Thursday, 7 August 2014

AKU DAN BUKU

Aku suka baca sejak kecil. Sejak belum bisa baca, aku dah pegang buku, pura-pura baca. Sebab keluargaku pada hobi baca, terutama Bapak. 
 
Orang tuaku nggak lulus SMA. Tapi mereka hobi baca. Berita? Oh, tontonanku sejak kecil. Lha gimana wong Bapak sukanya nonton berita. 
 
Pas bisa baca, buku-buku SD, mulai dari yang jadul hingga modern, ta baca. Kurang. Buku agama milik tetangga yang nyantri, ta pinjem. Bukunya Bung Karno yang "Penyambung Lidah Rakyat", ta baca juga meski loncat-loncat. 
 
Tiap bulan bu likku yang seorang guru SD di kota, ngasih majalah anak. Sayangnya majalah ini tamat dibaca dalam hitungan menit.
 
Bapaklah yang suka suplai majalah kalau lagi ke kota. Nggak puas. Masih kurang juga. AKhirnya buku-buku kakak ta baca. Tentang bumi, aku ingat.
 
Nah, pas kelas 4 apa 3 ya, guruku nanya, "Kenapa ada siang dan malam?" Aku angkat tangan. Ta jawab, "Karena bumi berputar pada porosnya."
 
Guruku kaget. Terus beliau bilang, "Widya, jawabanmu betul. Tapi jawaban itu adalah jawaban anak SMA." Sebel! Bagiku, jawabanku bener. Yang aku baca seperti itu. Ternyata harus dijelasin panjang lebar tentang bumi. Kalau dipikir-pikir anak SD di kampungku yang SD adanya cuma 2, belum nangkep dengan jawabanku.
 
Aku pernah kirim surat sama anak pedagang, keturunan Tionghoa. Buat pinjem bukunya. Soalnya kata temenku (namanya Usma), dia sering dipinjemin buku dongeng sama Mei Lin kalau gak salah nama anak itu. Usma ini anaknya pak haji, Mei Lin ini beragama Nasrani. Asik ya di desa. Persahabatan nggak liat agama.
 
Mei Lin minjemin aku bukunya. Ada dongeng yang berbau-bau Nasrani. Malaikat-malaikat gitu deh. Aku ya biasa aja. Aku sudah tau kalau kami berbeda. Lha dari sekolah aja aku udah biasa bergaul sama dokter non muslim yang baiiiik sama aku. Aku juga dikagumi sama mbak-mbak keturunan Tionghoa, dan sering diajak ke rumahnya. Banyak yang suka padaku waktu aku kecil.
 
Apakah lantas aku tertarik jadi ingin seperti mereka? Ya nggak lah. Toh mereka juga menghormatiku. Pas Bapak naik haji, teman-teman Bapak yang Tioghoa itu pada datang kok.
 
Jadi intinya adalah? Apa ya intinya. Kok aku malah cerita ngalor ngidul hahaha. Intinya adalah, buku bagiku ibarat pengetahuan. Buku apapun, kecuali buku porno, novel yang mengandung porno. Buku yang aku hindari hingga detik ini adalah buku yang mengandung sex secara gamblang (atas dasar suka sama suka, tanpa terbalut komedi, tanpa penyampaian yang elegan). Trus buku sadisme. Buku yang isinya full becanda. Buku yang judulnya dimirip-miripin sama buku best seller. Buku fiksi yang isinya ciumaaaaan aja. 

Daaan, aku nggak bisa hidup tanpa buku. *kesimpulan apaaaa ini cobaaa :P

No comments:

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...