Thursday, 17 December 2015

RESENSI NOVEL PULANG: TENTANG PERJALANAN PULANG. TENTANG PERTARUNGAN. TENTANG MEMELUK KEBENCIAN DAN RASA SAKIT.





Aku tahu, kau tetap penasaran tentang banyak hal, karena kau dibesarkan dengan rasionalitas. Tapi saat kau tiba pada titik itu, maka kau akan mengerti dengan sendirinya. Itu perjalanan yang tidak mudah, Bujang. Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu, tapi diri sendiri, menaklukkan monster yang ada di dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. 

“Aku tidak bisa melatihmu, Bujang. Tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Sekarang saatnya kau melatih diri sendiri dan menemukan jawaban dari dirimu sendiri. Hanya seorang samurai sejati yang tiba pada titik itu. Di titik ketika kau seolah bisa keluar dari tubuh sendiri, berdiri, menatap refleksi dirimu seperti sedang menatap cermin. Kau seperti bisa menyentuhnya, tersenyum takzim, menyaksikan betapa jernihnya kehidupan. Saat itu terjadi, kau telah pulang, Bujang. Pulang pada hakikat kehidupan. Pulang, memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan.” (hal. 219).

Siapa yang tak kenal Tere Liye? Novelis yang satu ini bukan cuma produktif, tapi tulisannya sangat inspiratif. Tak heran fans page-nya di Facebook di-like sejutaan orang. Postingannya tak pernah bosan di-share pengguna Facebook, dilike ratusan orang. Novelnya pun terus bermunculan dan hebatnya lagi, semua novel-novel beliau tak pernah absen berada di rak best seller.
Pada bulan September 2015 lalu, novelnya yang berjudul “Pulang” terbit. Jujur, saya sempat kecele. Sengaja saya tidak segera membeli novel tersebut karena saya pikir novel Pulang sama saja dengan novel-novel Tere sebelumnya. Mengingat nukilan yang diposting di Facebook beliau seperti di bawah ini:

Foto diambil dari Fans Page Tere Liye
 
Seminggu yang lalu akhirnya saya “terpaksa” beli novel Pulang karena sejak pertama kali dirilis, novel ini masih saja nangkring gagah di rak best seller. Dan ketika saya mulai membaca, dugaan saya melenceng 180 derajat. Novel Pulang bukan novel kalem seperti Rindu, apalagi Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. 

Novel Pulang berkisah tentang sesuatu yang baru yakni intrik yang terjadi dalam dunia “Shadow Economy” alias Ekonomi Bayangan. Shadow economy adalah jaringan bisnis yang berada di bawah bayangan, tidak terekspos oleh media manapun, masyarakat, bahkan pemerintah, namun nilai transaksinya mencapai ratusan milyar dolar Amerika. Shadow economy dikendalikan oleh jaringan organisasi raksasa yang tersebar di berbagai negara.

Adalah seorang anak yang biasa dipanggil Bujang, berusia 15 tahun, harus ikut berburu babi hutan bersama seorang Tauke Muda. Di hutan, Bujang bertarung melawan babi hutan raksasa dan berhasil menyelamatkan Tauke Muda. Sepulang berburu, Tauke Muda meminta Bujang untuk tinggal bersamanya di kota. Tauke Muda yang berubah menjadi Tauke Besar nantinya, adalah pemimpin Keluarga Tong. Keluarga Tong adalah salah satu pengendali Shadow Economy yang ada di Sumatera, dan nantinya bisnis Keluarga Tong bakal menguasai ibukota. 

Bujang ingin sekali ikut Tauke Muda. Ia ingin pergi karena benci pada bapaknya, Samad, yang suka marah-marah kalau mamaknya mengajari agama. Bujang tak ingin melihat orangtuanya bertengkar, tak ingin melihat mamaknya menangis.

Tauke Besar mendidik bujang berlari, berkelahi, menembak, menggunakan samurai, dan bersekolah. Bahkan Bujang disekolahkan hingga ke Amerika Serikat. Bujang tumbuh menjadi anak angkat kesayangan Tauke Besar, sekaligus tukang pukul yang intelek. 

Perjalanan  karir Bujang menjadi tukang pukul andalan keluarga Tong selama bertahun-tahun, diiringi berbagai macam konflik. Pertarungan demi pertarungan hebat dihadapi Bujang. Latihan demi latihan dijalani Bujang. Ia tumbuh menjadi petarung hebat tanpa memiliki rasa takut. Ia dikenal julukan sebagai Si Babi Hutan. Siapapun akan gentar mendengar namanya. Meski demikian, terkadang ia mengalami konflik batin yang seringkali membuat Bujang kadang menangis tanpa suara. Tentang kebenciannya pada sang bapak, juga kerinduannya pada sang mamak. 

Rasa takut kembali hadir dalam hati Bujang ketika satu demi satu orang-orang yang ia sayangi meninggal. Dimulai dari sang Mamak, Bapak, lalu Kopong yang selalu menghibur dirinya, bahkan kematian orangtua angkatnya. Belum lagi Bujang harus menerima kenyataan bahwa Keluarga Tong telah runtuh akibat pengkhianatan.

Dengan semua konflik yang dihadapi, akankah Bujang berhasil merebut kembali kejayaan keluarga Tong? Akankah hati Bujang kembali seperti dulu, atau mungkin rasa benci serta takut masih bersemayam dalam hatinya? Jawaban tersebut ada pada novel ini.  

Setelah saya menamatkan novel Pulang, reaksi saya adalah: terkagum-kagum lalu posting di status BBM kalau novel ini KEREN! Saya memutuskan untuk menulis resensinya karena memang novel ini menakjubkan. 

Saya sampai menulis status di BBM beberapa kali. Saking kerennya novel ini, bahkan makan pun saya baca. Suatu momen yang jarang saya lakukan ketika membaca novel lokal. Saya berusaha menahan diri untuk tidak post di Facebook kalau novel ini hebat. Karena saya harus menulis  dulu, beberapa poin yang membuat novel ini begitu hard to put down bagi saya. 

Mari saya jabarkan beberapa hal yang membuat novel ini begitu memikat.

1. COVER
Sebetulnya cover novel bagi saya selaku pecinta buku, tidak terlalu berpengaruh. Tapi, saya suka bertanya-tanya kalau melihat foto novel Pulang di internet. Saya suka membatin begini, “Itu sampulnya kayak sobek, itu kertasnya dua lapis dan sobek betulan atau bagaimana?”
Mulai dari cover saja, novel ini sudah mengulik tanda tanya. Meskipun ada hal yang kurang sreg bagi saya, yang nanti akan saya jelaskan.

2. DESKRIPSI YANG DETAIL
Saya duga, pastilah Tere Liye ini melakukan riset yang mendalam. Kisah tentang intrik dalam keluarga pengendali Shadow Economy begitu hidup, membuat saya larut dalam dunia baru, yakni dunia underground tersebut. Semua terasa nyata bagaimana antar keluarga di beberapa negara begitu licik memperebutkan sesuatu. Bagaimana mereka menguasai bisnis begitu rapi. Bagaimana mereka menyumpal wartawan dan pihak-pihak terkait sehingga berita yang tayang di televisi tidak terlalu menghebohkan.

Deskripsi setting pun demikian. Setiap tempat yang disinggahi yakni Filipina, Hongkong, Jakarta, dan bukit Barisan juga  terjabar detail namun wajar. Detail yang tidak berlebihan sehingga pembaca tidak bosan. Detail tentang setting juga membuat saya sampai bertanya-tanya sendiri. Mungkin Tere Liye pernah ke Hongkong. Tere menggambarkan Hongkong dengan natural, seakan pembaca turut mengekori Bujang jalan-jalan di Hongkong. Bahkan saya yang tak pernah menapak pun menatap tempat bernama Lan Kwai Fong jadi punya gambaran sendiri di dalam kepala, seperti apa wujud sentral kuliner terkenal di Hongkong tersebut.

Deskripsi yang asyik sehingga novel ini bagi saya terasa seperti menonton film adalah ketika Bujang mulai beraksi. Bagaimana tubuhnya menghindar, bagaimana ia menggerakkan pedang, bagaimana tinjunya mengenai perut lawan, semua detail pertempuran terasa nyata. Saya sampai menahan napas ketika adegan pertarungan dimulai. Keren sekali!

3. TOKOH YANG HIDUP
Nah, yang paling bikin saya takjub lagi adalah tokoh. Tokoh biasanya digambarkan detail mulai dari rambut, hobi, tinggi badan, warna kesukaan, baju favorit, cantik apa tampan, model rambut, dan ciri fisik lainnya. Namun Bujang, sang tokoh sentral, tidak digambarkan over-detail seperti itu. Ciri fisik Bujang yang saya ingat adalah tinggi dan bermata tajam. Tinggi saja tanpa berat badan tanpa ukuran tinggi badan dalam sentimeter. Ajaibnya, saya bisa membayangkan sosok Bujang seperti apa. Bujang hidup dalam kepala saya.

Ini menarik. Saya jadi ingat Sophie Kinsella ketika dulu ditanya, kenapa dia tidak menggambarkan tokoh Becky Bloomwood dengan detail. Jawaban Sophie adalah: biarkan pembaca yang membayangkan. Mungkin Tere Liye juga berpendapat demikian. Mungkin pula bagi Tere, perihal ganteng, kulit putih, dagu tegas, bukan hal signifikan karena novel Pulang bukan novel romance. Melainkan novel action yang banyak menampilkan adegan pertempuran.

Salah satu ciri khas novel Tere Liye lainnya adalah hadirnya seorang guru yang suka memberikan petuah bijak. Jika dalam novel Rindu ada sosok gurutta, pada novel pulang ada Guru Bushi dan Tuanku Imam. Merekalah yang memegang peran untuk memberikan nasihat pada Bujang, tokoh utama.

Tokoh antagonis yang super-menyebalkan di sini adalah Basyir. Sahabat Bujang sekaligus orang kepercayaan Tauke Besar yang ternyata seorang pengkhianat. 

Tak lupa pula Tere menampilkan tokoh-tokoh pembantu seperti Kopong, Mansur, White, si kembar Kiko dan Yuki, Parwez, dan Frans. Semua tokoh punya andil sehingga jalan cerita terasa sangat menarik.

Tokoh favorit saya adalah Bujang, tentu saja. Dia pendiam, dingin, pantang menyerah, cerdas, namun berhati lembut. Dan tokoh yang paling saya benci adalah Basyir. Manis sekali tingkahnya, banyak bicara, sok sopan, tapi menikam dari belakang. Saya tebak Tere Liye menciptakan sosok Basyir karena terinspirasi dari karakter manusia dari dunia nyata.

4. CERITA YANG MENGIKAT PEMBACA
Novel ini menurut saya tergolong novel yang fast-paced. Novel tipe fast-paced biasanya novel yang jalan ceritanya bergerak cepat, sehingga pembaca terpatri untuk terus membaca karena penasaran. Novel bertipe fast-paced biasanya novel yang penuh aksi seperti Trilogi The Hunger Games, buku-buku Dan Brown, Harry Potter series, Eragon series, dan lain-lain. Teknik ini memang tidak membuat pembaca bosan, malah betah membaca. Bahkan nyaris susah berhenti, saking asyiknya. 

Novel Pulang juga demikian. Saya beli  selasa malam, dalam kondisi capek, hari rabu sudah tamat. Tensi cerita ada pada tiap bab terasa menegangkan dan membuat saya berpikir, “apa yang akan terjadi berikutnya?”. Mulai dari bab pertama saja pembaca sudah disuguhkan oleh sebuah pertempuran melawan babi hutan raksasa. 

Ketegangan semakin meningkat ketika Bujang pergi ke Hongkong (halaman 67), karena di sana ia harus bertemu pimpinan Shadow Economy wilayah Cina, yakni Master Dragon. Pertemuan tersebut bukan jenis pertemuan leha-leha atau santai. Bagaimana mungkin bisa santai kalau tokoh utama berhadapan dengan Master Dragon yang ditakuti. Saya sampai takut kalau Bujang akan dikeroyok habis-habisan.

Meski begitu, bukan berarti novel ini bercerita tentang pertempuran melulu. Menggunakan alur maju-mundur, novel ini terasa manis sekaligus mengaduk emosi ketika kisah Bujang dilemparkan ke masa lalu. Mata saya menghangat pada halaman 191. Saat itu Bujang habis berpesta, tak dinyana tak lama kemudian Bujang menerima surat dari sang bapak. Surat tersebut mengabarkan kalau mamak Bujang telah meninggal. Ah, pada bagian ini saya ikut merasakan kesedihan Bujang. Bagi saya, momen masa lalu Bujang berhasil membuat cerita pada novel ini jadi seimbang.

5. AKSI YANG KEREN
Ini benar. Membaca novel ini bagaikan menonton film James Bond atau Mission Impossible, atau membaca novel thriller Dan Brown. Bukan cuma pertempurannya yang memikat dan berkelas, tapi juga kecanggihan peralatannya. Contohnya di rumah keluarga Tong. Dinding-dinding dirancang dengan tambahan bom yang bisa meledak jika keselamatan Tauke Besar terancam.

Ada kartu nama yang dilapisi titanium dan berguna sebagai senjata. Ada pesawat jet pribadi. Ada ranjang yang bisa ambrol dan meluncur ke lowong bawang tanah untuk menyelamatkan diri. Belum lagi membaca cara Bujang bernegosiasi. Berkelas sekali. Dia mirip seorang agen yang bisa menemukan solusi dalam setiap situasi genting.

Saya juga takjub ketika tokoh Yuki dan Kiko mulai beraksi. Mereka gadis-gadis centil yang suka menyamar sebagai turis sekaligus ninja. Gerakannya cepat kalau bertarung. Ketika di Hongkong, mereka ikut bertempur menembaki lawan dengan menggunakan gaun. Cool sekali kan?

Membaca aksi-aksi “wow” dalam novel ini, saya jadi berkhayal, seandainya novel Pulang diterbitkan dalam bahasa Inggris. Terus diterbitkan di luar negeri, lalu difilmkan oleh Hollywood. Toh ceritanya tak akan kalah dengan karya penulis luar negeri. Tak kalah dengan novel-novel yang menyandang predikat “The New York Times Best Seller.” Serius!

6. PESAN MORAL
Salah satu ciri khas Tere Liye adalah, ia kerap menebarkan nasihat-nasihat dalam novelnya. Sepertinya Tere sadar, bahwa manusia di masa kini sangat keranjingan petuah bijak. Biasanya nasihat-nasihat tersebut diucapkan oleh sosok guru, atau sosok yang lebih tua daripada tokoh utama. Pada novel Pulang, guru Bushi dan Tuanku Imam adalah tokoh yang kerap memberikan nasihat. Nasihat tanpa menggurui.

Nasihat Guru Bushi sudah saya tulis pada pembuka resensi. Sementara salah satu nasihat dari Tuanku Imam adalah sebagai berikut.

“Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu, Nak. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah.” (hal. 339).

Selain melalui nasihat, pesan moral juga tampak dari perilaku para tokoh. Pada Bujang misalnya. Dia tak banyak bicara. Setia pada prinsip. Pantang menyerah. Patuh pada sang mamak untuk tidak menyentuh minuman beralkohol dan makanan yang mengandung Babi.
Hal yang paling saya sukai adalah suasana kehidupan keluarga Tong. Di balik kesangaran mereka, toleransinya begitu tinggi. Tak peduli dari agama dan suku mana pun, semua anggota sama, sederajat, dan dianggap keluarga. 

Contoh toleransi juga ditunjukkan oleh Tuanku Imam. Tuanku Imam yang notabene adalah pimpinan sekolah agama Islam, menguburkan Tauke Besar sesuai dengan agama sang Tauke. Tanpa ada cibiran, apalagi sindiran. Hubungan Tuanku Imam dan Tauke Besar termasuk baik malahan. Bahkan Tuanku Imam dan murid-muridnya juga merawat Parwez, salah satu anggota Keluarga Tong yang berasal dari India. 

Yang saya salut adalah ketika tokoh Tuanku Imam tahu jika Bujang membenci suara adzan. Bukannya menasihati apalagi memaksa “harus cinta adzan” atau “ayo salat.” Tuanku Imam malah menasihati dengan cara mengajak berjalan-jalan. Lalu mencoba menyelami kondisi psikologi Bujang, bicara tentang kehidupan tanpa menyuruh, tanpa menggurui. 

7. BAHASA YANG SEDERHANA
Memang, novel ini menceritakan tentang sesuatu yang tidak umum yakni Shadow Economy. Namun cara bertutur Tere Liye tetaplah sederhana. Tidak terlalu puitis, apalagi kelewat canggih. Ada beberapa kata yang agak asing seperti katana, cryptocurrencies. Namun secara keseluruhan, isi cerita bisa dinikmati siapa saja.

Secara keseluruhan, bagi saya, novel Pulang patut diacungi jempol. Di antara seluruh novel Tere Liye, Pulang adalah novel yang paling saya sukai. Meski demikian, bukan berarti novel ini tanpa cela. Ada beberapa hal yang menurut saya terasa janggal. 

1. Pada halaman 306
Diceritakan bahwa kondisi Kopong sudah payah. Anehnya, Kopong masih bisa bercerita panjang lebar dengan lancar, perihal masa lalu bapak dan mamak Bujang. Lepas bercerita, Kopong meninggal. 

Saya pernah mendampingi orang yang sudah berada di ambang ajal. Pada situasi tersebut, jangankan berbicara lima kalimat, membuka mata saja sudah tak sanggup. Akan terasa tidak aneh kalau momen meninggal Kopong tidak terjadi pada detik itu juga. 

2. Pada halaman 276
Saat itu Bujang berkelahi demi melindungi Tauke Besar dari serangan anak buah Shang, Putra Master Dragon. Bujang menggunakan apa saja sebagai senjata. Termasuk sendok yang bisa menancap di leher. Saya sampai berhenti sejenak membaca. Membayangkan sendok macam apakah yang bisa menembus leher? Kenapa sendok? Kenapa bukan garpu saja yang lebih masuk akal?

3. Halaman 121
Momen ketika Bujang masuk ke ruangan Tuan Lin. Pada halaman 120 disebutkan kalau ruangan tersebut bagaikan aquarium dengan puluhan tukang pukul. Namun ketika Bujang melemparkan kartu nama berlapis titanium pada leher Tuan Lin, tak ada satu tukang pukul pun yang tahu. Bukankah tugas tukang pukul untuk berjaga-jaga dan mengawasi Tuan Lin? Masa dari sekian banyak tukang pukul tak ada yang melihat bagaimana Bujang melempar kartu nama?

4. Halaman 351
Aku memutuskan sambungan telepon. White meletakkan gagang telepon, dia berteriak memanggil koki dan pelayan restorannya, bilang dia harus segera pergi. Frans si Amerika menghela napas panjang. Wajahnya terlihat sedih—kabar kematian Tauke Besar membuatnya terpukul.
Novel ini menggunakan sudut pandang “aku”. Berarti tokoh “aku” punya pengetahuan terbatas. Tidak semua aksi dan perasaan tokoh lain bisa diketahui. Nah, bagaimana mungkin, Bujang yang sudah menyudahi pembicaraan, tahu kalau nun jauh di negeri seberang sana, White memanggil koki dan pamit. Bagaimana pula Bujang bisa mengerti kalau Frans merasa terpukul.
Bayangkan saja kita sudah selesai menelepon. Kita tak bisa kan, bercerita pada orang lain, “Saya habis menelepon, di sana orang-orang merasa terpukul.” Tahu dari mana kalau terpukul?

5. Cover dan judul
Cover novel Pulang memang unik. Ala-ala kertas sobek. Namun menurut saya, cover ini kurang pas dengan isi cerita Pulang yang banyak menyuguhkan adegan pertempuran. Tidak ada indikasi sama sekali kalau novel ini termasuk semi thriller. Apalagi gambar cover adalah matahari terbit. Bagi yang belum tahu, Pulang pastilah dikira novel semacam Rembulan Tenggelam di Wajahmu.

Judul juga bagi saya kurang “click” dengan isi cerita. Semisal novel ini difilmkan, judulnya “Pulang”, terus ada poster pria gagah menggenggam samurai. Sepertinya kok kurang pas ya. Kurang greget, kurang misterius juga.

Kesimpulan dari keseluruhan isi novel adalah, mengagumkan. Saya berulang kali memuji novel ini. Dengan beberapa celah yang terasa janggal, tetap saja novel ini keren bagi saya. Kejanggalan dalam novel apapun jelas ada. Tapi bukan berarti membuat novel ini tidak layak untuk dibaca. Buktinya, saya sampai lupa diri keasyikan membaca. Sangat recommended! Tere Liye membuktikan bahwa dirinya bukan cuma lihai dalam menulis novel kalem. Ia juga mahir mengemas cerita berbau action, yang hebatnya, tanpa meninggalkan nilai-nilai kebaikan. Salut!
Sesuatu yang melekat pada diri saya pasca membaca Pulang adalah nasihat Teuku Imam.

“... Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekali pun?” (Hal. 339).

Saya membatin, mungkin begitulah penjabaran “ridha”. Ridha, menerima takdir, tak peduli menyakitkan atau membahagiakan. Menerima apapun yang terjadi akan melapangkan hati. Sesuai hadis nabi. “Barangsiapa yang ridha pada ketentuan Allah, maka Allah akan ridha padanya.” (HR. Tirmidzi).

Sampai saat ini, novel Pulang masih bertengger di rak best seller. Bahkan sudah memasuki cetakan ke -10 sejak rilis. Bagi siapa saja yang penasaran tentang novel tersebut, semoga resensi saya membantu. 

Judul              : Pulang
Penulis          : Tere Liye
Penerbit         : Republika
Tebal              : 400 halaman
Terbit              : September 2015



20 comments:

Ade anita said...

Glek. Cetakan ke 10 dalam 1 bulan. Ituuu...sesuatu banget

Belajar Nulis with Achi TM said...

Sudah kuduga reviewnya akan beginu hihi, soalnya di GR reviewnya bagus-bagus semua. Tapi abis baca ini aku pribadi belum tertarik sih. Soale sdh tahu kalau novel ini banyak actionnya. Aku malah mau PO novel beliau yang HUJAN hehe. Lebih suka baca yang adem adem :D hihi.

Kazuhana El Ratna said...

Baca novel ini seperti nonton film action, Mbak. Suka sama pesan yang tersirat dari novel. ^^

Hidayah Sulistyowati said...

Aku tertipuuu...hahaha

Aku baru baca sedikit, jadi pengen nerusin nih, Wid ^_^

Widya Ross said...

Ade Anita: Banget sesuatunya! Hebat dia emang.

Achi TM : Makasih udah mampir kemari :)

Kazuhana : Bener banget. Kayak nonton pelem eksyen :D

Hidayah : Ayo ikutan lomba reviewnya, Mbak. Aku niat ikut karena akunya suka sama novelnya. Kalo biasa-biasa aja aku ogah ngereview wkwkwk

Haya Aliya Zaki said...

Tere Liye memang gilak! Padahal dese katanya masih ngantor juga ya Wid? Hebat produktif banget. Dan bukunya selalu best-seller. Kagum juga sama resensi ini. Detail tapi tetap bikin penasaran sama bukunya!

Widya Ross said...

Mbak Haya: Makasih udah berkunjung kemari, Cikgu hehe. Sepertinya Tere Liye itu juga mengalami masa-masa "training" dalam menulis. Dulu katanya beliau punya nama pena lain, Mbak. Pas nulis novel Gogon, itu aku ngantuk baca novelnya. Makin ke sini aku makin suka :)

Dan awal mula resensi ini hihi (ketawa dulu). Aku nggak bisa lho ngeresensi, sumpah. Sekali nyoba nembus Kompas Anak itu. Jadi penasaran. Belajarlah cara meresensi yang enak dibaca. Begini deh :D.

Keluarga Semilir said...

wooow...resensinya bikin penasaran :)

Widya Ross said...

Keluarga Semilir: Moga bisa baca ya :)

yuni zuhri said...

Jadi tambah penasaran mau baca novel ini juga. Pasti keren bangett

Widya Ross said...

Yuni zuhri: Makasih udah berkunjung kemari, Mbak. Keren sampe lupa diri. Hihihi, serius!

Nefertite Fatriyanti said...

Novel yang padat konflik ya mba, ceritanya bagus, banyak sentuhan karakter, hanya rasanya kayak baca cerita action, hehehe
Reviewnya keren mba, kita hanyut dalam ceritanya, tapi masih penasaran endingnya
Sip pokoknya

Widya Ross said...

Nevertiti Fatriyanti: Kalo suka novel ala-ala Trilogi Hunger Games, atau novel-novel Dan Brown, pasti seru baca novel ini.
Makasih sudah baca blog ini :)

Widya Ross said...

@Ade Anita: sejak rilis ya. Tiga bulanan. Salah ketik hehe

Ophi Ziadah said...

Novel yang kece...
resensi yang tak kalah kece..
congtras yaa

cahaya theprinces said...

Mbaaaak Wid, selamat yaa udah menang. Btw, masih punya the gogons? Kalo nanti bosen, mau doooong gantiin :D
Aku nyari buku itu di toko bekas gak nemu2. Btw, aku baca resensi ini habiiiiiis, tapi gak bosen..hihihi

Dwi Aprily - The Ordinary Woman said...

selamat mbaak menang lomba resensinya barokallahu :)

Naqiyyah Syam said...

Selamat Mbk, resensinya lengkap banget, banyak informasi yang kudapat. Pernah ketemu Tere Liye, salut dg produktif atasnya.

Rahmah Chemist said...

Selamat ya Mbak menang resensinya
Kudu belajar nih sama mbak Widya

Linda Satibi said...

wuih resensi juara.. keren banget!
saya banyak belajar dari resensi ini
Selamat ya, Mbak.. jadi nomor satu

Post a Comment

REVIEW LIPSTIK: POPPY DHARSONO LIQUEFIED MATTE LIP COLOR

Zaman sekarang yang namanya lipstik banyak sekali macamnya. Cuma saat ini yang lagi ngehits adalah lipstik matte yang kesat dan tahan berja...