Friday, 27 November 2015

A FUADI: BEKERJALAH SESUAI PASSION


Bukuku ditandatangani.


Ceritanya aku abis dari acara "Bedah Buku Rantau 1 Muara bersama A Fuadi." Aku tau bakal ada acara bedah buku ini, dengan nekad nanya di instagram A. Fuadi. Alasanku nanya, dia abis aplot foto lagi di mana gitu, di sebuah acara pokoknya. Iseng, aku nanya aja. Eh, dijawab beneran. Lengkap sama tanggal dan tempatnya. Hore! 

Ya udah, aku ajak mbak Netty Virgiantini  sekalian. Mumpung kami lagi sekota. Lalu kemarin, kami pun berangkat. Bolak-balik kami berdua ngeliatin jam. Acaranya molor kodor. Harusnya jam 9, eh baru pembukaan sekitar jam 10an lebih. Untung ada temen ngobrol.
Sebelum A Fuadi dateng, kami dihibur oleh musik. Yang nyanyi suaranya bagus. Para cewek bersorak-sorak. Aku dan Mbak Netty tolah-toleh wkwkwkwk.

A Fuadi on stage. Bapak moderator yang berkemeja putih itu, teman seangkatan di Gontor. Beliau lulusan Al Azhar.

Nah, pas A Fuadi dateng, selama sesaat mulutku ternganga. Soalnya dia berada pas ada di depanku. Kan aku pilihnya kursi paling depan.
Acara dimulai dengan menayangkan video singkat tentang perjalanan hidup beliau. Yang bikin aku kagum adalah, dia dapat banyak beasiswa. Trus udah keliling ke 40 negara. Masya Allah, keren!

Lalu beliau cerita. Dia itu sebetulnya punya angan-angan masuk SMA. Sebab nilainya terbaik sekabupaten. Lha amaknya bilang, “Kamu mondok aja. Kasian itu pesantren. Biasanya yang mondok kan anak-anak nakal. Kasian jadi tempat sisa-sisa.” Kurang lebihnya gitu deh.

A Fuadi awalnya menolak. Tapi akhirnya nurut karena takut kualat. Beliau kan orang Minang Kapau. Jadi kisah Malin Kundang tuh melekat banget. Masuklah beliau ke Gontor dengan setengah hati.

Nah, di Gontor kan wajib ya pakek bahasa Inggris dan Arab. Jadi pas lagi antre mandi, ada corong speaker yang menyiarkan berita-berita dari BBC, CNN, VOA, dll. Nah, A Fuadi tuh mbatin gini waktu denger VOA. “Oh, di sana ada orang Islam ya. Jauh banget ya Amerika. Bisa nggak ke sana ya.”

Atas takdir Allah (niru ucapan beliau. Beliau bukan berkata atas “kerja keras saya”), beliau bisa ke Amerika sungguhan. Bahkan pernah duduk di studio VOA. A Fuadi lalu menampilkan foto. Di foto yang tersebut ia duduk bersama seorang bule. Tau gak? Mister America tersebut adalah orang yang dulunya pernah ia dengar suaranya di corong speaker waktu antre mandi. “Impian itu kadang sangat ajaib,” ujar A Fuadi. 

Di novel Rantau 1 Muara, A Fuadi membicarakan tiga hal.
1. Passion
Saat itu ia baru lulus kuliah, banyak perusahaan tutup akibat reformasi taun 98. Dia bingung mau kerja apa? Akhirnya ia memilih kerja jadi jurnalis. Sesuai sama passionnya yakni menulis. Oya, beliau juga kasih nasihat. Katanya gini. “Bekerjalah di bidang yang kita suka. Jadi kita kayak main-main tapi dibayar.”
2. Belahan jiwa
Di novel R1M, beliau menuliskan tentang pencarian belahan jiwa. Nyari jodoh maksudnya. Pas nyebut hal ini, audiens sontak bilang “uhuy”. A Fuadi-nya kalem aja :P. Pas deket sama cewek incerannya, bingung mau pedekate. Kan anak pondok dianya. Lalu... yah. Silahkan baca sendiri novelnya hihi. Aku sih tau endingnya :P.
3. Muara jiwa.
Di sini, sang tokoh mulai merenungkan tujuan hidup. Apa tujuan hidup saya? Kalo simplenya kata beliau sih, masuk surga diridhoi Allah. Tapi melalui cara apa? Akhirnya beliau menulis buku. Beliau menyarankan, dalam hidup ini janga cuma “iqra” atau baca. Jangan jadi konsumen. Tapi.... menulislah (ehem, beliau nyebut bahasa Arab-nya “nulis” tapi aku lupa istilahnya).
“Dalam hidup ini menulislah walau cuma satu buku. Sebab tulisan itu menembus batas. Saya pernah berfoto dengan patung Ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd ini sudah wafat 800 tahun silam. Tapi tulisannya dulu sering saya baca waktu masih di pondok.” Begitu kurang lebih kata A Fuadi.
Hoo! Aku langsung ngebayangin pahala Ibnu Rusyd yang terus menerus mengalir. Pokoknya kata beliau, menulislah karena tulisan itu menembus batas. Buktinya aja buku-buku beliau jadi buku wajib di SMA Australia, di SMP Singapura, dan salah satu universitas di USA (lupa namanya). Liat buku-buku dia bisa kemana-mana, aku jadi mupeng. Semoga kelak buku-bukuku bisa tersebar kemana-mana juga. Aamiin :). 

Novel R1M sendiri dan kedua novel sebelumnya bukan biografi, melainkan novel. Jadi ada penambahan karakter, ada drama, dsb.

Selanjutnya adalah sesi pertanyaan. Aku langsung angkat tangan. Ditunjuk, disebutin detail sama Pak Moderator. “Yang berkerudung merah,” katanya.

Haha. Pingin ketawa ingat kejadian tersebut. Psst tau nggak, aku tuh angkat tangan tapi nggak tau mau nanya apa wkwkwk. Jadi aku noleh ke mbak Netty. “Mbak, aku arep takon opo?” (aku mau nanya apa?”. Mbak Netty kayaknya lebih bingung lagi. “Yo, mbuh,” katanya.
Nah, giliran yang mau ditanyain udah kepikir, sesuatu terjadi. Pak moderator ajaibnya, malah nanya dulu sama A Fuadi. Pertanyaan yang diajukan sama dengan pertanyaan yang rencananya mau aku tanyain. Haduh du! Padahal giliranku sebentar lagi. Lha kalo giliranku tiba, aku nggak punya pertanyaan dong. Otomatis aku panik. Lututku sampe lemes. Kan nggak lucu begitu udah ditunjuk, trus aku malah bilang, “Maaf, Pak. Saya tiba-tiba batal bertanya.” 

“Penanya berikutnya,” kata Pak Moderator. Aku ngucap Bismillah bolak-balik sambil tarik napas. Ide yang terbersit sementara adalah aku harus mengulur waktu. Hahaha. Pak moderator udah nunjuk, tapi aku bolak-balik sok tolol pakek bahasa isyarat dengan menunjuk diri sendiri. Pura-pura nanya apakah giliranku?
Momen genting itu tertolong ketika nggak ada mic. Hore! Ngumpetlah kau, wahai mic, sampe aku nemu sesuatu buat ditanyain. Berdetik-detik nyari, mic, akhirnya aku disuruh berdiri trus maju ke tengah. 

Pas udah mulai ngomong, halah-halah, lha kok aku mrudul ngajuin tiga pertanyaan. Alhamdulillah lancar jaya. Ngoceh ceritanya. Aku ngaku pas mulai bicara. “Sebetulnya pertanyaan saya udah ditanyakan tadi sama Pak Moderator.”

Entah lucunya di mana, A Fuadi dan pak moderator ketawa. Padahal aku serius lho. Yak, nasib jadi aku. Di mana-mana anehnya, orang-orang suka ketawa kalo ngobrol sama aku. Bahkan marah pun kadang aku diketawain *haiss.

Nah, untuk tip nulis, kata A Fuadi adalah: “Menulis itu seperti ngobrol dari hati ke hati. Kita nggak cuma berkata-kata tapi melibatkan hati. Menulislah dari hati. Kalo nulisnya pakek kepala, yang baca pusing dan nggak akan dibaca ulang. Contoh: buku pelajaran.”

Agar tulisan nggak menggurui, ini tipnya. “Menulislah dengan bercerita. Menceritakan orang lain. Di R1M saya menceritakan tentang ustad-ustad saya.”

Sementara modal menulis ada tiga. “Menulis itu cuma butuh, pulpen, kertas, dan hati.” Pada bagian ini hatiku seperti kesenggol.

Just info pula, A Fuadi ini udah nulis sejak kecil. Ia punya buku harian. Dan kebiasaan menulis itu diterapkan di pesantren. Tiap anak pondok harus setor tulisan kegiatan sehari-hari satu paragraf. Jadi yang namanya habit nulis tuh udah ada sejak dulu kala. Keren ya? 

Sesi terakhir beliau memberikan nasihat. “Bela impian kalian dengan kerja keras. Dengan doa. Doa kata kyai saya ada tiga. Mendoakan orang lain. Didoakan orang lain. Dan mendoakan diri sendiri. Dan ukuran kesuksesan adalah mengacu pada hadis nabi. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.”

Sesi foto bareng. Di manakah aku? :P

Acara yang supersingkat tersebut pun selesai, lalu kami wefie berjamaah. Pas wefie aku kan pendek ya. Nggak kliatan kata mbak Netty. Ya udah deh, aku jinjit sejadi-jadinya :P. Mayan keliatan rada tinggian.

Kesimpulanku, acaranya seru, tapi aku nggak suka sama kemolorannya. Terus, inspiratif. Poin plusnya adalah, bedah buku kali ini bukan murni kayak acara sastra gitu. Tapi apa ya, bukan ceramah sih karena A Fuadi nggak menceramahi. Mmm, membahas nilai-nilai yang patut direnungkan lebih tepatnya. Begitu beliau menyebut “hati” saya langsung bolak-balik nanya sama diri sendiri. Apakah aku melakukan sesuatu dengan hati? Atau aku melakukan dengan ambisi? Apakah aku konsisten? Apakah aku sudah berdoa seperti menurut kyai A Fuadi? Apakah aku sudah total dalam berusaha?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, biar aku yang menjawab :).


No comments:

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...