Tuesday, 16 October 2012

CERPEN RONI, Dimuat di Percikan Majalah Gadis

CERPEN RONI

“Wuiiiiih! Roni emang kereeeen! Bisa ya, dia nulis cerpen sebagus ini? Aku yakin banget kelak dia bisa jadi sekelas Andrea Hirata,” Yessy geleng-geleng takjub di depan papan mading. Tiap minggu, mading sekolah selalu menempelkan cerpen-cerpen Roni.
“Biasa aja tuh. Kamu naksir dia sih, makanya semua keliatan bagus,” kata Dewi to the point.
“Emang dia serba bagus kok. Cakep, pinter nulis, ramah lagi. Kurang apa coba?”
Dewi mengangkat alis. “Kamu-nya yang kurang baca. Coba deh, sering baca majalah atau novel. Bandingin ama karya-karya Roni. Baca novelnya Andrea Hirata aja kamu belum pernah,” cetus Dewi.
Yessy sepertinya sudah kena hipnotis kertas berisi cerpen berjudul “Galau” yang ditulis Roni. Dia tersenyum-senyum nggak jelas.
“Bagiku, karya Roni tetap juara,” gumam Yessy. Jarinya terulur meraba permukaan kertas berwarna hijau muda lembut yang tertempel di papan mading.
“Hadeeehhhh!” Dewi menghembuskan napas panjang.
oOo
Siang  itu Yessy nongkrong di sisi lapangan basket sambil minum softdrink. Ada Roni lagi nonton latihan basket. Yessy bela-belain berpanas-panas ria demi memerhatikan pujaan hatinya. Roni duduk di bangku panjang, di pangkuannya ada kertas, tangannya memegang pulpen. Duh, bahkan dalam situasi begitu, dia masih saja sempat menulis. Memang calon penulis hebat, Yessy membatin. Pas lagi khusyuk-khusyuknya mengamati Roni, suara Dewi melengking memanggilnya.
“Yes! Yessy!”
Yessy reflek menoleh. Dewi tergopoh-gopoh mendekat, tangannya mencengkeram sebuah buku.
“Apaan?”
Dewi langsung mengenyakkan badan di samping Yessy. Yessy bergeser. Dewi menyodorkan buku yang dipegangnya.
“Nih. Baca.”
“Haduh. Males aku baca ginian,” kata Yessy, menatap tulisan-tulisan kecil di buku Dewi dengan enggan.
“Baca coba. Ini kumpulan cerpen remaja. Karangan penulis teenlit terkenal,” Dewi memaksa.
Yessy mendesah jengah. Dia menggeleng. Mau tulisan pengarang teenlit terkenal kek, dia nggak berminat kalau bukan tulisan Roni. Kalau majalah sih, masih bisa rada menarik ada gambarnya. Tapi kalau buku full huruf begitu, melihatnya saja Yessy sudah serasa mengantuk
“Katanya suka dengan karya Roni. Ayo dong, baca,” Dewi bersikukuh.
Pandangan Yessy terpancang pada Dewi. Apa hubungannya dengan Roni? Katanya buku itu karya penulis teenlit terkenal. Berarti bukan tulisan Roni kan? Ngapain dia kudu susah-payah baca?
“Malas ah. Coba bacain deh.”
Wajah Dewi langsung berubah ketus. “Enak aja! Baca sendiri dong! Ini penting banget buat kamu. Lebih penting daripada sekadar merhatiin Roni. Pokoknya BACA!” gertak Dewi. Dia menyambar tangan Yessy, memaksanya menggenggam buku bersampul biru yang dibawanya.
“Haduuuuuhhhhh!” keluh Yessy.
Mau nggak mau akhirnya dia mengalihkan perhatian pada buku Dewi dan membaca cerpen berjudul “SUNTUK” di hadapannya. Ceritanya bagus. Tapi… Tunggu dulu! Dia seperti mengenal tulisan tersebut. Baca di mana ya? Beberapa saat kemudian, dahi Yessy mengernyit. Dia meneruskan membaca sementara benaknya terus berpikir, di mana dia pernah menemui tulisan seperti itu. Tiba-tiba Yessy mendongak, dan menoleh cepat pada Dewi. Mulutnya terbuka, matanya membelalak.
“Ceritanya sama dengan cerpen ‘Galau’ Roni ya? Cuma tokoh-tokohnya aja yang beda,” Yessy menggumam sambil terus membaca
“Ini tulisan Roni bukan?” Yessy kembali menatap Dewi.
“Bukanlah. Karya Mbak Ferrisca Mahendra. Penulis teenlit terkenal,” sahut Dewi enteng.
“Loh? Berarti?” Yessy mengerjap-ngerjap.
“Nah. Berarti apa?” Dewi menatap Yessy lekat-lekat.
Yessy mendongak. “Dia.. Dia.. Men-jiplak?” tanya Yessy sambil gigit bibir.
Dewi mengangguk mantap. Yessy melotot tak percaya. Sekali lagi, dia membaca cepat-cepat. Bahkan demi memastikan, Yessy sempat membaca tahun terbit kumpulan cerpen tersebut. Tahun 2010. Sudah dua tahun yang lalu.
Di kejauhan, Roni bertepuk tangan atas shoot three point Adi, sahabatnya. Yessy memandanginya. Dia cakep, ramah, tapi.. Plagiat. Nyontek. Yessy meneguk ludah kecewa. Entah kenapa, sosok Roni mendadak tak begitu spesial lagi bagi Yessy.
“Nggak nyangka Roni bakal berbuat begitu. Apa nggak takut ketahuan ya?” gumam Yessy.
Dewi tersenyum. “Yuk, kita ke kelas aja. Hal itu, biar jadi urusan Roni,” ujar Dewi.
Yessy dan Dewi bangkit, keduanya berjalan menuju kelas tanpa bicara lagi.

13 comments:

mega ayumey said...

salam kenal ya kaak :) aku mega
mau nanya nih , syarat ngirim cerpen ke majalah gadis gimana sih ? trus alamat emailnya apa ?
terimakasih :)

Hanum Azkawaty said...

bagus dhe cerpennnya :)

Widya Ross said...

Hai, Mega :)

Salam kenal juga. Maaf, baru bales. Alamat email bisa diliat langsung di majalah gadis. Ada kok. Lengkap beserta persyaratannya :)

Met nulis :D

Widya Ross said...

Terima kasih Hanum :D. Salam kenal ya :)

Kartini K. said...

Percikan hampir sama Flash fiction ya kak?

Widya Ross said...

Aku pernah ikutan flash fiction pas awal2 nulis dulu. Kayaknya mirip tapi lebih panjang Percikan. Untuk lbh jelasnya, lebih baik (jauh lebih baik :D), baca majalah Gadis, baca Percikan :)

Kutubul Hayat said...

Salam kenal widya... ada nomor atau email yg bisa dihubungi?

Widya Ross said...

Salam kenal juga.. Nomor dan email untuk apa, kalau boleh tau?

Violet Fauenda said...

Salam Kenal Widya. Aku Violet.
Waktu tulisan kamu dimuat dimajalah gadis, kamu tahunya dari mana ya? Ada Email atau surat yang dikirim dari majalahnya nggak? atau ditelpon?

Widya Ross said...
This comment has been removed by the author.
Widya Ross said...

Hai, Violet, salam kenal juga. Trm ksh sudah berkunjung :)

Tahunya karena dikirimi bukti terbit. Kadang teman-teman di socmed kasih tau.

Naqiyyah Syam said...

Aduuh endingnya makjleb banget mbk :) sukaaa

Widya Ross said...

Naqiyyah: Makasih udah baca ya, Mbak Naqi :D

Post a Comment

REVIEW LIPSTIK: POPPY DHARSONO LIQUEFIED MATTE LIP COLOR

Zaman sekarang yang namanya lipstik banyak sekali macamnya. Cuma saat ini yang lagi ngehits adalah lipstik matte yang kesat dan tahan berja...