Thursday, 22 December 2016

RESENSI NOVEL TENTANG KAMU: Tentang Cinta, Pengkhianatan, Kegagalan, dan Memeluk Rasa Sakit




“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Nasihat-nasihat lama itu benar, cinta memang tidak perlu ditemukan, cinta-lah yang akan menemukan kita. Terima kasih. Aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu telah terjadi. Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian.” (Halaman 286)

Kalimat di atas menurut saya begitu sederhana tapi menohok. Tentang menerima, tentang melepaskan, juga tentang ketabahan. Saat Tere Liye post status tersebut di Fans Page beliau, saya semakin penasaran tentang isi novel “Tentang Kamu.”

Rasa penasaran semakin berlipat-lipat manakala sebelum rilis 27 Oktober 2016 lalu, tiap buka Facebook maka yang dominan terbaca adalah “Tentang Kamu.” Promosi novel ini gila-gilaan.

Bahkan yang bikin saya terharu adalah ketika spanduk novel ini membentang di tempat-tempat keramaian. Ya Tuhan, walaupun buku ini bukan karya saya, tapi saya senang. Untuk pertama kalinya saya melihat spanduk novel lokal berada di pusat keramaian. Seolah-olah secara nggak langsung mengajak masyarakat untuk membaca. 

Nggak heran begitu rilis, novel ini sudah berdiri gagah di rak best seller. Ok, kenyataan tersebut membuat saya semakin ngotot ingin beli buku ini.

Sinopsis:
Novel ini bercerita mengenai sosok kehidupan seorang perempuan berhati baja, Sri Ningsih. Sri memiliki warisan melimpah namun ia menghabiskan hidupnya di panti jompo di Paris.  Sri sudah meninggal, namun jejak ahli warisnya belum ditemukan. Hingga akhir hayatnya, Sri hidup sendiri.

Adalah Zaman Zulkarnaen, salah satu pengacara internasional khusus warisan, yang ditunjuk untuk menangani kasus ini. Zaman bekerja di sebuah firma hukum internasional berpusat di London. Zaman ditugaskan melakukan penelusuran mulai dari Paris, Pulau Bungi di Sumbawa, Surakarta, lalu Jakarta, kemudian kembali ke London lagi.

Sri adalah anak nelayan yang sejak kecil hidupnya penuh ujian. Ibunya wafat sejak melahirkan dirinya. Kemudian ayahnya wafat saat ia masih SD. Ibu tirinya jadi depresi, akhirnya Sri jadi bulan-bulanan ibu tirinya. 

Belum usai penderitaan Sri, rumahnya terbakar. Ibu tirinya wafat. Ia pergi ke Surakarta. Di sana kehidupannya membaik. Namun lagi-lagi Sri justru dikhianati sahabat baiknya sendiri. Hal inilah yang membuat Sri senantiasa dihantui masa lalu. 

Mampukah Sri menghadapinya?

oOo

Begitulah sekilas sinopsis mengenai novel “Tentang Kamu.” Buku ini sukses membuat saya betah duduk, nggak bisa berhenti. Saya penasaran dengan kelanjutan kisah Sri Ningsih.

Overall, menurut saya buku ini... “KEREN”. Karena keren, saya memutuskan ikut lomba resensinya hehehe. Baiklah, ini dia poin-poin yang bikin buku ini keren.

COVER
Covernya bagus. Sederhana tapi nggak pasaran. Ala-ala novel luar gitu. Rada misterius karena yang dipasang adalah foto sepatu. Jadi berpikir, “Kok sepatu ya? Ini novel tentang apa?”
Mengingat tokoh Sri melakukan perjalanan ke beberapa negara, foto sepatu benar-benar cocok dengan isi cerita.

KARAKTER YANG KUAT
Saya bilang kuat karena usai baca novel ini, karakter tokoh utama begitu melekat. Unforgettable. Mungkin karena sosok Sri di sini digambarkan detail baik itu secara fisik, eksternal alias lingkungan Sri, juga internal atau segi psikologi Sri. Jadi saya tahu apa yang Sri lakukan dalam situasi-situasi tertentu. Saya tahu apa yang bisa bikin ia tersenyum, marah, bahkan sedih. Saya juga jadi tahu bagaimana Sri menyikapi hal-hal paling menyakitkan dalam hidupnya. Sosok Sri serasa nyata.

Tokoh Zaman pun demikian. Saya bisa membayangkan Zaman ini seperti apa. Walaupun porsi cerita mengenai Zaman sedikit. 

Selain itu, seluruh tokoh di sini unik-unik. Ada tukang ojek Kang Sueb yang cerewet. Ada Rajendra Khan yang lucu sekaligus menyebalkan. Ada Ode yang begitu care pada Sri. Ada Lastri dan Nuraeni yang karakternya bertolak belakang. Juga ada Aimee yang lemah lembut. Seluruh tokoh terasa membekas dalam kepala saya, termasuk tokoh yang jahat sekalipun. 

Mungkin selain karena berkarakter unik, para tokoh juga memiliki tujuan yang jelas dan kuat. Sebut saja Sri yang punya tujuan jelas yakni ingin survive dan lari dari hantu masa lalu. Atau Zaman yang pantang menyerah untuk menunaikan amanat Sri dan mengungkap kasus tersebut. Biasanya karakter tokoh yang memiliki strong will atau tujuan yang kuat sekali, akan membuat cerita jadi menarik dan membekas di benak pembaca.

Tokoh favorit saya adalah  Rajendra Khan. Karena dia antik, lucu, dan baik hati. Sementara tokoh yang paling saya benci siapa lagi kalau bukan Lastri. Aduh, dia itu asli, nyebelin. 

Meski demikian ada beberapa poin tentang karakter di novel ini yang bikin saya merasa kurang sreg. Nanti akan saya paparkan di bagian berikutnya.

SETTING
Setting cerita juga kuat. Setting yang kuat adalah, apabila tempat kejadian diubah maka cerita ini tak akan ada. Setting Pulau Bungi, bila diganti dengan daerah lain, nggak akan jadi cerita. Karena settingnya kuat, maka kehidupan di  Pulau Bungi, Surakarta, Jakarta, London, dan Paris, bagi saya terasa nyata. Bukan sekadar tempelan. Setting dalam novel ini seolah turut andil dalam menyempurnakan cerita.

Salut buat Tere Liye. Keren!

ALUR
 Menggunakan alur maju mundur, membuat kisah Sri menjadi tidak biasa. Bayangkan jika novel ini cuma menceritakan Sri dari lahir sampai wafat. Umum banget pastinya. Alur maju mundur seperti dalam novel Hujan dan Pulang, membuat ceritanya unik dan berbeda. Meskipun premisnya umum yakni tentang menerima hal paling menyakitkan dalam hidup.

PENGETAHUAN
Novel ini banyak menceritakan sejarah. Tentang PKI, Tugu Monas zaman dulu, tentang Y2K, tentang firma hukum internasional, tentang daerah-daerah yang disinggahi Sri, bahkan ilmu berbisnis. Jadi lepas baca novel ini pembaca jadi memilik pengetahuan baru. Saya bolak-balik menggumamkan “Ooo”.

PESAN MORAL
As always kalau tulisan Bang Tere. Pesan moral pasti ada. Bagusnya lagi, pesan moral yang beliau sampaikan tidak preachy. Memang ada nasihat yang disampaikan melalui tokoh, tapi nggak terkesan menggurui. Natural gitu. Seperti saat Nugroho menasihati Sri untuk mematuhi ibu tirinya.

Selain melalui nasihat, pesan moral juga tampak pada tokoh-tokoh yang diceritakan. Tentang kerja keras, pantang menyerah, jelas sekali tergambar dari karakter Zaman dan Sri Ningsih. Pokoknya abis baca buku ini, semangat saya jadi meletup-letup.

Bahkan pesan moral bisa tampak dari ucapan Musoh pada halaman 186. "Persetan dengan agama. Lebih baik jadi pemabuk tapi terus terang, daripada sok suci, tapi munafik." Saya juga suka sama kalimat ini. Menohok hehehe. Relevan banget dengan kondisi saat ini. Top deh Bang Tere. Mungkin Bang Tere nyindir fenomena zaman sekarang ya? Yang dikit-dikit ngomong agama dan teguh di jalan yang benar dicap sebagai munafik. Ah entahlah. 

INSPIRATIF
Membaca novel ini seolah mendapatkan charge energi semangat. Semangat dari sosok Sri menular kepada pembaca. Semangat optimis dan pantang menyerah. Saya yang awalnya bad mood, jadi merasa good mood :D. Suka sekali. 

Quote favorit saya dalam novel ini adalah “Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x.” (hal. 210).

CARA BERTUTUR YANG SEDERHANA
Membuat pembaca bisa menikmati cerita dengan mudah, walaupun yang dibahas agak-agak canggih dan terasa lumayan asing. 

Pokoknya novel ini keren sekali. Terasa banget kalau sang penulis melakukan riset yang amat serius. Novel ini bagi saya terasa lokal namun canggih. Kelihatan kalau sang penulis berpengetahuan luas.

Namun, sebagus-bagusnya buku, tetap memiliki kekurangan bagi masing-masing pembaca. Catet ya, masing-masing pembaca. Berarti bisa aja yang kurang menurut saya, belum tentu kurang bagi pembaca lain. Oke. Ini dia kekurangan novel ini, versi saya.


TOKOH
1. Sri ini disebut sebagai orang yang berpembawaan riang. Tapi saya nggak merasakan keriangannya. Yang saya rasakan adalah Sri adalah sosok yang workholic, rajin, dan bersemangat tinggi. 

Riang dalam bayangan saya itu termasuk humoris. Saya belum pernah membaca di buku ini Sri yang bikin orang lain ngakak. Riang dalam bayangan saya tuh bisa bikin orang sedih jadi ceria. Jika bisa dibandingkan, harusnya riang itu ya seperti Maryam dalam novel Hujan.

2. Karakter para tokoh dalam novel-novel Bang Tere Liye, mirip-mirip. Zaman mirip dengan Ambu Uleng, Borno, atau Bujang. Sri ini juga sama seperti Lail. Pendiam semua rasa-rasanya. Kenapa tokoh utamanya tidak seperti Burlian? Atau Ali? Atau Maryam? Atau Rajendra Khan? Atau Delisa? Mereka jahil tapi punya prinsip. Mereka juga lucu. Semoga ini bisa menjadi masukan bagi penulis, agar karakternya tidak monoton.

3. Tokoh Sri ini memang mengagumkan. Tapi saya nggak malah takut hidup saya seperti Sri. Kehidupan Sri terlalu suram. Rasanya kok dia selalu dikejar-kejar sama hal-hal buruk. Seolah-olah Sri ini magnet musibah. Memang cocok dengan sebutan “Anak yang Dikutuk.” Tapi hmm, entahlah. Kok menurut saya hidup Sri  terlalu menyedihkan.

4. Kehadiran tokoh yang tiba-tiba.
Tokoh Hans dan ibunya, tau-tau muncul begitu saja. Rasanya aneh. Sejak awal cerita yang dibahas selalu Sri. Pas mendekati ending tiba-tiba ada Hans dan ibunya, masalah Zaman dan ibunya mendadak ada, lantas beres begitu saja. Kalau memang punya masalah dengan kehidupan pribadinya, ada baiknya sedikit-sedikit diceritakan sejak awal. Bukan malah bim salabim, ada tokoh baru. Atau penulis sengaja memunculkan karena novel ini bisa jadi dibuat sekuelnya? Entahlah.


DEUX EX MACHINA
Istilah gampangnya “Tiba-tiba Tuhan menolong begitu saja.” Saya menemukan hal ini ketika Zaman mencari tahu tentang teka-teki Pulau Bungi. Encik Razak yang belum disinggung-singgung sebelumnya, tahu-tahu memberikan solusi (lihat hal. 49). Terlalu mudah dan terkesan “dicocok-cocokkan” menurut saya. Kurang smooth gitu. Mungkin sebaiknya disinggung-singgung sejak awal perihal Encik Razak dan kepiawaiannya mengenal suatu daerah, biar nggak terkesan mendadak. Bukankah di Jakarta dan London, Zaman nggak ujug-ujug bisa memecahkan teka-teki keberadaan Sri?

Demikian resensi saya. Sekali lagi, kalaupun saya menuliskan kekurangannya, bukan berarti novel ini nggak bagus. Bukankah ada ungkapan bahwa, “Buku  yang sempurna adalah buku yang tak pernah ditulis?” Meskipun saya menuliskan kekurangan novel ini, tidak berarti novel ini ber-rating rendah. Kalau saja bisa kasih rate, empat bintang deh untuk novel “Tentang Kamu.”

Sesuatu yang paling berkesan setelah membaca novel ini adalah semangat untuk terus bangkit tak peduli berapa kali kita jatuh dalam jurang kegagalan. “... Aku tahu sekarang, pertanyaan terpentingnya bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut.” (hal. 210).  Penuh motivasi kan?

Pokoknya buku ini recommended banget deh! Bagi yang mau baca, sebaiknya makan dulu hehehe. Biar nggak lupa diri sampai lupa makan. Semoga yang menginginkan untuk membaca novel ini, bisa baca beneran, entah bagaimana caranya. Biar ketularan semangat Sri Ningsih :).


Judul : Tentang Kamu
Penulis : Tere Liye
Penerbit: Republika
Tebal : 524 halaman
Terbit : 27 Oktober 2016



8 comments:

Anonymous said...

resensinya sangat berkelas!

keren2 mb ^^v

Widya Ross said...

@arohmanpanji: Terima kasih sudah mampir di sini 😊

sabda awal said...

sekilas liat resensinya, novel ini memang sedep. saya udah lama ngga baca novel T_T. tapi menarik sih, secara sri kaya terus meninggal, dan meninggalkan banyak harta, eh datanglah zaman yang akan menyelidiki kehidupan sri sebelumnya. barulah kemudia cerita ini bergelerya bebas memainkan perannya

Widya Ross said...

@sabda awal: Bener. Novel ini sedep dan keren hehe. Terima kasih sudah komen di sini ya 😊

Sie-thi Nurjanah said...

Saya sudah lama ga update penulis tsb. Tp kadang penasaran karna masih banyak tmn yg menggemarinya

Widya Ross said...

@Sie-thi Nurjanah: saya menggemari beberapa karyanya mbak Nurjanah hehe. Kalo sama orangnya sih nggak hihihi

riawani elyta said...

Setuju. Penokohan Sri kuat banget. Masih terbayang meski udah kelar baca

Widya Ross said...

@riawani elyta: Iya. Sri ini hidup di benak pembaca. Trima sudah main kemari, mbak Riawani 😊

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...