Wednesday, 4 December 2013

EKONOMI SYARIAH, ALTERNATIF SOLUSI DALAM MENGHADAPI KRISIS EKONOMI


Tentang Ekonomi Syariah
Ekonomi syariah bukanlah hal baru bagi kita. Hanya saja, mungkin sebagian dari masyarakat Indonesia, belum benar-benar memahami artinya. Biasanya jika kita mendengar “ekonomi syariah” yang terbersit adalah lembaga keuangan berbau Islam. Memang benar. Ekonomi syariah merupakan sistem ekonomi yang berlandaskan Al Qur’an dan sunah untuk mensejahterakan masyarakat, baik itu muslim maupun non-muslim. Bedanya dengan sistem ekonomi konvensional adalah, ekonomi syariah tidak mengenal sistem bunga, tapi bagi hasil.
Ekonomi syariah sendiri sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad. Namun di Indonesia, sistem ekonomi syariah mulai diperkenalkan pada tahun 1991, tepat saat Bank Muamalat didirikan. Berikutnya, lembaga-lembaga keuangan syariah pun mulai bermunculan seperti BMT (Baitul Maal Tanwil), asuransi syariah, dan masih banyak lagi.

Pangsa Pasar dan Pertumbuhan
Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia sudah berjalan dua dekade lebih sejak berdirinya Bank Muamalat. Perbankan syariah terus mengalami kemajuan, hanya saja lajunya cukup lambat. Menurut Bank Indonesia, pangsa perbankan syariah pada 2013, masih di bawah lima persen.
Namun, meskipun pangsa pasar perbankan syariah cukup kecil, pertumbuhan perbankan syariah sangat tinggi. Sekitar 37 persen, melebihi pertumbuhan bank konvensional, asuransi, dan pegadaian. Otoritas Jasa Keuangan atau OJK menyatakan pertumbuhan aset industri keuangan syariah pada tahun 2014 diperkirakan mencapai 40 persen, jauh meningkat dibandingkan pertumbuhan insdustri keuangan konvensional yang cuma berkisar antara 15-20 persen tiap tahunnya.
“Permintaannya besar sekali dan prospeknya di Indonesia bagus sekali,” tegas Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani dalam sebuah seminar November lalu.
Geliat pertumbuhun ekonomi syariah di tanah air tercermin dari pertumbuhan aktivitas di sektor perbankan syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, lembaga keuangan mikro syariah, dan pengelolaan zakat. Di sektor perbankan, tren dari sisi pembiayaan, aset, maupun dana pihak ketika, menunjukkan peningkatan.
Berdasarkan data Bank Indonesia saat ini sudah ada 11 bank umum syariah (BUS), 24 bank syariah dalam bentuk unit usaha syariah (UUS), dan 156 BPRS, serta jaringan kantor yang terus bertambah dari 1.692 kantor pada 2011, menjadi 2.574 pada 2012 atau mengalami pertumbuhan sebesar 25,31 persen (per 17 Desember 2012).
Hanya saja, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Indonesia masih belum mampu menjadi negara dengan perekonomian syariah terbesar di dunia. Hal ini cukup ironis. Mengingat selama ini ekonomi syariah identik dengan negara yang memiliki sistem pemerintahan Islam atau mayoritas berpenduduk muslim. Yang lebih mencengangkan lagi, Indonesia ketinggalan jauh dibandingkan Inggris yang notabene bukan negara berbasis penduduk muslim.
Menurut wakil Menteri Keuangan II, Bambang PS Brodjonegoro dalam sambutan pembukaan The 2th Islamic Economics and Science Research Forum, Indonesia seharusnya mampu menjadi pusat dan keuangan syariah dunia. Indonesia juga sepatutnya menjadi acuan negara lain, baik negara Islam ataupun bukan, dalam pengelolaan ekonomi syariah.

Keunggulan
Saat ini, sejumlah negara yang penduduknya kebanyakan non-muslim pun mulai mulai melirik sistem ekonomi syariah sebagai landasan perekonomiannya. Seperti Hongkong, bahkan Inggris. Di antara negara Eropa lainnya, Inggris merupakan negara yang saat ini benar-benar serius menjalankan sistem ekonomi syariah.
Ekonomi syariah memang dinilai memiliki keunggulan dibandingkan sistem ekonomi konvensional. Salah satunya adalah faktor resiliensinya di tengah krisis ekonomi global. Tak heran, sistem ekonomi syariah mulai bergaung di negara-negara lain bahkan di negara yang didominasi penduduk non-muslim sekalipun.
Maka dari itulah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap, sistem ekonomi syariah bisa menjadi alternatif solusi dalam mengatasi krisis keuangan global dan meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
“Ada tiga hal penting mengapa kita membutuhkan ekonomi syariah berkembang di Indonesia,” tandasnya pada sambutan acara Pencanangan Gerakan Ekonomi Syariah (Gres!).
Pertama, sistem ekonomi syariah mampu mengurangi kesenjangan antara sistem keuangan dengan sektor riil atau sektor usaha kecil yang ada di masyarakat, sehingga mencegah timbulnya bubble economy atau penggelembungan ekonomi.
"Dengan adanya sistem bagi hasil membuat tidak adanya jarak antara sistem keuangan dengan sektor rill. Sistem keuangan ekonomi syariah mencerminkan ekonomi rill sehingga menghindari pengelembungan ekonomi atau sering disebut bubble economy," ungkap Presiden.
Kedua, ekonomi syariah mampu mencegah dari pembiayaan yang sifatnya masih spekulatif.
"Dengan terhindarnya pembiayaan yang spekulatif dapat memperluas financial inclusion sehingga melalui pembiayaan kepada UMKM, berdasarkan landasan kebersamaan, tidak untuk kepentingan para pemilik modal," kata beliau.
Ketiga, ekonomi syariah dapat memperkuat sistem pengaman sosial.
"Hadirnya dana-dana syariah potensial seperti zakat, infaq dan sedekah dapat memperkuat sistem pengaman sosial yang sudah ada. Orang miskin, kaum duafa dapat mendapatkan manfaat ini sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional kita," Presiden menjelaskan.
Presiden juga menyatakan, sistem ekonomi global tengah menghadapi masalah serius. Belajar dari masalah tersebut, sudah sepatutnya, Indonesia mulai memperbaiki sistem, kebijakan, dan etika perekonomian.
Pernyataan Presiden bukan sekadar persuasif. Terbukti, Menteri Keutuhan Masyarakat Inggris, Baroness Warsi, juga menyatakan keseriusan pemerintahannya dalam menangkap peluang potensi ekonomi syariah dunia. Menurutnya, keterlibatan Inggris dalam sistem keuangan syariah bertujuan agar tidak kehilangan pasar global yang sedang tumbuh.
Keseriusan Inggris diaplikasikan dengan ditawarkannya produk syariah di 22 bank, dan lima diantaranya, sepenuhnya berbasis syariah. Ketua UK Islamic Finance and Investmen Group ini menyatakan, ekonomi syariah sudah mengajarkan pada perbankan  mengenai etika dan moral. Oleh sebab itu, penerapan ekonomi syariah dinilai sangat sesuai dengan misi perekonomian negaranya sekaligus memanfaatkan sumber daya ekonomi kaum Muslim Inggris.

Gerakan Ekonomi Syariah (Gres!)
Gerakan Ekonomi Syariah atau Gres! merupakan program kampanye (campaign program) yang digagas oleh 13 asosiasi ekonomi syariah. Program ini melibatkan industri keuangan syariah, bisnis islami, regulator, dan asosiasi.
Peluncuran Gres! dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2013 lalu. Dalam acara tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didapuk menjadi Bapak Pemimpin Gerakan Ekonomi Syariah. Alasannya, selama menjabat, ekonomi perbankan syariah mengalami kemajuan. Gerakan ekonomi syariah ini diresmikan oleh Presiden dan dan Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo.
Gres! bertujuan untuk membangun kesadaran (awareness) masyarakat supaya dapat menjalankan prinsip-prinsip luhur Islam (Islamic values) dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan ekonomi syariah sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.
Presiden berjanji, pemerintah akan berusaha mengoptimalkan ekonomi syariah di berbagai sektor. Yaitu sektor perdagangan, asuransi, perbankan dan sebagainya agar tercipta ekonomi yang adil dan merata. Masih menurut Presiden, pemerintah juga ingin berperan aktif dalam membangun ekonomi syariah agar dapat menciptakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang stabil dan dapat memberikan kesejahteraan bersama.

REFERENSI:
-          http://www.metrotvnews.com
-          http://gresindonesia.com/
-          http://bisnis.liputan6.com
-          http://www.metrotvnews.com
-          http://www.republika.co.id
-          http://www.mediajakarta.com
-          http://finance.detik.com
-          http://wartaekonomi.co.id
-          http://economy.okezone.com
-          http://id.wikipedia.org
-          http://www.ekonomisyariah.org

(Tulisan ini diikutkan dalam lomba Karya Tulis Ekonomi Syariah Gres! Indonesia, 2013)


No comments:

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...