Wednesday, 12 April 2017

BANK SAMPAH, SOLUSI MENJADIKAN SAMPAH BERNILAI EKONOMIS

Jalan di desa saya




Saya lahir di sebuah desa yang terletak di kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah petani sekaligus peternak. Rata-rata para penduduk di sini menanam padi, jagung, dan tebu. Selain bercocok tanam, mereka juga memiliki ternak seperti sapi, kambing, ayam, angsa, kelinci, dan burung.



Infrastruktur di desa saya sudah bagus

Meski desa saya termasuk jauh dari kota, sekitar 30 menitan naik mobil, tapi insfrasutruktur di sini sudah cukup bagus. Jalan sudah diaspal, listrik sudah ada, air bersih juga melimpah, sanitasi juga sudah lumayan. Mayoritas penduduk di desa saya sudah memiliki kamar mandi sendiri. Meskipun tetap ada segelintir penduduk yang memilih pergi ke sungai atau selokan di pinggir sawah jika musim hujan. Menurut mereka, selokan di pinggir sawah banyak memancarkan mata air kalau musim hujan. Air bersih yang mengalir di sana dimanfaatkan penduduk untuk mandi dan mencuci baju.

Hal yang menjadi masalah saat ini di adalah sampah. Jika musim kemarau sampah tinggal dibakar saja. Namun memasuki musim hujan yang cukup panjang, para penduduk kesulitan membakar sampah. Apalagi jika hujan turun setiap hari. Sampah-sampah yang sudah ditumpuk jadi basah dan bau.

Selokan yang dijadikan tempat pembuangan sampah

Akhirnya para penduduk membuang sampah di selokan. Jadi ada selokan besar di salah satu sudut jalan. Sampah organik maupun anorganik terkumpul di sana. Sampah-sampah tersebut akan hanyut terbawa aliran air jika hujan turun. Memang sejauh ini kampung saya belum pernah kebanjiran. Namun, sampah-sampah yang terhanyut bisa menyumbat saluran air. Akibatnya beberapa penduduk terpaksa turun tangan sambil hujan-hujanan demi melancarkan aliran air. Selain itu, air yang mengandung kotoran ternak dan sampah organik tersebut akan mengaliri selokan-selokan, bahkan sampai ke sawah dan ke sungai. Apa jadinya jika air sungai atau selokan dimanfaatkan penduduk untuk mandi dan mencuci pakaian? Jadi tidak higienis kan?

Sampah yang ikut aliran air

Sejauh ini, masyarakat di kampung saya kurang aware perihal sampah. Meskipun termasuk masyarakat yang masih teguh memegang adat isiadat,  namun adat istiadat di kampung kami tidak memberikan pengaruh terhadap penanganan sampah. Para pemuda yang sudah mengenyam pendidikan tingkat SMA dan universitas pun juga adem ayem saja. Mungkin karena para penduduk sudah terbiasa membuang sampah di selokan sejak dulu kala.

Saya pernah bertanya pada salah satu guru terkait masalah sampah ini. Tanggapan beliau datar-datar saja. Menurut beliau, sudah wajar jika para penduduk membuang sampah di selokan atau dibakar. Karena di desa kan memang tidak ada TPA. 

Nah! TPA! Awalnya saya pikir, mungkin jika dibangun TPA seperti di kota-kota masalah sampah akan beres. Tapi setelah saya pikir ulang, sepertinya keberadaan TPA di desa-desa belum menjadi solusi yang tepat. Sebab warga pasti akan ditarik iuran sampah bulanan. Sementara itu, warga di kampung saya mayoritas adalah petani yang hidup sederhana. Bagi mereka, uang 2 ribu rupiah saja tergolong sayang dikeluarkan jika tidak berkaitan dengan masalah kepentingan perut. 

Suatu ketika saya melakukan kunjungan ke Balai Besar Penelitian kota Batu, Jawa Timur. Di sana sedang diadakan penelitian tentang biogas yang diperoleh dari kotoran ternak yakni sapi. Para petani yang tinggal di sana juga sudah mulai menggunakan biogas dari kotoran sapi untuk memasak. Keren kan?

Kotoran ternak yang akan diolah jadi biogas

Memasak dengan biogas

Menghidupkan listrik dengan biogas

Saya jadi terpikir. Jika saja di kampung saya ada bank sampah, mungkin masalah kebersihan akan teratasi. Jadi dalam bayangan saya, para penduduk nantinya mengumpulkan sampah yang sudah dipilah baik itu organik dan anorganik. Kemudian sampah disetor ke bank sampah lalu pegawai bank sampah membayar sampah yang sudah diserahkan. Misalnya sekilo kertas dihargai 2 ribu. Sekilo plastik dihargai seribu. Sekilo kotoran ayam harganya seribu misalnya. Pasti para penduduk akan giat dengan sendirinya untuk mengumpulkan sampah. Mereka akan sayang buang sampah sembarangan karena satu sampah saja sudah ada nilainya. Nantinya bank sampah akan mengolah limbah rumah tangga menjadi energi. Jadi gas metan misalnya. Energi itulah yang nanti bisa dimanfaatkan untuk memasak dan menyalakan listrik. Seperti biogas-biogas yang sudah mulai digunakan di kota Batu tersebut.

Saya juga pernah membaca di sebuah artikel tentang kampung mandiri. Di sana, sampah-sampah diolah menjadi gas metan yang bermanfaat untuk memasak dan menjadi sumber listrik.  

Jika desa lain bisa, semoga saja desa saya bisa mengatasi masalah sampah.

(Tulisan ini diikutkan untuk lomba #InfrastrukturKitaSemua)










4 comments:

Ocha Rhoshandha said...

halo mbak widya
salam kenal
saya Rhosha
blogger asal lumajang

senang bisa sampai ke blog ini, sama2 lumajang...

Widya Ross said...

Ocha: Salam kenal juga mbak 😊. Makasih ya..

Rani said...

masyarakatnya benar2 peduli lingkungan. beda dengan di perkotaan.

Widya Ross said...

Rani: Iya, Mbak :)

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...