Sunday, 5 August 2012

Naskah ini dimuat di Rubrik Kata Hati Majalah Sekar bulan Juni 2012


KEBETULAN

Saya sudah sering mendengar berkali-kali bahwa tidak ada kejadian yang kebetulan. Semua sudah di-design yang Maha Kuasa, semua sudah ditakdirkan. Tapi kadang kalau pikiran lagi sesak dan suntuk tak karuan, kalimat bijak seperti di atas sering saya lupakan.
Suatu hari saya iseng ikut kuis berhadiah buku di Twitter dan “kebetulan” menang. Sebagai penggemar buku fantasi dan thriller, terus terang saya agak kecewa karena hadiahnya bukan buku yang saya harapkan. Buku tersebut bercerita mengenai kisah pemuda yatim piatu di Korea pada abad ke-12.
Setelah buku itu sampai ke tangan saya, saya tidak mau bersusah payah segera menyampuli. Padahal biasanya kalau dapat buku baru, saya langsung konsentrasi pasang sampul. Berminggu-minggu, saya belum tertarik membaca buku bercover sungai dan anak kecil tengah memungut pecahan keramik itu.
Di suatu pagi, saya bangun dengan perasaan kacau. Saya agak depressed karena ada masalah yang saya sendiri tidak tahu jalan keluarnya.  Waktu itu masih subuh, jadi saya segera solat dan berdoa. Saat berdoa, saya tumpahkan segala beban saya. Istilahnya “curhat” pada Tuhan. Lepas berdoa, pikiran saya mulai sedikit rileks.
Saya terdiam beberapa saat. Tiba-tiba tatapan saya tertumbuk pada buku A Single Shard, buku hadiah yang saya menangkan di Twitter. Tangan saya terulur mengambil, lalu mulai membaca. Halaman demi halaman saya lalap dengan takjub. Dan saya benar-benar terpaku di halaman 45. Ada kalimat: “…, sungguh sia-sia jika kita menghabiskan waktu untuk bersedih karena sesuatu yang tidak dapat kita ubah.” Seketika itu pula, saya merasa plong. Saya pun mulai bersemangat.
Setelah menutup buku tersebut, saya mulai yakin. Bahwa buku itu, sampai ke tangan saya, bukan karena kebetulan. Saya menang kuis juga bukan kebetulan. Buku itu bukan buku fantasi atau thriller, juga bukan kebetulan. Buku tersebut sudah ditakdirkan Tuhan untuk saya, karena Dia tahu suatu ketika saya membutuhkannya.
Tiba-tiba saya merasa ada untungnya punya masalah. Karena kalau tidak, saya mungkin masih menganggap adakalanya sebuah takdir itu sebuah kebetulan.

No comments:

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...