Wednesday, 31 October 2012

TENTANG NONI

Kemarin-kemarin habis ditelpon Ibu. Seperti biasa, ada cerita baru di kampung. Anak tunggal dari tetanggaku yang usianya masih belasan, lagi disekap di Dolly Surabaya, mau dijadikan PSK. Sontak tetanggaku gempar. Kasak-kusuk menggema di mana-mana. Kayaknya semua orang menyalahkan Noni (sebut saja begitu), karena dia dicap "perempuan nakal". Suaminya ditinggal selingkuh dan sekarang statusnya adalah janda. Pokoknya, segala kesalahan ditimpakan pada Noni.

Jujur, aku kasihan sama Noni. Bukannya sok bijak berbelas kasih pada orang yang berbuat salah. Tapi aku melihat riwayat kehidupan dia. Aku ingat betul, anak ini nikah begitu lulus SD. Bayangkan! Dia menikah di usia sekitar 11-12 tahun. Tentu saja dia belum sempat mengenyam indahnya masa remaja. Dia terkurung di rumahnya, ngurusi segala tetek-bengek masalah rumah tangga, sementara suaminya, setauku, belum kerja waktu itu. Kalo mendadak dia selingkuh akhir-akhir ini, yah... Mungkin dia lagi mengidap masa puber. Bukannya aku membenarkan. Tetep salah. Tapi aku berusaha melihat dari sisi yang lain.

Perihal dia terjebak ke wilayah prostitusi juga bukan disengaja. Ada orang nawarin kerjaan. Katanya sih kerja di rumah makan gede. Ikutlah si Noni. Ndilalah kok disekap di kamar, makan minum cuma dikasih lewat lubang kecil di pintu. Beruntung hapenya nggak disita. Jadi Noni bisa nelpon ibunya di kampung. Dia nelpon sambil terisak-isak. Liat kan? Dia, TERISAK-ISAK. Artinya apa? Artinya dia juga NGGAK MAU.

Yuk Marni, ibu Noni, langsung minta tolong sama sodaranya yang jadi tentara. Noni pun berhasil ditebus dan kembali ke kampung halaman. Tapi tetap saja para tetangga hobi mencibir. Bukan cuma tetangga yang nggak sekolah. Tetanggaku yang udah lulusan universitas juga ikut-ikutan nge-judge. Ckckckck. Apa bedanya orang berpendidikan sama yang nggak sekolah, kalo melihat masalah dari satu sisi saja?

Wow! Rasanya pengen teriak, LIHATLAH MASALAHNYA SECARA KOMPLEKS! Kalo cuma main nyeplos: Dia salah, dia brengsek, dia nakal, dll, aku pikir anak kecil juga bisa ya. Tapi solusi itu yang penting. Nggak bisa ngasih solusi, mendoakan aja udah baik. Nggak ikut-ikutan ngrasani juga lebih baik. Daripada komentar sampe mulutnya berbusa-busa tapi nggak ada manfaatnya. Yang ada malah nambah-nambahin omongan.

Siapa sih yang mau nikah di usia muda? Siapa sih, yang rela putus sekolah? Zaman sekarang, aku rasa semua anak kepingin sekolah setinggi-tingginya. Semua kepingin jadi orang pintar. Tapi kalau nasib sudah berkata lain dan sudah terlanjur? Mau nyalah-nyalahin orang hanya karena fakta sekilas? Konyol banget!

No comments:

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...