek ke tombol "warm", baru deh mulai numis. Trus kadang kan tombolnya suka pindah ke "warm" ya, itu karena bebannya kurang. Pegangin aja, tekan maksudku pake serbet. Wadah dalamnya itu yang ditekan. Pasti bakal "cook" terus.

Dalam kurun waktu dua minggu lingkar pinggangku udah berkurang 8cm-an. Oya, aku masak macem-macem. Pokoknya gimana caranya biar aku tetep makan enak tapi sehat. Nasinya aku ganti Ubi Merah. Ubi yang dalemnya oranye tuh lho. Karena itu bagus. Wenak wes!

So, yang mau diet tapi nggak kelaparan, atau nggak mau berpucat-pucat ria kayak mayat, atau bahkan ada yang sampe kena masalah lambung, go to Twitternya Ade Rai dan website Denny Santoso untuk cari tau resepnya.

Dimuat Kompas Anak tahun 2012


SRIKAYA UNTUK DODI

“Ful!!”
Aku menoleh seketika. Kulihat Wiro berlari dari gerbang sekolah menuju ke arahku. Aku menahan langkah menunggunya.
“Ful, Dodi masuk rumah sakit. Kena Demam Berdarah. Tadi pagi ibunya nitip surat ijin sama aku,” ujar Wiro dengan nafas ngos-ngosan dan keringat berleleran di keningnya.
Aku terperangah. Dodi adalah teman sebangkuku, sekaligus sahabat dekatku. Selama empat tahun aku bersekolah di SD Ketawanggede ini, belum pernah sekalipun Dodi absen karena sakit. Masih lekat dalam ingatanku kemarin Dodi mengeluh badannya sedikit meriang, pusing, dan merasa kedinginan. Mungkin itu gejala Demam Berdarah. Kasihan sekali Dodi.
“Kita nggak jenguk?” tanyaku sembari mulai melangkah menuju kelas.
“Nanti sore ibuku mau ke sana. Aku mau ikut. Kita bareng aja. Sekalian tanya temen-temen siapa tau ada yang mau ikut juga”
Aku masih tercenung memikirkan Dido yang tergolek di rumah sakit. Sekilas kudengar Wiro sudah mulai menyebarkan pengumuman pada teman-teman.
“Kamu bawa apa ke rumah sakit?” tanya Sri pada Galuh.
“Mungkin Apel. Kamu sendiri?” Galuh balik bertanya.
“Mungkin buah Pear. Biasanya Ibu bawa Pear kalo jenguk orang sakit,” jawab Sri.
Mendadak hatiku diliputi rasa galau. Kalau aku bawa apa?? Jemblem? Pisang Goreng cacah? Aduh, kok rasanya malu. Kelihatan kurang elit. Tiba-tiba saja aku ingin membatalkan rencana kunjunganku menjenguk Dido. Tapi alasannya apa? Bukankah aku yang mengusulkannya tadi?
oOo
“Kenapa Ful? Dari tadi kok mondar-mandir terus?” tanya Nenek.
“Temenku sakit, Nek. Sekarang diopname.”
“Astaga!” Nenek meletakkan adonan Jemblem, menatapku penuh simpati. Setelah orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat mudik ke Ponorogo empat tahun silam, aku tinggal berdua dengan Nenek. Demi mencukupi kebutuhan kami berdua, beliau berjualan Jemblem dan pisang goreng tiap sore. Pagi harinya Nenek berjualan nasi pecel.
“Trus kamu nggak ke sana? Nanti Nenek antar naik angkutan. Kita bawa Srikaya. Kalo Jemblem masih belum digoreng. Pisangnya juga belum diiris. Kebetulan Srikaya-nya sudah bisa dimakan. Cocok buat orang sakit.”
Srikaya? Ke rumah sakit bawa buah Srikaya? Aduh.. Bagaimana cara makannya? Bijinya bergerumbul begitu. Pasti ribet. Lagi pula, apa Dodi mau makan Srikaya? Itu kan buah orang kampung, sementara dia anak orang kaya. Batinku makin galau saja.
“Nggak usah deh, Nek,” sahutku dengan nafas berat.
“Eeeh, kamu ini gimana sih? Itu resep baru. Tadi Nenek liat di tivi. Maksud Nenek mau dijual tapi lebih baik kita bawa saja buat temanmu.”
Resep? Apa sih maksud Nenek? Belum sempat aku membantah, terdengar deru mobil memasuki halaman. Sri, Galuh, Wiro dan ibunya turun dari sebuah mobil sedan warna putih. Gawat! Nenek keheranan. Tapi Ibu Wiro segera memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya yaitu menjemputku ikut ke rumah sakit. Nenek mengangguk-angguk setuju, kemudian beliau masuk dan kembali dengan sebuah kresek hitam besar di tangannya. Aku enggan bertanya-tanya lagi. Pasti itu Srikaya. Daripada nanti ketahuan Wiro, Galuh, dan Sri, pasti makin malu lagi aku.
Setiba di rumah sakit, Dodi tampak gembira menyambut kedatangan kami. Aku sebenarnya juga bahagia bertemu dia. Tapi perasaanku masih kurang nyaman dengan Srikaya yang selanjutnya sudah kuserahkan pada Ibu Dodi.
“Gimana kondisimu?” tanyaku berusaha mengenyahkan kata “Srikaya” dari kepalaku.
“Masih agak lemas sih. Eh, kamu ngapain repot-repot segala,” balas Dodi.
Aku hanya tersenyum. Mendadak Ibu Dodi memekik.
“Wah, puding dari Saiful enak. Rasa buah Srikaya. Beli di mana, Ful?”
Aku menoleh. Ibu Dodi dan Ibu Wiro, juga Sri serta Galuh, memegang puding kotak berwarna hijau pandan yang berselimut plastik. Mereka mengunyahnya begitu lahap. Mataku mengerjap bingung. Tapi begitu melirik wadah puding yang amat kukenal di atas meja, barulah aku mengerti. Rupanya Nenek membuat puding dari buah Srikaya yang bergelantungan lebat di sebelah rumah. Kelegaan menjalariku.
“Enak ya? Kapan-kapan kalau arisan bisa pesen. Beli di mana sih, Ful? Ditanya dari tadi malah diem?” ujar Ibu Wiro sambil tersenyum.
Aku salah tingkah. “Nenek yang buat, Tante,” sahutku malu-malu campur bangga.
“Nenekmu?” celetuk Dodi. “Bu, minta dong. Nenek Saiful ini emang pinter buat kue. Jemblemnya enak lho. Apalagi pisang goreng cacahnya. Mmm… Lezat. Makanya jualannya laris,” cerocos Dodi.
Ibu Wiro dan Ibu Dodi mengangguk-angguk takjub. “Wah, bisa pesan kue kalau begitu. Kadang ibu-ibu arisan bosen sama roti-rotian. Nanti Tante pesen deh,” kata Ibu Dodi.
“Iya nanti saya sampaikan,” balasku dengan hati mengembang karena bahagia.
“Wah, pudingnya mau habis,” Wiro bersuara.
“Iya. Kurang ya. Enak sih,” timpal Galuh.
“Minggu depan main ke rumahmu ya, Ful. Aku minta pudingnya, jemblemnya, pisang sama goreng cacahnya,” Sri mengutarakannya terang-terangan.
Seisi kamar tertawa mendengar kepolosan Sri. Seandainya tadi Jemblem dan pisang gorengnya sudah matang, pasti kubawa juga. Ternyata mereka suka. Rasa malu yang sebelumnya mengurungku kini menguap sudah. Sebaliknya aku justru bangga pada keahlian Nenek.

Jemblem: Kue berbentuk bulat, terbuat dari singkong parut atau tumbuk, dan di bagian tengahnya berisi gula merah.



JAGA KECANTIKAN DIRI, JAGA LINGKUNGAN

Jerawatan? Wajah kusam? Itu adalah masalah kulit saya sejak SMA. Kalau cuma kusam masih lumayan lah. Yang membuat tidak percaya diri adalah ...