Saturday, 20 December 2014

JANGAN MENANGIS


Bulan April 2013, Ibu masuk rumah sakit akibat komplikasi diabetes, jantung, dan hepatitis. Di ruang IGD, luka lebar di telapak kaki Ibu dibersihkan. Ibu sesekali mengernyit menahan sakit, mata beliau terpejam. Saya yang berada di sisinya tersedu-sedan. Tiga hari lalu Ibu masih bercanda dengan saya. Saya ingat betul kalimat Ibu. “Yang rajin olahraga ya, Nak. Biar sehat. Doakan Ibu sehat dan panjang umur. Nanti kalau Ibu wafat, kamu gimana?”

Mengenang kalimat tersebut, air mata saya mengucur tanpa bisa dicegah. Saya takut Ibu meninggal. Selama ini yang men-support saya menulis cuma Ibu. Selama ini yang mendoakan agar cita-cita saya terkabul hanya Ibu. Masih terekam dalam ingatan saya, ketika cerpen anak saya dimuat Kompas, wajah Ibu sumringah sekali. Berikutnya Ibu selalu bertanya, “Ada yang dimuat lagi?” Pertanyaan sepele namun serasa suntikan semangat buat saya. Saya terisak-isak, terkenang pada pertanyaan tersebut.

Mendengar isakan saya, Ibu mendadak membuka mata. “Hei, kenapa menangis?” Ibu menatap saya sebal. Saya tak sanggup berkata apa-apa. Yang ada  malah saya semakin tersedu-sedu.
“Jangan menangis! Jangan menangis!” kecam Ibu tak suka. Demi agar Ibu tenang, saya berusaha keras menahan tangis. 

Dua hari berada di rumah sakit, kondisi Ibu terus menurun. Pagi-pagi pada hari ketiga, Ibu sudah tidak sadar. Menjelang sore, sekitar pukul setengah tiga, Ibu wafat. Saya seakan dibanting jauh ke dasar bumi, terpuruk, dan tidak berdaya. 

Di makam Ibu, salah satu tetangga menyalami saya. Dengan wajah sendu, ia berkata, “Setidaknya kamu masih punya Bapak. Bersyukurlah. Saya? Dua-duanya sudah tidak ada.” Ia mengusap-usap tangan saya.

Kalimat tersebut membuat saya terenyak. Dia benar. Masih ada Bapak dan kakak yang menyayangi saya. Saya tidak sendirian. Sedikit rasa syukur membuat saya merasa lebih baik.

Saya melewati masa-masa duka dengan terus menjaga api semangat saya. Saya terus menulis. Saya ingin mengukir prestasi. Saya ingin membuat Ibu bangga, meski beliau telah tiada. 


7 comments:

Keluarga Semilir said...

Mudah-mudahan Allah menempatkan Ibu Mbak Widya di tempat terindah, Aamiin

Widya Ross said...

@Keluarga Semilir: Aamiin... Makasih :)

eugenia rakhma said...

Semangat, Kak Widya :) Ibu di Atas Sana pasti tersenyum lihat buku-buku Kak Widya yang semakin banyak dan membawa manfaat untuk banyak orang :) Tetap berkarya, Kak \(^o^)/

John Labi nasir said...

al fatihah...semoga roh nya di tempatkan di kalangan orang yang beriman... amin

Widya Ross said...

Eugenia: Makasih, Mbak Rara :D
John: Makasih ya :)

Dewi Rieka said...

Peluuuk widyaa...kalau mau cerita2 colek me yaa...dakuw siap pasang telinga :*

Widya Ross said...

Dewi Rieka: Heiho, Mbak Dew :D. Pada mellow sik. Ini artikel buat lomba. Masa lalu yang menyedihkan. Makasiiiiih :D. Sungkan, Mbak *basabasi

Post a Comment

REVIEW LIPSTIK: POPPY DHARSONO LIQUEFIED MATTE LIP COLOR

Zaman sekarang yang namanya lipstik banyak sekali macamnya. Cuma saat ini yang lagi ngehits adalah lipstik matte yang kesat dan tahan berja...