Wednesday, 2 December 2015

Cerpen jadul yang dimuat di Bobo: KISAH NYONYA CAP


Behind the Story:
Dulu aku pernah ketemu orang, karakternya nih puersis sama Nyonya Cap. Lebih parah malahan. Sampe waktu itu aku pingin nyumpal mulutnya pakek kresek, sumpah! Abis belanja waktu itu. Saking betenya aku sama dia, aku bikin aja crita. Ini cerita ya, beneran deh asal-asalan. Nggak pakek konsep ini itu ini itu. Karena aku niatnya curhat sekaligus nyerpen :P. Aku pikir nggak akan dimuat. Eh, dimuat ternyata. Di Bobo taun berapa ini ya? Taun 2012 apa 2013, aku lupa.

Aku melupakan aturan menulis waktu itu. Jadi satu kalimat tuh panjaaaang. Untungnya dimuat ya ehehehe. 

Psst, pas dimuat, udah nggak sebel lagi sama si Nyonya Cap di dunia nyata :D. Yang lagi bete sama someone, tulis gih biar jadi duit :D.


KISAH NYONYA CAP

Kota Harmonali dilanda gerimis berhari-hari. Di mana-mana banyak orang flu. Di ujung jalan, seorang anak SD sedang bersin. Penjual lemper di dekat lampu merah, tengah batuk. Seorang pengamen diam-diam membalikkan badan menghadap pohon besar dan menyusut ingus dengan tisu kotor. Dokter dipenuhi pasien yang terkena flu, apotek dibanjiri pengunjung yang membeli obat flu, dan virus influenza tampaknya gemar berdiam di tubuh orang terjangkit flu.
Nyonya Cap adalah salah satu pasien yang mengantre di apotek, untuk membeli obat flu. Sebelumnya dia sudah ke dokter. Dokter menyuruhnya minum yang banyak, istirahat yang cukup, makan yang banyak, minum obat, dan terakhir: jangan banyak bicara. Anjuran terakhir ini dirasa berat oleh Nyonya Cap karena dia termasuk orang yang hobi bicara.
Pada penarik becak, dia bicara kalau punya emas satu lemari. Pada penjual kue donat dia bilang kalau biasa makan donat terenak. Pada penjual baju, dia berkata kalau sering membeli pakaian mahal. Pada siapa saja Nyonya Cap bicara. Kecuali pada benda mati, tentu saja.
Setelah mendapatkan obatnya, Nyonya Cap mampir ke supermarket. Dia ingin sekali membeli melon. Saat itu ada seorang pelayan berdiri di samping tumpukan melon.
“Aku mau beli melon. Yang paling murah. Soalnya kemarin aku habis beli melon paling mahal. Berhari-hari aku makan melon mahal, sampai bosan rasanya. Rasanya sih memang enak. Manis seperti disuntik cairan gula. Dagingnya selembut puding busa. Aku sangat menikmatinya. Sekarang aku ingin menikmati melon yang biasa-biasa saja. Tenggorokanku sedang sakit, lidahku terasa pahit, percuma beli melon paling mahal kalau lagi sakit. Aku tak suka kalau terlalu besar karena…”
UHUK! UHUK! UHUK! Nyonya Cap batuk-batuk sampai bahunya berguncang-guncang hebat. Nona pelayan yang berseragam putih hitam hanya bisa mengerjap-ngerjap memandangnya. Dalam hati ia membatin, kebanyakan bicara sih.
Nyonya Cap melupakan melonnya, sambil berjalan terbungkuk-bungkuk dan batuk, dia menuju ke rak air mineral. Ada seorang ibu memilih-milih minuman di sana. Mulailah dia berkomentar.
“Astaga! Kenapa harus bingung memilih minuman? Bukankah semua air kemasan ini berisi air putih? Apa Anda mencari yang harganya paling murah? Kasihan sekali! Kemarin aku habis minum air paling mahal. Rasanya sungguh seperti embun gunung di pagi hari. Sejuuuukkk sekali. Benar-benar nikmat dan aku…”
UHUK! UHUK! UHUK! Lagi-lagi Nyonya Cap batuk. Wajahnya sampai merah padam. Ibu yang sedang memilih minuman hanya melongo. Buat apa minum air paling mahal kalau jadi batuk, kata si ibu dalam hati.
Nyonya Cap berjalan dengan kepala pening, terbungkuk-bungkuk, dan batuk-batuk lebih parah dari sebelumnya. Ia melupakan air mineral dan kepingin membeli tisu. Tapi karena sambil batuk dan berjalan membungkuk disertai kepala pusing, Nyonya Cap tak memerhatikan kemana ia melangkah.
Tanpa sengaja Nyonya Cap menabrak perempuan berambut coklat yang tengah makan es krim. Es krim duriannya terlempar dan jatuh ke lantai. Seorang nenek berpakaian serba merah lewat dan terpeleset. Ikan gurame di keranjangnya terlontar mengenai wajah pelayan yang tengah mengepel. Sang pelayan kaget, alat pelnya menyeruduk ember berisi cairan pembersih lantai. Isi ember pun tumpah. Dua pengunjung yang sedang berjalan terpeleset, menabrak rak sabun, rak panci, dan rak piring. Barang-barang di dalam rak kocar-kacir di lantai, bahkan beberapa piring ada yang pecah.
Pak Satpam Supermarket kaget melihat banyak barang bertebaran di lantai.
“Tolong jelaskan, kenapa bisa begini?” tuntut Pak satpam yang badannya mirip algojo.
“Aku terpeleset gara-gara licin,” lapor pria yang menabrak rak piring.
“Ada air tumpah lalu kami jatuh,” imbuh pria berkumis yang menabrak rak panci dan sabun.
“Maaf, aku tanpa sengaja menumpahkan ember karena kaget ada ikan terbang mengenai wajahku,” timpal nona pelayan yang mengepel.
“Itu ikanku! Aku terpeleset es krim hingga gurame di keranjangku melayang,” aku sang nenek berpakaian serba merah.
“Maaf, es krimku yang jatuh. Tiba-tiba ada orang bungkuk lagi batuk-batuk, menabrakku. Dia,” sahut perempuan berambut coklat sambil menunjuk Nyonya Cap yang masih batuk-batuk sampai berjongkok.
Pak Satpam menghampiri Nyonya Cap dan mengajaknya ke ruangan Pak Kepala Supermarket. Di sana Nyonya Cap diminta mengganti kerusakan piring yang pecah dan membantu membersihkan supermarket.
“Aku.. UHUK UHUK! Tidak mau! UHUK UHUK,” teriak Nyonya Cap.
“Kalau Anda tidak mau, terpaksa Anda harus tinggal di sini sampai besok,” tegas Pak Kepala Supermarket.
Nyonya Cap tak punya pilihan lain. Akhirnya ia bersedia membayar dan membantu para pelayan membereskan kekacauan sambil batuk-batuk dan bersungut-sungut. Nasihat dokter terngiang di telinganya. Jangan banyak bicara.



2 comments:

Tanti Amelia said...

ceritanya bagus banget, jadi tertarik pingin bikin pict-booknya ya mbak

Widya Ross said...

Mbak Tanti: Haaaai, Mbak Tanti. Maaap baru bales hihihi. Monggo dibikin :D. Makasih ya, blogku dimampirin blogger kondang :D

Post a Comment

REVIEW LIPSTIK: POPPY DHARSONO LIQUEFIED MATTE LIP COLOR

Zaman sekarang yang namanya lipstik banyak sekali macamnya. Cuma saat ini yang lagi ngehits adalah lipstik matte yang kesat dan tahan berja...