Wednesday, 6 August 2014

PERCIKAN GADIS BERJUDUL "MASAKAN IBU" (20 JULI - 4 AGUSTUS)




MASAKAN IBU

Sudah delapan hari berlalu. Aku mendesah. Oke. Ini bukan saatnya meratap. Wajan di hadapanku sepertinya mulai memanas. Saat mengetes dengan sendok kayu, buih-buih minyak telah terbentuk.
Tumis kacang panjangnya bersama bumbu dan jangan lupa. Kalau menambahkan kecap, tuangkan di sisi-sisi wajan. Gunakan api besar. Sesuai instruksi suara di kepala, aku menumpahkan potongan kacang pancang berikut bumbu rajangan di permukaan wajan. Aroma lezat meledak di udara.
Selagi tanganku bergerak mengaduk-aduk, kudengar hatiku berkata. Seperti mimpi saja aku memberanikan diri memasak. Jangankan menumis sayur dan menggoreng ikan patin, merebus air saja aku belum becus. Biasanya aku cuma mendengarkan ibu berceloteh, menceritakan tata cara memasak ini itu. Aku melirik piring berisi ikan patin goreng. Serpihan bumbu tampak kering di permukaan kulitnya. Semoga saja lezat.
Bau cabe menusuk-nusuk hidung. Aku bersin. Sekali, dua kali, berkali-kali sampai hidungku sedikit berair. Di kejauhan terdengar lantunan ayat-ayat suci Al Quran. Sebentar lagi buka puasa.
Aku menuangkan air sedikit, saus tiram, lada, lalu kecap. Bau masakan semakin mewah. Waktunya menambahkan gula dan garam. Kalau menambahkan gula dan garam, perbandingannya dua banding satu, Nin. Ya. Dua banding satu. Aku menegaskan dalam hati. Tanpa ragu kulakukan saja instruksi yang terngiang di telinga.
Akhirnya selesai sudah. Sepuluh menit kemudian adzan maghrib berkumandang. Bapak baru saja pulang kerja. Dino, adikku yang masih SMP, meneguk air putih dengan tatapan menerawang. Ah, jadi merasa bersalah karena tidak membuat takjil yang lebih layak. Tidak seperti tahun lalu. Ibu sering membuatkan es sarang burung dan es menado.
Lepas solat maghrib, aku, Bapak, dan Dino menghadap meja makan.
“Maaf, belum sempat bikin sambal,” kataku.
“Nggak apa-apa, Nin. Ini sudah cukup,” Bapak menenangkan.
Ketika mulai mengunyah, Dino tertegun. Begitu pula Bapak. Aku yang masih belum menyendok, turut tertegun. Kenapa ekspresi mereka seperti itu?
“Rasanya,” Dino bergumam lirih.
“Ya,” Bapak mengangguk.
“Kenapa? Nggak enak?” Aku jadi was-was. Semoga mereka memaklumi karena aku masih amatiran.
“Seperti masakan Ibu,” Dino menatapku. Keredupan di matanya berganti binar keceriaan.
“Terutama tumis kacang panjangnya. Nina, hebat sekali kamu. Bisa masak seperti Ibu,” Bapak masih takjub.
Aku tersenyum. Sungguh, rasanya seperti diselimuti bintang-bintang. Kami makan dengan lahap sambil sesekali mengobrol. Bapak dan Dino bertanya kok bisa aku sukses menduplikasi resep Ibu. Kehangatan tercipta di antara kami. Kabut-kabut berduka itu sepertinya mulai menipis.
“Ibu suka memanggilku untuk menemani beliau ketika tengah memasak. Ibu bercerita banyak padaku,” aku menjelaskan.
oOo
Pagi ini aku berangkat ke sekolah lebih awal. Aku masih ingin mampir ke tempat Ibu. Keceriaan berbuka semalam masih membekas hingga detik ini. Di tikungan dekat masjid, aku turun dari angkutan umum.
Kakiku melangkah mantap di sisi jalan kecil. Cuma butuh sekitar tiga menit, aku sudah tiba. Langkahku terhenti di pintu gerbang. Aku mendongak. Ada tulisan: TEMPAT PEMAKAMAN UMUM KALIWETAN.
Rasanya tak percaya Ibu sudah berada di sini. Sudah delapan hari. Air mataku merembes, menggenang. Ah, jangan lebay. Masa berduka telah lewat. Aku menegur diri sendiri. Kakiku kembali bergerak melintasi jejeran nisan. Kesunyian menyergap, menciptakan kesedihan menusuk yang begitu menyakitkan. Harus kuat, Nina, aku bergumam.
Tepat di bawah pohon kamboja, aku berhenti, berjongkok. Kubelai batu nisan Ibu.
“Pagi, Bu. Apa kabar di dalam sana? Kemarin sore aku masak tumis kacang panjang dan...” Suaraku bergetar. Aku menelan ludah, mengeraskan rahang. “Dan ikan patin goreng. Memang enak kalo ditambah daun jeruk purut. Bapak dan Dino suka.”
Aku terdiam. Burung-burung berkicau bersahutan. Aku masih saja terdiam, menatap gundukan tanah bertabur bunga-bunga yang telah kering.
“Nah. Aku berangkat dulu ya, Bu. Menu nanti sore, aku mau bikin tumis gurame. Aku pasti bisa,” tanganku meremas batu nisan yang keras dan dingin. Menekan keinginan untuk menangis, aku bangkit, berbalik, terus berjalan hingga keluar dari kawasan pemakaman. Bayangan Ibu mewujud di pelupuk mata. Ah, aku sangat merindukannya.


PROSES PENULISAN

Naskah ini kubuat kurang lebih 20 menitan. Jadi waktu itu menjelang pukul 9 malam. Aku ingin nulis ke media. Mulailah aku membayangkan diri sendiri lagi masak di dapur. Nah, namanya cerita, tentu harus ada konfliknya toh. Bayangan berikutnya, aku sedih. Sedihnya karena apa? Aku ngawur aja. Sedih karena ingat alm. Ibu. Kenapa pilih sedih karena alm. Ibu? Aku jarang kangen Ibu kalau lagi sibuk, jujur saja. Termasuk kalo lagi masak. Aku pilih alasan tersebut karena... kemungkinan paling sreg adalah itu.
Kemungkinan yang paling dekat dengan kehidupanku juga. Yang paling bisa membuat mataku berkaca-kaca dalam beberapa detik. Dan aku yang lagi kubayangkan sedang di dapur, ta ganti menjadi seorang tokoh.
Bermula dari situ, terus saja ceritanya mengalir. Kan lagi Ramadhan. Aku buat saja si tokoh lagi masak buat buka. Plus, biasanya orang-orang mellow kalau Ramadhan, karena tidak lengkap tanpa kehadiran orang tercinta. Iya kan?  Itu yang jadi alasan juga kenapa memasaknya untuk BERBUKA.
Kalau tulisan menjelang ending, yang si tokoh bicara sendiri di makam, nah itu kebiasaanku. Mau ada atau nggak ada orang di makam, aku suka ngomong sendiri. Bukan meyakini kalau Ibu mendengar, bukan. Aku emang suka ngomong sama kucing, sama foto, hahaha. Bedanya, aku sangat jarang sekali datang ke makam dalam kondisi mellow. Kecuali pas awal-awal Ibu wafat.
Tentang tips memasak, sebenernya bukan dari Ibu. Tapi dari chef di tivi dan Mbak Dian Kristiani. Aku emang suka nungguin Ibu masak, tapi ngobrol ngalor ngidul hehehe.
Semua angan-angan hingga tertuang ke tulisan, butuh waktu 20 menitan. Paginya, ta edit. Kirim. Beres deh.
Gimana cara nulis cepat begitu? Gampang! Baca yang banyak! Gimana kalau susah akses buku? Selagi ada niat, selalu ada jalan. Selagi tekad kita bulat, Tuhan selalu memudahkan.

 


8 comments:

Hidayah Sulistiyowati said...

Mataku aja berembun baca ini. Bener2 bagai fakta bukan fiksi, Wid. Kamu emang cerdas meramu cerita dari ide sederhana. Bravooo! :)9

Haya Aliya Zaki said...

:((

Anonymous said...

Terharu say. Congrats ya

Widya Ross said...

Makasih udah baca, Mbak :)

Widya Ross said...

Makasih dah mampir, Mbak Hay :)

Widya Ross said...

Makasih udah baca Mbak Dhea :)

rozie said...

bagus mbak, sderhana dan mengena

Widya Ross said...

Makasih dah baca :)

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...