Friday, 30 August 2013

MENULIS 50 DONGENG

Yuhuuuuuu...

Sudah lama diriku nggak ngubek-ngubek blog. Mohon maaf, kalo ada yg komen tapi tak berbalas yaaa. Jarang ngeblog nih.

Pagi ini ngeblog biar tetep nulis aja. Hari ini sama besok siang (cukup sampe siang haha), aku libur nulis. Kalo baca sih, tetep dooong. Waktu terus melaju, kalo aku hidup tanpa membaca, betapa aku bakal jadi manusia yang tertinggal hahaha.

Pagi ini aku mau cerita perihal naskah dongeng yang aku garap. Totalnya ada 50 cerita. Sebenernya dulu aku ngajuin 2 sample, untuk 12 cerita. Tapi mbak editornya suka dengan cara bertuturku, jadinya ditambahin jadi 50 cerita. Ngerjain ini, butuh kekuatan ekstra (cih, lebay :P). Karena naskah ini dijadwalkan terbit pas Halloween yaitu 31 Oktober. CATET! Sementara waktuku cuma seuprit dan naskahku masih kurang banyak. Sekitar 30an lah.

Waktu seuprit itu aku akali dengan: nulis di kendaraan, nulis di tempat makan, curi-curi waktu di hari-hari biasa, bangun pagi tentunya (aku gak suka begadang & gak mau begadang, mending aku brenti nulis daripada kudu begadang), ke mall pun bawa catetan, browsing artikel di tempat2 umum, dsb. Otakku serasa overload. Makanya kalo weekend, aku WAJIB bersenang-senang.

Sebenernya kalo cuma nulis cerita ngasal gampang ya. Ngawuuuurrr aja semisal: "Pak Menyebalkan itu sombong. Karena sombong, dia celaka & gak punya teman. Trus dia menyesal."  Sayangnya, aku ilfil dengan cerita macam itu. Kalau pun intinya sama, penyampaianku WAJIB berbeda.

Nah, aku menyukai cerita yang unik dan lucu. Editorku pun juga punya pemikiran sama. TAPIIII, cerita yang kubuat harus mengandung pesan moral. Di sinilah aku tersendat. Aku nggak terbiasa bikin cerita berpesan moral. Kadang aku bikin cerita just for fun aja. Aku sampe puyeeeenggg, bikin cerita unik, lucu, konyol, tapi berpesan moral. Yang namanya naskahku, full revisi bahkan banyak yang kembali.

Atas bimbingan sang editor dan usahaku membaca buanyaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk sekali buku (aku sampe donlot ebooknya Andrew Lang, Enid Blyton yg blm pernah kubaca, baca & beli aneka buku anak di Gramedia, dan masiiiih banyak lagi), akhirnya usahaku membuahkan hasil. Makin ke sini, naskahku makin sedikit revisian dan Mbak Editor makin sering bilang oke. Trims buat Mbak Dian Kristiani, Mbak Dewi Rieka, dan Bu Ary Nilandari, yang juga turut mensupportku.Juga trims banget buat editorku.

Mungkin kalo aku nggak terlalu sok perfect sih, tulisanku cepet selesai. Sayangnya, aku ini manusia sok ribet. Misalnya, mau bikin cerita yang berasal dari benua Afrika. Nama tokoh dan nama tempat, itu aku browsing dulu. Semisal tokohnya petani.Maka sang petani itu akan kunamai dengan sesuatu yng berhubungan dengan pertanian dan Afrika. Di tokohku ini, kalo gak salah aku namai dengan nama daerah pertanian di Afrika.
Contoh lagi: tokohnya nelayan. Maka aku akan mencari, nama-nama nelayan terkenal di dunia. Aku ambil nama belakangnya, aku plesetin.

Hal-hal semacam itu yang bikin lama. Sebenernya bisa aja ya, aku ngasal. Tapi nggak tau, rasanya kok kurang total gitu.

Pokoknya ruwet, ruwet, dan ruwet. Tapi seperti sejak awal aku yakin, belajar apa pun, pasti bermanfaat. Menulis naskah ini aku anggap sebagai belajar ya. Hasilnya: aku jadi bisa multitasking dalam menulis. Subuh-subuh nulis cernak unik, malamnya aku lancar (Alhamdulillah) nulis naskah remaja. Padahal dulu aku gak bisa. Hasilnya lagi: tabungan ideku makin banyak. Otakku makin cepet konek nemu ide. Hasilnya lagi: tulisanku jadi lebih baik dong daripada dulu :). Kok tau? Ya aku baca-baca sendiri lah.

Terkadang ada rasa lelah, stres berat, suntuk abis, dan galau akut. Karena aku capek, terus terang. Kalo udah mencapai tahap ini, aku berhenti, makan apapun yang aku sukai (asal nggak berlebihan), dan berdoa. Doa yang seriiiingg aku mohonkan adalah doa nabi Musa biar dimudahkan segala urusan dan "Ya Allah, jadikan aku orang yang optimis. Yakin. Bersemangat. Dan jangan hancurkan harapanku." Baru deh doa untuk kebaikan dunia akhirat.

Memang, aku minta agar harapanku nggak hancur. Memang aku minta jadi optimis. Tapi di akhir doa, aku minta hasil yang terbaik. Jadi seandainya, apa yang aku gadang-gadang, aku harapkan, aku usahakan dengan sungguh-sungguh, ternyata nggak sesuai sama keinginanku, maka aku anggap: itulah yang terbaik dari Tuhan. Dan aku nggak punya alasan untuk DOWN! Alhamdulillah, kalo abis berdoa biasanya otakku jernih lagi, jadi bersemangat lagi. HIDUP BERDOA!

Aku nggak bermaksud ceramah di sini. Cuma berbagi. Tapi emang pada dasarnya, dari kecil aku termasuk anak yang ngotot dan bersemangat kalo berusaha. Dulu sering disindir kalo udah pasrah sebelum bertindak. Bapak bilang," Minder? Takut? Nyerah?" Suka dikomentarin begitu. Suka dikomporin.

Eh, ini kok malah ngelantur ya. Kan awalnya bahas nulis naskah dongeng :P. Ok, kembali ke topik. Sekarang naskah yang terkumpul baru 20an, kurang 30an. Fiuhhh! Semoga aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Di naskah ini, aku membuat cerita-cerita yang unik, nggak umum, lucu, dan ilustrasinya bagus. Di naskah ini, aku merasa nggak bekerja sendirian, karena Mbak editornya terus memantau tulisanku, memberi saran, mengoreksi, dll. Editor itu ya... Duh, nggak bisa diungkapin dengan kata-kata deh. Saluuuutt pokoknya sama para editor. Apa jadinya penulis tanpa editor?

Sekian dulu ya ceritanya. Diriku mau olahraga dulu, mau sarapan dulu, mau pergi dulu, dan mau leha-leha. Hahaha. Selamat berweekend ria, dan tetep semangaaaaat :D













No comments:

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...