Monday, 22 October 2012

Gerombolan Pelahap Maut



Aku punya koleksi orang-orang yang hobi membuatku geregetan. Sebentar, aku hitung dulu. Si K, Si R, Si F, Si A, Si N, dan Si Y. Enam orang. Dulu, mereka baik banget sama aku. Tapi seiring waktu, kok omongan mereka di belakangku mulai ngawur. Trus, beberapa kali aku beritikad baik, berusaha bersilaturahim ke tempat mereka masing-masing, sambutannya sedingin cuaca di malam hari kalo lagi kemarau. Eng ing eng...

Nyoba aku instropeksi diri. Salahku di mana? Apa? Dan aku belum menemukan di mana letak minusku terhadap mereka, karena aku juga jarang berkomunikasi dengan gerombolan pelahap maut itu. Ya sudah. Biarlah mereka bersikap menyebalkan, tapi aku berusaha ramah. Meskipun hatiku cekot-cekot.

Beberapa tahun berlalu, nggak ada perubahan. Yang ada malah aku diomongin macam-macam, via SMS. Saat itu aku sekadar menyapa si R. Yah, nyoba ngakrabin diri lah. Aku diceramahin. Dibilangnya, aku cuek lah, nggak peduli lah, sok sibuk lah, dan macem-macem. Baca SMS itu membuat mataku panas.

Hey! Yang nggak peduli siapa coba? Apa kalo aku sakit dia datang? Nope. Apa dia pernah mampir ke tempatku? Never. Apa dia menemuiku baik-baik kalo aku bertandang ke rumahnya? Nggak. Yang ada kalo aku dateng adalah: omongannya bikin aku pengen segera mangkir jauh-jauh.

Nah, suatu ketika, sebuah kejadian membuat semua gerombolan pelahap maut itu berkumpul melibatkanku. Di depan orang-orang terdekatku, sikap mereka semanis Panna Cotta. Aku muak luar biasa. Jadi pas kumpul-kumpul, aku berubah jadi superpendiam. Aku nggak bicara kalo nggak ditanya. Aku nggak memandang kalo nggak disapa. Aku nggak komentar atau tertawa, sekonyol apapun cerita mereka.

Temans, aku bukan tipe orang yang hobi memendam amarah. Semua orang tau aku nih nggak tegaan. Tapi untuk kasus gerombolan pelahap maut itu, kayaknya sifat "nggak tegaan" itu nggak berlaku deh. Jadi, daripada aku berkomunikasi bermanis-manis ria padahal sebenarnya hati mereka busuk, mending aku anteng.

Bukan minder atau takut. Aku berusaha menahan gemas dengan cara diam. Aku anggap mereka bukan siapa-siapa, nggak kenal, orang lain yang jauuuuuuuuhhhh, jadi kurasa, diam lebih baik.

Diam membuatku serasa punya kekuatan lebih. Dengan diam, aku bisa cuek sejadi-jadinya. Nggak peduli mau diomongin apa, nggak peduli mau dijudge bagaimana, nggak peduli, nggak peduli 1000X. Diam membuatku nyaman.

Salah satu dari mereka mencoba memancing reaksiku dengan pujian basa-basi, aku cuma mesem. I know who they are. Aku belum lupa dengan komentar-komentar buruk mereka tentang aku. Aku masih ingat semuanya. Emang mereka komentar apa sih? Aku nggak bisa nulis di sini. Pokoknya parah aja. Buktinya temen-temen yang aku ceritain pada melongo nggak percaya.

Suatu saat ketika aku kembali ditakdirkan bertemu dengan gerombolan pelahap maut itu lagi, aku akan diam. Bukan diam layaknya perempuan kalem yang emang pendiam. Bukan gitu. Tapi diam tegas. Diam menjaga jarak. Diam nggak peduli. Bukankah dulu aku dibilang begitu? Dan sebisa mungkin, khusus untuk pertemuan dengan mereka, aku selalu sibuk. Nggak ada waktu bersantai dengan orang-orang yang nggak mau mendukungku. Sama aja dengan menyerahkan diri ke kandang singa. Oh, tidak. Dan kalau pun harus, aku akan muncul dengan sikap sedingin ratu salju. Seperti yang akhir-akhir ini kulakukan.

Pernah suatu ketika, si Y ketemu aku. Dia lagi sendiri. Aku tersenyum dan menyapa sekadarnya. Tetap dengan sikap berjarak. Dan si Y gugup kayak orang ketemu hantu. Hahahaha. Aku hantunya :P. Dulu aku emang sok ramah ya... Sekarang biasa aja. Nehi lah, ramah-ramah sama orang-orang begitu.

Di IDailyDiary, aku mencatat karakter mereka. Sedetail mungkin. Siapa tau kelak, tokoh-tokoh nyata itu bakal menjelma jadi cerita. Siapa tau orang-orang yang berkarakter begitu bakal tersentil. Karena aku yakin, orang-orang tukang komentar, yang suka nyindir, yang sombong luar biasa, yang suka nambah-nambahin omongan, bukan cuma enam orang itu di dunia. Superbanyak.

Oya, satu lagi. Satu hal yang membuat aku berani menegakkan dagu di hadapan orang-orang menyebalkan itu adalah: mereka sekumpulan orang-orang rapuh. Mudah ngeluh, mudah bete, mudah emosi, mudah sakit, mudah ngumbar masalah di social media sehingga semua orang bersimpati, mudah down juga. Sifat-sifat yang berkebalikan denganku. Itulah yang membuatku merasa menang dan berani buat nggak peduli terhadap mereka.

No comments:

Post a Comment

REVIEW LIPSTIK: POPPY DHARSONO LIQUEFIED MATTE LIP COLOR

Zaman sekarang yang namanya lipstik banyak sekali macamnya. Cuma saat ini yang lagi ngehits adalah lipstik matte yang kesat dan tahan berja...