Tuesday, 22 December 2015

BIAR DOAKU YANG MENJAGAMU (Letter to Mom: Jawa Pos, 22 Desember 2015)

Dimuat Jawa Pos Edisi 22 Desember 2015


Hai, Bu.                     
Apa kabar di sana?
Di sini, kabarku baik. Bahkan jika hari-hariku menyedihkan sekalipun, aku berusaha terlihat baik.

Nyaris tiga tahun kita berpisah. Cepat sekali waktu bergerak. Akan kuceritakan perkembangan terakhir tentang keluarga kita setelah Ibu pergi.

Aku, lebih mandiri walaupun belum bisa mengurus rumah. Aku bisa memasak dan membuat kue untuk Bapak. Hasilnya enak. Oya, buku-bukuku juga udah terbit. Terima kasih karena dulu tak pernah bosan men-support dan mendoakanku.

Bapak, beliau semakin sibuk. Bapak bilang, berdiam diri justru akan bikin sedih karena kepergian Ibu. Bergelut dengan kesibukan adalah obat kesedihan yang mujarab. Meski begitu Bapak masih suka melamun. Berat badannya turun. Bahkan Bapak menitikkan air mata kalau melihat bunga-bunga yang dulu ditanam Ibu.

Mas, dia semakin hobi bikin kue. Karena Naufal dan Naura suka minta dibuatkan kue, seperti Ibu dulu membuatkan kue mereka.

Di sini sekarang musim hujan. Kalau hujan tiba, aku suka termenung. Kangen sama kolak kacang hijau Ibu. Kangen saat Ibu menungguiku menulis. Menyelimutiku diam-diam. Kangen Ibu yang cerewet. Kangen dengan omelan-omelan Ibu. Terbayang ketika tiba waktuku kembali ke perantauan, mata Ibu berkaca-kaca. Aku merindukan semuanya tanpa kecuali.
Aku tidak tahu apakah surat ini akan terbaca atau tidak. Di sana kan tidak ada Jawa Pos. Kalaupun tidak, tak mengapa. Biar Tuhan yang menyampaikannya. Biar doaku yang menjagamu di sana. Semoga kau selalu baik-baik saja. Semoga kau diberikan kedamaian dan penjagaan terbaik di sana.

Ibu, tiga tahun bergulir. Waktu belum bisa menghiburku. Dan aku masih kangen. 

Naskah di atas aku buat dalam kondisi iseng. Ya iseng karena bikinnya paling nggak lama. Refreshing yang sebentar. Pas nulis, aku bingung mau nulis apa. Akhirnya aku ingat, tulislah apa adanya. Tulis apa yg ada di hati. Ya udah aku tulis. Eh, nangis hihi.

Harapanku: semoga siapapun yang baca tulisan ini, bisa lebih menghargai orangtuanya. Di atas aku tulis "hari-hari menyedihkan", sebab ditinggal Ibu itu awalnya sangat menyedihkan. Sayangnya, aku nggak bisa sedih nangis-nangis gitu, nggak bisa. Nggak tahan galau. Tiap sedih, aku ingin berontak biar nggak sedih. Jadilah makin sedih hahaha. Waktu dan kesibukan mulai perlahan menghapus kesedihan. Tapi.... Belum total. Begitulah.

Semoga bermanfaat.


 

3 comments:

dwina said...

semangat, mba...Kirim doa terus buat ibu...*peluk

Widya Ross said...

Dwina: Makasih ya :D

RF.Dhonna said...

Meleleh moco iki...

Post a Comment

REVIEW LIPSTIK: POPPY DHARSONO LIQUEFIED MATTE LIP COLOR

Zaman sekarang yang namanya lipstik banyak sekali macamnya. Cuma saat ini yang lagi ngehits adalah lipstik matte yang kesat dan tahan berja...