Tuesday, 25 September 2012

KASUS MARRIED BY ACCIDENT

Sudah entah ke berapa kalinya aku dicurhati teman, mulai yang akrab sampai yang nggak terlalu akrab, kalau mereka telat menstruasi. Di sekitarku, kasus Married By Accident bukan perkara baru lagi. Bikin khawatir memang. Bikin prihatin juga.

Kebanyakan dari mereka, memiliki latar belakang keluarga yang bermasalah. Ada yang, ibunya meninggal trus bapaknya nikah lagi, dan nggak pernah jenguk anaknya selama bertahun-tahun. Ada pula yang sejak kecil tinggal bareng nenek, orangtuanya nggak tau kemana. Ada lagi, orangtuanya lengkap, tapi sejak remaja berjauhan. Si anak bersekolah di Jawa, ortunya tinggal di Sulawesi.

Aku nggak tau kok mereka milih aku jadi tempat pengakuan. Pada kasus pertama, aku seperti kesetrum mendengar curhatan temenku. "Apaaaa??? Hamiiiiiilll??"Yang kebayang adalah, seandainya saat ini posisiku adalah ortunya. Kali bisa langsung jantungan.

Biasanya mereka curhat sambil nangis. Kalau udah begitu, aku bisanya cuma diam, mendengarkan, bertanya langkah selanjutnya gimana, apakah si cowok mau tanggung jawab apa nggak, gimana cara menyampaikan hal ini sama keluarganya. Aku menghindari kalimat-kalimat menggurui. Mereka udah terbebani, dan aku yakin sekali, mereka pasti menyesal. Kalo nggak, buat apa nangis-nangis segala.

Selanjutnya, aku tetep tutup mulut, no comment, karena itu bukan urusanku, tetap positive thinking sebab yang namanya manusia pasti ada khilaf, dan mensupport mereka diam-diam agar kuat. Pasti nggak mudah lah ngadepin masalah begitu. Bermasalah dengan keluarga aja itu udah bikin pusing. Apalagi ketambahan kasus seperti ini.

Salah satu temenku yang tau (karena kehamilannya membesar ya), langsung heboh. Crita sana-sini. Aku cuma bisa mesem sinis. Dia emang nggak melakukan seperti apa yang telah dilakukan temanku yang hamil ini. Tapi apa bedanya coba, kalo dia koar-koar tebar gosip? Melakukan hubungan seksual sebelum menikah memang salah, tapi bergosip menyebarkan aib juga salah.

Kadang suka sebel liat orang-orang penyebar gosip begini nih. Lagaknya kadang sok suci aja. Tapi ternyata keranjingan gosip. Aku suka menghindar, atau mendadak jadi pendiam kalo udah berada dalam lingkaran orang-orang macam begini. Bukan mustahil suatu ketika aku bakal jadi bahan omongan.

Beberapa bulan lalu juga. Mendadak temanku (padahal nggak akrab nih), bilang kalo hamil.

"Aku hamil."
 Aku berusaha keras mempertahankan ekspresiku agar tetep keliatan cool.
 " Keluargamu tau?"
Dia manggut-manggut. Dia inilah yang sejak kecil tinggal bersama kakek neneknya.
"Ya udah. Hadapi aja. Udah ke dokter?"
"Udah. Kata dokter udah 5 bulan. Anak-anak tau nggak ya, aku hamil?"
"Cuek aja. Dihadapi aja. Yang paling penting sekarang, kamu harus menjaga bayimu biar tetep sehat."
Dia tersenyum tipis. Selanjutnya, aku mulai meracau, mencoba menghibur dirinya.
"Eh, kamu tambah cantik ya kalo hamil. Kamu ngidam apa? Aku punya buah, mau? Kamu pasti hobi makan ya? Makan yang banyak biar sehat bayinya. Asyik deh, punya ponakan. Udah beli baju-baju bayi? Bla bla bla..."
Kebanyakan temenku yang awalnya canggung, wajahnya langsung berubah cerah. Mereka akan bercerita lebih banyak lagi.

Dan kalo ada temen maniak gosip tanya-tanya sama aku, jawabanku: nggak tau. Namanya juga manusia. Mana ada yang bebas dosa. Jadi aku berusaha menahan diri untuk nggak banyak komentar. Aku cuma bisa berdoa agar mereka kuat, agar kejadian tersebut benar-benar menjadi pelajaran.

Dari kasus ini aku belajar, sebesar apapun kesalahan yang dilakukan seseorang, pasti ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Mungkin kurang kasih sayang, kurang perhatian, suntuk, atau entah apa lagi. Tiap orang kan punya latar belakang beda-beda. Bersyukur juga nih, aku jadi tempat curhat. Jadi tau seluk beluk masalah orang lain. Bisa buat pelajaran juga.




No comments:

Post a Comment

REVIEW LIPSTIK: POPPY DHARSONO LIQUEFIED MATTE LIP COLOR

Zaman sekarang yang namanya lipstik banyak sekali macamnya. Cuma saat ini yang lagi ngehits adalah lipstik matte yang kesat dan tahan berja...