Wednesday, 12 February 2014

SHEILA (PERCIKAN GADIS NO. 01, 03-13 JANUARI 2014)









Apa? Nggak bisa nganter? Wajah Sheila seketika berubah masam setelah membaca pesan dari BBM. Segera ia menelepon.
“Kok mendadak nggak bisa sih?” Semprotnya to the point.
“Iya sori. Ibu mendadak minta anterin belanja,” Ryan, pacar Sheila di tempat lain, mengusap dahi. Hatinya mengingatkan, bohong lagi nih.
“Berarti aku harus berangkat sendirian ke ulang tahunnya Zeva?” Sheila merengek. Matanya yang sudah dibingkai eyeliner hitam mulai berkaca-kaca.
Ryan menggaruki kepalanya yang jelas-jelas nggak gatal. “Ajak siapa gitu. Kan ada sepupumu. Siapa namanya? Marsha ya? Kenapa nggak sama dia aja?”
Sheila bergidik. “Ngajak Marsha? Duh! Ngapain juga aku pergi sama cewek kampungan gitu. Mendingan juga sendirian daripada barengan ama dia!”
Ryan tersenyum. “Tapi kayaknya dia asik.”
Sheila bagai diterjang gelombang tsunami. Ia meradang. “Asik? Asik dari mana? Jelas-jelas Marsha itu kutu buku! Sok pinter! Nggak gaul! Dia juga pergi nggak tau kemana!”
“Jangan gitu. Bagaimanapun, dia sodaramu.”
“Nggak usah nasihatin perkara Marsha deh! Ini aku gimana mau ke ulang tahunnya Zeva?” Sheila menjejak-jejakkan kaki dengan gemas ke lantai kamar.
“Ya udah berangkat sendiri aja kalo gitu,” Ryan menenangkan.
“Masalahnya aku udah pamer kamu ke temen-temen. Aku ceritain tentang kamu dan hubungan kita. Mereka penasaran sama kamu. Trus kalo kamu nggak datang, ntar aku ditanya-tanyain, gimana doooooongggg?”
Ryan melongo. “Pamer? Baru sebulanan jadian kok udah disebar-sebarin sih, Shei?”
“Emang kenapa? Masalah? Kan kamu pacarku. Temen-temen penasaran dong. ‘Shei, cowok yang suka jemput kamu kalo pulang sekolah itu siapa? Cakep banget.’ Gitu. Masa aku nggak mau ngaku? Akhirnya aku ceritain semuanya.”
Ryan menarik napas panjang. “Hmm. Mau gimana lagi. Eh, udah ya. Aku mau nganter Ibu dulu.”
Sheila mendelik. “Tungguuuu! Sambil telponan doooonggg!”
“Sungkan sama Ibu lah, Shei,” gantian Ryan yang protes.
“Kamu nggak sayang aku ya? Udah berangkat ke ulang tahun Zeva sendirian! Kamu batalin janji! Kamu nggak kasihan apa?”
Biasa aja tuh, Ryan membatin. Tapi mustahil dia mengatakan seperti itu. Sheila bisa histeris. “Gini aja deh, Shei. Mendingan barengan sama Marsha biar kamu nggak sendirian. Bagaimanapun, ada temennya lebih enak.”
“Marsha lagi, Marsha lagi! Udah aku bilang, aku benci sama cewek itu!” lengking Sheila.
“Aneh deh benci sama sepupu sendiri,” Ryan menggumam.
“Kamu nggak tau sih. Di rumah, dia selalu dipuji Mama Papa. Yang sederhana lah. Nggak suka ngabisin uang lah. Bla bla bla. Dik Nino juga lebih lengket ama dia ketimbang aku. Nyebelin! Mana dia penampilannya ndeso lagi. Pokoknya aku nggak mau barengan ama dia!”
“Gini aja. Setengah jam lagi aku telpon kamu. Nggak enak sama Ibu, Shei. Ntar kan kalo belanja, Ibu sibuk sendiri tuh. Baru aku telpon. Gimana?”
Sheila mendengus. “Janji lho!”
“Iyaaaa. Kalo aku bohong, misscall aja ntar.”
Sheila menekan tombol merah. Di tempatnya, Ryan juga melakukan hal serupa. Sheila pun akhirnya berangkat seorang diri ke ulang tahun Zeva. Di tempatnya, Ryan tersenyum pada sosok cewek berambut sebahu yang sedari tadi tersenyum memperhatikan Ryan teleponan.
“Ternyata dia keukeuh sama perasaannya. Tetep benci sama aku,” cewek  itu berkata.
“Ceritamu bener. Nggak nyangka kalo watak Sheila seperti itu. Sabar ya, Marsha,” Ryan menimpali.
“Makanya, kadang aku nggak betah tinggal di rumah Om Bagio. Sheila suka jutek. Tapi mau gimana lagi. Aku harus melanjutkan sekolah. Orang tuaku udah nggak ada. Mungkin kalo udah lulus SMA aku mau kerja dulu. Ngumpulin uang buat kuliah. Biar nggak membebani orang tua Sheila.”
“Salut sama kamu. Gimana kalau Sheila tau ya, aku jalan sama kamu? Pasti dia bakal semaput,” Ryan berkata seraya menggigit kentang goreng.
“Dan dia pasti bakal sejuta kali lebih membenciku.”
Marsha dan Ryan terkekeh. Mereka terus mengobrol hingga beberapa jam ke depan, nggak mempedulikan jeritan handphone Ryan yang terus-terusan berbunyi.







6 comments:

Anonymous said...

oalah La...Sheila.....
melas.... :P

Widya Ross said...

Terlalu manja bisa menyebabkan melas. Trims sudah mampir ke blog ini :)

MEINE WELT said...

Salut, masuk ke Gadis! (y)

Widya Ross said...

Salut apanya, Mbak? Hihihi. Pertama kali nulis naskah remaja dulu, langsung dimuat di Percikan majalah Gadis. Jangan saluuuuuut hehe.

Opioci GarageSale said...

syarat kirim ke percikan gadis apa aja mbak? aku pengen kirim juga *)

Widya Ross said...

Syaratnya bisa dicek di majalah Gadis langsung ya... Thanks for dropping comment in here :)

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...