Friday, 2 November 2012

CATATAN WEEKEND *masih dalam kondisi malas

Hai, Sabtu. Bangunku telat hari ini. Dan... Aku belom latihan kardio nih. Malesnyaaaaaa.. Semalam nonton pelem di Global TV. Sebenernya gak begitu tertarik sih, karena film jadul. Tapi pas liat pemainnya Natalie Portman, ya sudahlah kutonton meskipun gak sampe habis karena keburu ngantuk.

Hari ini, aku pinginnya Me Time. Facial, nongkrong di Nikki Kopitiam sambil nulis (tau gak, imajinasiku ngalir deras kalo di situ. tapi kalo weekend gini rame biasanya), pulangnya rada sorean, malemnya baru deh cus makan-makan ama temen. Kalo gak ujan.Habis itu Skype-an. Ya beginilah kalo "berteman" jarak jauh. Oya, rasanya aku kepingin mbungkuk-mbungkuk ngucapin terima kasih pada penemu Skype :P.

Oke. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah kata "dukungan".

Teringat pada kejadian minggu lalu. Pas keluargaku datang ke Malang, karena ada sodara sepupu nikah. Nah, waktu itu aku dijemput di depan kos, kami bareng-bareng ke rumah sodaraku itu. Aku sekalian bawa buku. Satu novel anak karyaku, satu lagi buku antologi yang ada naskahku di situ. Tujuanku, jujur nih, narsis haha. Trus, biar ponakanku baca yang novel anak, dan titip taruh di kamarku di kampung sana, karena di kos bukuku udah mulai membludak (lagi).

Terus terang, aku menginginkan komentar waktu itu. Dari orang tuaku, dari kakakku. Entah itu sekadar, "Lho? Kamu yang nulis?" Atau "Coba liat?" Pokoknya komentar apa pun. Aku kepingin tau, bagaimana reaksi mereka saat aku mampu menulis. Dan aku sukses kecewa karena nggak ada komentar. Jangankan komentar, megang buku itu pun nggak. Nggak bisa aku pungkiri, jantungku kayak anjlok sampe ke lutut. Yah. Aku kecewa.

Kekecewaan ini membekas sampe berhari-hari. Kok aku nggak didukung sih? Kok mereka cuek banget? Aku cuma butuh dukungan dan doa. Udah deh, makin lama makin galau. Trus aku crita sama "temanku" itu. Dia heran tentu saja. Dan seperti biasa, dia kembali membesarkan hatiku. Rasanya ada yang menekan tombol kesadaranku saat itu.

Kenapa juga aku mesti sok mellow dramatis ngarep dukungan? Mungkin orang tuaku nggak tau menahu tentang dunia menulis. Jadi mereka cuek. Selain mereka, banyak banget kok yang mendukung. Teman-temanku. Bukan cuma satu dua, tapi banyak.

Udah deh, mellow ku hilang. Sebenernya kalo dipikirin sih tetep mellow ya. Tapi aku memilih realistis. Trus kalo mereka nggak mendukung kenapa? Aku bakal brenti nulis, gitu? Aku bakal guling-guling nangis? Dunia langsung kiamat? Aku nuntut mereka sambil nangis-nangis sok dramatis? Of course, not! Aku nggak mau tiap kali bangun tidur ada sebersit kekecewaan bercokol di hatiku. Aku kepingin pas bangun tidur, aku bersyukur total dan siap beraktivitas tanpa beban.

Dan sekarang, karena udah mau jam tujuh, aku mau kardio dulu. Happy weekend ^_*


No comments:

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...