Thursday, 8 October 2015

INGIN MAPAN SECARA FINANCIAL? YUK BELAJAR NGATUR KEUANGAN BARENG SUN LIFE


Pernah saya dikomentari teman kerja. Komentarnya gini. “Kamu kalo punya duit itu, beliin sesuatu yang bikin keliatan kalo kamu kerja. Nyicil motor kek. Biar keliatan kalo hidupmu berubah. Hasil kerjamu juga biar keliatan.”
Apa jawaban saya? “Males ah. Biarin juga ta abis-abisin. Mumpung lagi ada.” Begitulah pikiran saya kala itu.
Sampai akhirnya almarhumah Ibu turut kasih nasihat. “Kamu jangan boros-boros sama uangmu. Sisihkan, Wid.”
Tapi apa yang saya lakukan? Saya nggak peduli nasihat orang tua. Saya tetep aja boros. Duh duh! Mau berapapun duit yang masuk, besar atau kecil, tetep aja abis tanpa berubah jadi apapun. Saya nggak tau kemana larinya para duit saya. Yang pasti saya hobi banget jajan dan nonton. Jadi duit saya lenyap nggak berbekas akibat kulineran, beli hal-hal nggak penting, dan duduk manis di 21. Hayo, siapa yang senasib sama saya? *Nyari temen.
Nah, tanggal 12 September lalu, saya diundang ke acara jumpa blogger bareng Sun Life di Hotel Artotel Surabaya. Temanya acara tersebut adalah “Bijak dalam Mengelola Keuangan”. Di acara ini saya bolak-balik ketampar bin baper (bawa perasaan alias rada kesindir) wkwkwk. Baper positif maksud saya karena ngerasa kesindir cantik. Haduh, kok bisa sih? Yuk kemon dilanjut baca cerita saya.



Saya berangkat dari Malang naik kereta ( jug i jag i jug i jag i jug ) ahaha. Trus ditraktir makan sama temen di Surabaya namanya Lia. Abis makan, Lia nganter saya ke Hotel Artotel. Saya tiba di hotel pukul 12 dan langsung registrasi. 
Saya lagi antre registrasi
Asik ya mottonya Sun Life :D
Waktu registrasi, saya dikasih goodie bag, trus dikasih kertas soal-soal pre-test (serasa mau praktikum zaman kuliah hihi) yang harus diisi para audiens. Isinya tentang pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan finansial seperti "Bagaimana masyarakat Indonesia menilai seseorang kaya atau tidak?" Nggak lupa mbak-mbak di bagian registrasi menyilakan saya untuk makan siang.
Goodie bag yang diberikan
Isi goodie bag berupa handuk plus hand out materi
Soal-soal pre-test



Pingin tau makan siangnya apa? Ini dia. Looks yummy kan?

Kalo lagi laper, niscaya menu ini saya lahap satu-satu


Pingin nyobain nasgor kemangi sebetulnya

Soto ini juga pingin saya cicipi. Tapi oh, perut saya nggak muat.

Saya bolak-balik ngambil Es Manado ini begitu tiba.


Makanan di sana sih menggoda iman sayangnya perut saya masih penuh. Jadi udah nggak napsu liat makanan lezat. Satu-satunya yang menggoda cuma es manado. Saya pun melahapnya dengan ganas. Malu-maluin biarin. Soalnya Surabaya lumayan bikin rada dehidrasi.

Tema gathering Sun Life dan Blogger
Nggak satu pun saya kenal mereka
Sebelum acara dimulai, saya celingukan. Semua pada ketawa ketiwi bareng komunitasnya sendiri, sementara saya tengak-tengok. Saya nggak mewakili komunitas manapun. Saya mewakili komunitas diri sendiri alias KDS haha. Lagi-lagi ngerasa aneh sekaligus hepi. Kok bisa ya Sun Life tau-tau email ngundang saya, seorang blogger pemula yang nggak join di komunitas manapun (eh tapi rezeki juga ding ya diundang).


Daripada tengak-tengok sendirian, saya kenalan sama blogger yang duduk di samping saya. Namanya Mbak Wiwid. Mayan deh, punya kenalan. Ngobrol-ngobrol bentar lalu kami sama-sama sibuk pencat-pencet gadget karena di acara ini ada lomba livetweet. Yah, siapa tau menang.
Mbak Wiwid (kiri) dan saya (kanan)

BIJAK DALAM MENGELOLA KEUANGAN
Acara dibuka oleh dua MC kocak yang bersahut-sahutan mengumumkan rangkaian acara berikut hadiah-hadiah yang bisa didapatkan audiens.
Yang bikin gagal fokus itu sepatu Mas Benny sang MC. Ijo ngejreng. Aw, silau, Man! Hihi
Sambutan pertama dibuka oleh Head Marketing Sun Life yakni Bu Sherly J. Sambil menyimak, saya juga nyoba ngerjain pertanyaan-pertanyaan di pre-test. Dalam sesi tersebut Bu Sherly memaparkan sekilas mengenai Sun Life.
Bu Sherly cantik kayak model.

Sun Life ternyata berasal dari Kanada dan udah berdiri sejak taun 1865. Uwow! Berarti udah 150 tahunan Sun Life eksis. Di Indonesia sendiri, Sunlife berdiri tahun 1995 dan sekarang sudah menyebar di 58 kota di seluruh Indonesia. Banyak bener. Nah, kabar bagusnya lagi nih, Sun Life ternyata udah meluncurkan produk berbasis syariah lho. Selain itu, Sun Life sendiri juga punya program bernama Sunbright yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan literasi keuangan.

Berikutnya giliran Pak Alviko lagi kasih materi

Berbicara mengenai literasi keuangan, pengetahuan saya masih super duper minim. Ah, beruntung banget bisa diundang ke acara ini. Menurut Pak Alviko Ibnugroho (pakar Financologist yang prestasinya seabrek-abrek), hidup itu mengalami 3 fase Financial Life Cycle.
Pertama, usia 20 tahun-an. Pada fase ini, orang biasanya punya “banyak” waktu, tapi minim duit. Ya, masa-masa kuliahan yang sering-sering bokek itu. Hihi.
Kedua, usia 30-35 tahun-an. Pada masa ini, orang biasanya punya “cukup” waktu, tapi duitnya udah rada banyakan.
Ketiga, usia 40-50 tahun-an. Biasanya orang memiliki “sedikit” waktu tapi duitnya banyak.
Di manakah posisi kita? Saya jawabnya dalam hati aja ya hihi. Yang penting masih ada waktu untuk belajar ngelola duit sebelum terlambat.
Sebelum menginjak ke materi inti, audiens dites apakah punya bakat kaya atau nggak. Menurut hasil tes, ternyata nih ya, yang berbakat cuma beberapa orang aja. Saya nggak termasuk (hadeh). Karena saya bukan tipe orang yang berani malu. Katanya, kalo mau kaya itu, salah satunya adalah kudu berani malu. Banyak orang mau kaya tapi ogah berkorban, catet. Bagi teman-teman yang ingin jadi horang kayah, nih perhatikan baik-baik tipsnya. Menurut Pak Alviko ada dua syarat penting kalo kepingin jadi kaya.
1. Yakin kalo bakal kaya. Yakinnya haqqul yakin lho ya. Bukan yakin musiman.
2. Yakin dengan konsekuensi yang dipilih. Yakni mau malu, mau menderita, mau berkorban.
Yak, mari kita tempel dua syarat di atas di kening, agar nggak lupa haha.
Berikutnya ada tes lagi. Audiens dikasih pertanyaan, apa yang akan dilakukan kalo mendadak punya duit 100 juta? Saya pinginnya naik haji (Aamiin 3x, moga terkabul ya). Dan, mayoritas audiens menjawab “menabung”.
 
Ternyata, memang karakter masyarakat Indonesia tuh kebanyakan ingin menabung kalo punya duit. Kita ini, takut sama risiko kalo mau berinvestasi. Takut mau buka usaha. Takut mau jualan. Karakter orang Indonesia adalah, ogah berinvestasi, tapi banyak keinginan. Banyak alasan juga dong (duh, jleb banget nih di ati). Kebanyakan masyarakat Indonesia juga takut mengalami yang namanya rugi dan beralasan nggak ada modal. Dalam hati saya membenarkan. Modal dari mana coba?
Eh, tau nggak, modal sebenarnya bukan kendala lagi. Sebab ternyata wirausaha itu terbagi atas dua. Wirausaha hulu yang pakek modal, seperti usaha kerajinan. Ada pula wirausaha hilir, yang nggak pakek modal, seperti usaha dropshipper atau jualan online. Aduh, mata saya jadi melek nih. Kemana aja ya, saya selama ini kok baru nyadar?
Sementara itu, ruangan mendadak jadi sunyi senyap. Entah apa yang bersliweran di pikiran para audiens. Kesindir kayak saya haha, atau punya ide mau berinvestasi? Kalau saya sih, bolak-balik nelen ludah karena merasa kesindir.
Materi dilanjutkan pada penjelasan mengenai 8 dosa sifat manusia dalam mengelola keuangan. Ngomong-ngomong kenapa ada kata “dosa”? Kata Pak Alviko, sebab dosa adalah kesalahan yang disadari tapi dilakukan berulang-ulang. Nah, mari dilanjut bacanya, dan mohon maaf kalo rada-rada jleb nih lanjutannya hihi. 

Dosa pertama. Masyarakat terperangkap mitos zaman dulu.
Apa itu mitos zaman baheula? Contohnya mitos kalo, jadi karyawan lebih menguntungkan bagi hidup. Jadi karyawan dianggap lebih aman. Atau pemikiran kalo jadi blogger atau orang yang menekuni hobi bukanlah profesi yang bisa menghasilkan kemapanan finansial (heh, siapa bilang?). Misalnya pula pemikiran kalo lebih baik jabatan tinggi, karier naik, daripada mikirin membangun kekayaan. Padahal apalah artinya jabatan bagus kalo gaji cekak. Ya nggak sih? (ampun, maaf, maap, sungkem kalo rada nohok. Piss ya..). Ada juga yang beranggapan bahwa, orang yang terus-terusan mikirin duit dianggap nggak idealis. Duh, padahal zaman sekarang apa sih yang nggak pakek duit? Masa mau sedekah pakek doa mulu, ya nggak?
Untuk menepis pemikiran-pemikiran tersebut dari diri kita, solusinya adalah buang jauh-jauh mitos tersebut. Kita harus membuat diri kita berbeda. Semisal blogger kan dikenal nggak modis karena biasanya kerja pakek sarung atau daster (saya nggak lho). Berarti berikutnya tampillah rada modis di depan umum dan wangi. Selain itu jangan lupa pula, kalo kita punya duit, kita harus nyisihin untuk berinvestasi. Investasi paling gampang adalah beli emas. Pak Alviko sharing cara simple investasi emas. Caranya belilah anting bayi aja segram demi segram. Kalo udah dapat 7 anting bayi, jual lagi, beliin cincin. Biar keliatan kalo apa yang kita usahakan atau kerjakan, ada hasilnya. Kayak nasihat temenku di atas tuh.


Dosa kedua. Banyak masyarakat yang memilih untuk buta masalah financial.
Kenapa seperti itu? Sebab banyak masyarakat masih enggan menyisihkan waktu untuk belajar masalah keuangan. Eike lagi-lagi bersyukur bisa dateng ke acara ini, karena bisa belajar.
Sampai sekarang masih banyak orang yang menganggap kalo pergaulan akan lebih menarik jika nggak pakek acara bahas-bahas masalah duit. Soalnya kalo bahas masalah duit melulu biasanya kan dikira matre. Dikira mikirin duniawi aja. Dan... Dikira mata duitan. Ya nggak sih?
Supaya kita bisa rada melek perkara keuangan, kita harus alias wajibun meluangkan waktu untuk membaca dan mengobrol perihal keuangan. Jadi jangan ngerasa sungkan ngobrolin duit. Nggak apa-apa siapa tau ada ilmu dari obrolan yang dilakukan.
Trus ya, bagi yang bekerja di rumah, sebaiknya jangan lupa untuk menggaji diri sendiri. Sebagai bukti bahwa pekerja freelance itu juga pekerja yang layak dapat gaji. Sebagai bukti pula kalau seorang freelancer, bisa dapet duit.

Dosa ketiga. Manusia itu cenderung berjuang demi bertahan hidup bukan berjuang demi keinginan hidup.
Emang apa bedanya bertahan hidup dan berjuang demi keinginan hidup? Contohnya gini. Kalo bertahan hidup, mikirnya: saya wajib nguliahin anak. Kalo yang berjuang demi keinginan hidup, mikirnya: saya ingin nguliahin anak di ITB. Lalu mulai deh, kalkulasi perkiraan biaya kuliah di ITB 15 tahun mendatang. Trus biasanya kalo udah tahu nominal perkiraan biaya kuliah, yang ada malah shock. Hihi. Bagus tuh shock, biar ada persiapan mulai dari sekarang.
Agar pola pikir kita berubah menjadi manusia yang berjuang demi keinginan hidup, sering-seringlah sharing sama orang yang sevisi. Sama orang yang berani ambil risiko untuk mewujudkan impian. Bayangkan pula hidup kita beberapa tahun ke depan. Bukan saat ini aja. Sebagai contoh: Akan seperti apakah hidup saya 10 tahun ke depan? Sama atau ada peningkatan? Yuk ayuk, mari kita berpikir. Semoga pada indah-indah ya yang dipikirkan :D.

Dosa keempat. Kebanyakan masyarakat tidak menetapkan target finansial.
Sudah umum banget. Kalo masyarakat Indonesia itu kalo punya duit, hobinya jalan-jalan, belanja, nabung, ngutang bikin kartu kredit, bayar cicilan, dll. Tahu-tahu uang pun abis. Amblas. Nggak jadi apa-apa. Ampun, ampun, di dosa ke empat ini, saya kena tampar. Saya paling hobi jalan-jalan dan jajan sana-sini.
Kenapa masyarakat ogah netapin target finansial dirinya? Karena ribet. Betul nggak? Kita ogah berpusing-pusing ria toh? Kita ilfil duluan liat angka-angka ya nggak sih? Atau cuma saya doang nih? Hehehe.
Padahal salah satu solusi agar kita bisa mengelola keuangan adalah kita musti netapin target. Sebab keinginan kita besar, tapi kemampuan kita nggak besar. Buatlah target finansial mulai dari sekarang plus, kita juga punya komitmen yang tinggi untuk bekerja lebih keras. Mulailah nyicil sedikit-sedikit untuk target jangka panjang. Yang ingin nikah, nyicil biaya nikah mulai dari sekarang, misalnya. Intinya sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit.

Dosa kelima. Kita tidak memprioritaskan kemakmuran financial.
Biasanya yang banyak terjadi di masyarakat kalo dapat duit, tau-tau ilang begitu aja. Halo halo, termasuk saya juga nih ( tutup muka). Banyak masyarakat yang jarang banget bisa berhemat. Beli ini itu pas banyak duit eh, tau-tau nipis aja.
Untuk mengatasi hal ini, kita harus menjadwalkan waktu untuk mengejar kekayaan. Bekerja lebih giat lagi. Kita harus lebih egois secara positif dengan berhemat. Kita harus pandai-pandai memanfaatkan waktu yang ada. Hmm, iya deh, bakal lebih giat lagi deh nyari duitnya. Semangaaat!

Dosa keenam. Tidak menggunakan uang dengan bijaksana.
Triple jleb! Makin tinggi tingkatan dosa, makin kesindirlah diri saya. Kenapa masyarakat tidak bijaksana menggunakan uang? Banyak faktor sebetulnya. Ada yang terjebak utang (yang punya utang, semoga bisa lunas). Ada yang belanja untuk pelipur lara (ya ya, ini saya banget dan saya mau tobat). Ada yang beli sesuatu atas dorongan emosi (plak lagi. Hadeh!). Ada yang karena mupeng obralan (Serius deh baper level maksimal saya). Ada pula yang berbelanja cuma untuk nebus rasa bersalah, semisal pada anak (bukan saya pastinya. Siapa hayo yang kayak gini).
Di masyarakat masa kini, ada kebiasaan memprihatinkan seperti: bersyukur banget kalo apply credit card disetujui. Ha? Padahal kan itu kartu utang? Ngapain bahagia punya kartu buat ngutang?
Solusi masalah ini adalah kalo belanja, pakeklah uang cash jangan kartu kredit. Nggak apa-apa nggak keliatan keren atau modern. Gunakan pula konsep Management By Amplop. Contohnya, buka rekening yang banyak, gunakan khusus untuk bayar ini itu. Dengan tujuan, uang yang kita punya udah terpecah-pecah sesuai sasaran. Solusi berikutnya adalah, hindari berbelanja kalo lagi emosi. Terutama kaum hawa. Kata Pak Alviko nih, belanja paling efektif tuh malam hari. Apalagi kalo supermarketnya udah mau tutup. Dijamin deh akan milih barang-barang yang paling dibutuhkan.  Terakhir, sebaiknya bikin catatan daftar belanja biar nggak lirak-lirik barang yang nggak perlu.

Dosa ketujuh. Banyak orang yang ogah bikin anggaran.
Keuntungan bikin anggaran keuangan untuk diri sendiri adalah, bisa mendapatkan ketenangan dan membentuk kemapanan secara finansial. Jadi biar kita punya pagar yang bisa membantu berhemat dan nggak jor-joran kalo ngeluarin duit.
Gimana dong caranya bikin anggaran? Mudahnya adalah, kita atur cash flow kita. Kita perinci biaya harian, mingguan, dan seterusnya. Lalu kita buat persentase anggaran. Semisal, untuk tabungan, anggarannya 30% dari total pendapatan. Untuk cicilan 25%. Dan seterusnya.

Dosa kedelapan. Banyak orang ogah berinvestasi.
Memang pada kenyataannya banyak masyarakat yang suka menunda-nunda untuk berinvestasi. Ada yang berangan-angan ingin buka usaha. Tapi nggak kunjung dilakukan.
Dalam hal menabung pun, banyak yang memiliki pemikiran keliru. Kalo mau nabung itu, yang bener jangan diliat bunganya. Tapi pikirkan jumlah investasi setorannya. Hasilnya akan berbeda.  Trus kalo nabung, perhatikan juga tiga hal. Pertama setorannya konsisten. Kedua, jangan diambili. Ketiga jangka waktunya harus lama. Omaigod! Saya kalo nabung, suka diambili. Ternyata keliru besar! Tobat dah abis ini.
Untuk menyiasati masalah di atas, jadilah pribadi yang hemat. Jadilah investor yang baik, yaitu berinvestasi dalam arti luas. Seperti investasi waktu dan uang untuk menguasai skill tertentu dan bisa menghasilkan pendapatan ke depannya.  Jadi yang namanya investasi itu bukan melulu harus berupa duit. Belajar, kursus, itu juga investasi lho.

Akhirnya berakhirlah materi yang disampaikan Pak Alviko. Sesi berikutnya adalah tanya jawab baik pada Pak Alviko maupun Bu Sherly. 
Bu Sherly J dan Pak Alviko sudah siap menerima pertanyaan
Mas Kholis lagi nanya, "Enak mana kerja sendiri apa ikut orang?"

Menanggapi pertanyaan Mas Kholis, Pak Alviko menjawab, "Bekerjalah sesuai dengan panggilan jiwa." Menurut beliau, kalo kerja sendiri hasilnya belum stabil, kita kudu punya cadangan uang. Harus pinter dan disiplin mengelola keuangan karena pendapatan yang diperoleh nggak tetap.
Ada peserta yang nanya. "Berapa sebaiknya anggaran yang ditetapkan untuk keperluan mendadak seperti sakit?"
Menjawab pertanyaan di atas, Bu Sherly menyarankan agar sejak masih muda, sebaiknya nyisihin duit 10 persen untuk beli asuransi kesehatan. Sementara menurut Pak Alviko, anggaran nabung itu sebaiknya 30 sampai 40 persen dari pendapatan. Nah, uang yang udah disisihkan tersebutt, dipecah-pecah lagi untuk keperluan mendadak.

Setelah sesi tanya jawab ada sesi kuis sekaligus pengumuman pemenang hadiah. Pada sesi ini saya nggak terlalu konsen karena nyapa-nyapa blogger lain via twitter yang ternyata... Ada Mbak Vanda dan Mbak Dwi Apriliyanti yang udah saya kenal sebelumnya, juga hadir di acara ini. Horeee! Jadilah kami ngobrol-ngobrol sendiri hihi.

Tapi, begitu pemenang livetweet diumumkan, saya terpaku. Sebab nama saya dipanggil. Alhamdulillah, walaupun bukan pemenang utama. At least lumayan dapat voucher belanja dari Carrefour yeay!! Lalu saya, Mbak Vanda, dan Mbak Dwi pun foto-foto bareng Pak Alviko. Lanjut ikutan foto-foto bareng temen-temen blogger. Pukul empat sore, saya keluar hotel, dan kembali ke stasiun beli tiket pulang ke Malang.
Ini voucher Carrefour saya. Amplopnya rada lecek karena campur aduk di dalam tas.
Mbak Dewi Puspita dapat doorprize Asus. Yeay!
Saya, Mbak Vanda, Mbak Dwi, Pak Alviko dan teman-teman lagi berpose.
Terima kasih atas undangannya ya Sun Life, juga sharing Bu Sherly, dan Pak Alviko. Acaranya seru, menyenangkan, dan menambah wawasan. Jadi melek financial deh. Berikutnya saya mau menata diri dan tobat deh. No boros-boros lagi.


















2 comments:

Dwi Aprily - The Ordinary Woman said...

ahaha masih terngiang2 kata-kata "blogger ngirit" lha pulang acara saya bersih-bersih rumah, ngepel karena abis ganti atap bolong wkwkwk

Widya Ross said...

Mbak Dwi: Gimana sih ya, nyetting biar "reply" langsung? Gak ada ya? :P

Aku belajar irit ini. Contohnya, bawa air putih hehehe. Biar jadi horang kayah jiwa dan finansial. Aamiin.

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...