Saturday, 18 October 2014

BEHIND THE STORY BUKU ANAK "DONGENG MISTERIUS DARI LIMA BENUA 1 DAN 2" (part 1)

Hai hai hai.Siang ini kembali ngeblog setelah berhari-hari absen.

Kali ini aku mau cerita "behind the scene" tentang buku yang mau terbit 27 Oktober nanti. Bagi yang berteman denganku di Facebook, udah tau kan ya? Buku anak, judul:

1. DONGENG MISTERIUS DARI LIMA BENUA 1


2. DONGENG MISTERIUS DARI LIMA BENUA 2



Diterbitkan oleh Penerbit Kiddo, Imprint dari Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Gramedia Grup.

Awalnya gimana kok bisa ujug-ujug bikin buku begini?

Awalnya adalah... iseng. Hehehe. Waktu itu, ibuku kan wafat. Ealah, kok ceritanya ini lagi ini lagi. Iyaaa soalnya pasca Ibu meninggal, aku jadi gencar menulis dan kirim naskah. Aku nggak bisa betah bermellow-mellow ria. Aku nggak tahan bersedih hati. Waktu itu aku mikir, aku harus supersibuk. Jeda nganggur lima menit aja langsung kangen almarhumah Ibu.

Jangankan itu, 7 hari pasca ibuku wafat, naskahku juga udah meluncur ke majalah Chic dan dapat konfirmasi sekitar 2 minggu kemudian. Konfirmasi dimuat apa ditolak? Eh, dimuat doooong, Alhamdulillah *aseek.

Nah, galau membuatku rajin menulis. Ogaaaah berteman dengan galau kelamaan. Almarhumah Ibu juga niscaya maunya aku kuat dan tetap mendoakan beliau. Bukan malah berurai air mata trus linglung kayak orang stres.

Bacaanku pasca Ibu wafat, aku ingat betul, adalah buku INHERITANCE, karya Christopher Paolini. Baca itu membuatku jadi ingin memiliki naga. Jadi pingin bersahabat sama naga. Iya iya tau. Naga itu nggak ada. Namanya juga kena pengaruh buku best seller :P. 

Aku pun mencari info mengenai elf, naga, dan teruuuus berlanjut. Lalu terkumpullah referensi tentang makhluk-makhluk mitologi dunia. 

Pertama kali aku menulis kisah tentang hantu. Lalu zombie. Kisahnya lucu dan mengharukan. Tepat saat itu Penerbit Kiddo lagi butuh naskah anak. Mbak Dian Kristiani memperkenalkanku dengan sang editor.

Sang editor lagi butuh naskah bertemakan Me and My Pet. Aku coba kirim sinopsis, dengan setengah hati. Aku nggak terlalu suka cerita realis. Hasilnya... Naskahku ditolak, hahaha. Kurang oke.

Lalu kucoba aja mengirimkan naskah tentang hantu dan zombie. And you know what? Tanggapan Mbak editornya adalah: ceritanya lucu :D.

Tapi belum diacc. Naskahku masih mau dibawa ke rapat redaksi. 

Selagi menunggu keputusan, aku sih, seperti biasa, udah pasrah dengan kemungkinan terburuk. Udah terlatih saat kirim naskah ke media. Ditolak dan diterima, itu dua sisi mata uang. Ditolak bukan berarti gagal, diterima juga bukan berarti "wow".

Jadi aku melupakan tentang naskah zombi dan hantu itu. Namun suatu hari, email Mbak Editor  masuk. Nah, saat itu aku berdebar-debar hehe. 

Aku copas isi emailnya ya:
Hai, Mbak Widya

Aku mau menindaklanjuti proposal Mbak Widya. Di sini tadi aku sudah diskusi dengan teman-teman dan pemred KPG. Semua tertarik dan ingin menindaklanjuti proposal ini. Hanya saja, kalau jumlah ceritanya berjumlah 50, gimana, Mbak? Jadi judulnya bisa 50 Dongeng Horor Lucu. 

Dst 

Yang "50 DOngeng Horor Lucu" aku bold, karena meskipun cover buku di atas misterius dan dark, tapi sebenernya isinya: HOROR LUCU. Catat ya hehehe. HOROR LUCU.
Lha mustahal dong aku bikin cerita horor serius (trully horror) buat anak-anak. Lagian horor itu bukanlah ketemu monster, hantu, dll. Menurut kalian, film Monster Inc dan Casper, atau Frankewennie, apakah tergolong horor? Siapa yang sampe nutup mata liat film tersebut? Nggak kan?

Horor itu... mengalami sesuatu yang menegangkan, yang kita nggak tau apa yang mengintai kita. Bahkan ke kamar mandi pun bisa jadi horor kalau takut bakalan ada kecoak.

Back to topic, akhirnya aku menyanggupi 50 dongeng horor. Dengan tambahan tugas, aku harus melampirkan lembar fakta unik tentang tokoh. Semisal zombi. Zombi itu legenda dari mana sih? Dan seterusnya. 

Apakah menulis naskah ini mudah?

TIDAAAAK! Paling susah di antara semua buku yang kutulis. Karena itu tadi. Harus: HOROR tapi jangan beneran horor, LUCU, UNIK, BERPESAN MORAL. Dan aku nggak punya buku anak yang seperti itu huaaaaa! Mayoritas buku-buku anak koleksiku isinya kacau dan imajinatif.

Paniknya lagi, naskah harus dikirim secepatnya. Sinopsis dulu aja nggak apa-apa, secepatnya, kata Mbak Editor. Bayangkan, 48 sinopsis. Mbak Editor menambahkan, tokoh misteriusnya dari lima benua. Asal jangan Indonesia katanya. Karena ehem, yaaa, masa aku nulis dongeng tentang pocong, kuntilanak, genderuwo, dll? Bisa-bisa anak-anak malah takut.

Etapi pada akhirnya nemu juga lho makhluk mitologi Indonesia yang aku baru tahu. Dari wilayah Indonesia Timur. Baca ya, nanti :D.

Sementara itu, referensi yang kupunya mayoritas adalah mitologi Eropa. Harus browsing lagi, harus ngonsep cerita lagi. Dan kalian tahu, aku dilanda panik akuuut sampe stres. Tapi aku seneng. 

Stres kok seneng ya :P. Maksudku, aku beneran sibuk, jadi mulai bisa melupakan kematian Ibu. Betewe, memilah-milah tokoh mitologi yang mau dijadiin cerita itu nggak mudah lhoo. Aku harus nemu referensi lengkap kap kap. Biar bisa menentukan arah cerita.

Di Wikipedia, nggak semuanya lengkap. Kadang penjelasannya sedikiiiiit sekali. Fiuhhh. Mana mbak Editor rencananya akan menerbitkan naskah tersebut Oktober tahun lalu. Ilustrator rencananya ngerjain 3 bulan. Jadi aku punya waktu sebulan menuntaskan 50 naskah horor, unik, berpesan moral, plus fakta unik. *nangis*

Aku jadi spaneng aja. Untung ada dua sahabat yang mensupport. Mereka Nona L dan Nona F. Selaluuuu menyemangati. Sayang banget deh sama mereka hehe.

Lantas, apakah aku bisa memenuhi target editor? Apakah aku lancar-lancar aja pas ngerjain? Lima puluh naskah itu di-oke-in? Jawabannya adalah: TIDAK. 

Jadi perjuangan berikutnya jauh lebih berat (part 2). Tunggu di sesi berikutnya yaaaaa :D. Met malming semuaaa :D









4 comments:

Nuraviana Khuriyyah said...

Memotivasi banget. Ga sabar nunggulanjutannya.kalo berkenan, aku ditag ya mbak widya kalo ada postinglanjutannya... :)

Widya Ross said...

Nuraviana: Makasih udah mampir :). Insya Allah kalau nggak lupa.

Rosita Dani said...

Pasti berat ya mba bikin 50 cerita horor tapi lucu, banyak suka dukanya. Ditunggu kelanjutan cerita di atas mba..

Widya Ross said...

Rosita Doni: makasih dah baca :). Nih, mau ditulis.

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...