Wednesday, 1 August 2012

Cerpen ini dimuat Majalah Bravo! Tahun 2011.


SELAI BUATAN STELLA

Bu Thompson adalah seorang janda pembuat selai yang sangat terkenal di Kerajaan Greenland. Ia mempunyai seorang putri cilik bernama Stella. Berbeda dengan Bu Thompson yang hobi memasak, Stella justru tidak menyukai kegiatan masak-memasak. Bagi Stella memasak adalah hal yang rumit dan ia sama sekali  tidak berminat.
Suatu hari Bu Thompson akan pergi ke kota untuk menjenguk adiknya yang baru melahirkan. Ia menyuruh Stella untuk menjaga toko selai miliknya.
“Kalau ada yang pesan selai selain yang ada di sini, tolong suruh dia untuk datang kembali nanti sore ketika Ibu sudah pulang,” jelas Bu Thompson pada Stella. Stella  mengangguk. Akhirnya Bu Thompson berangkat.
Tak lama setelah Bu Thompson pergi, para pembeli sudah ramai berbelanja di toko selai. Tepat menjelang tengah hari selai yang tersisa hanya satu yakni selai nanas. Stella terus menunggu pembeli yang akan membeli selai nanas tersebut.
Tiba-tiba datanglah gerombolan orang berkuda. Salah satu orang yang berkuda turun mendekati Stella.
“Selamat siang, Tuan,” sapa Stella ramah.
“Selamat siang juga, gadis kecil. Bisakah aku membeli sekeranjang selai?” tanya si pemuda berkuda.
“Oh sayang sekali.. Selai yang tersisa tinggal satu toples, Tuan. Ibu sedang pergi. Kalau mau, Anda bisa datang lagi kemari nanti sore. Beliau pasti sudah datang,” papar Stella lembut.
“Kalau begitu, kau harus membuatkannya, Nak.. Karena raja ingin makan selai siang ini juga,” tegas si pemuda berkuda.
Stella melongo tak percaya. “Ehm.. maaf Tuan, saya tidak bisa membuat selai. Biasanya Ibu yang membuat,” ujar Stella.
“Kalau kau menunda sampai nanti sore, berarti kau telah mengecewakan sang raja. Ayo cepat. Buatkan sekarang” perintah pemuda berkuda itu.
Mau tak mau Stella akhirnya mengangguk. Kemudian Stella berpamitan untuk membuat selai di dapur. Setiba di dapur Stella kebingungan. Ia sama sekali tak tahu menahu tentang resep dan tata cara pembuatan selai. Stella melongok ke dalam karung-karung yang berjajar di belakang tungku. Ada sekarung apel, sekarung strawberry, sekarung nanas, sekarung sirsak dan sekarung kelapa.
Stella nekat. Ia mengambil lima belas buah apel, lima buah strawberry, dan lima buah sirsak. Sengaja Stella mengambil ketiga buah tersebut karena mudah dikupas. Setelah semua bahan diambil dagingnya, Stella meletakkannya di dalam alat penghalus terbuat dari kaca yang didalamnya terdapat beberapa pisau kecil. Kemudian bahan-bahan yang sudah halus dimasukkan ke dalam wadah alumunium yang terdapat di atas tungku. Stella mencampur bahan-bahan halus tersebut dengan beberapa cangkir gula, bubuk kayu manis, dan ekstrak vanilla cair yang terdapat di sebuah botol kecil. Kemudian Stella mulai mengaduk.
Setelah bahan-bahan yang dipanaskan tersebut sudah terlihat sedikit kering dan tak berair lagi, Stella mematikan api sambil terus mengaduk selai yang masih panas supaya cepat dingin. Selanjutnya, ia memasukkan selai yang sudah dingin ke dalam toples-toples kecil. Lalu Stella mengambil keranjang hias dan meletakkan beberapa toples selai ke dalam keranjang tersebut dan membawanya keluar.
“Nah, Tuan, selai telah saya buat. Saya tidak tahu apakah selai buatan saya ini cocok untuk baginda raja. Bila memang nanti baginda raja kecewa dengan rasanya, saya mohon maaf,” ujar Stella.
“Baiklah, Nak.. Kami bawa dulu selai buatanmu ini,” kata si pemuda utusan raja .
Keesokan harinya, Bu Thompson dikejutkan dengaan kedatangan seorang utusan raja yang mencari Stella.
“Kemarin anak ibu membuatkan selai untuk raja. Sekarang, tolong panggil dia,” perintah utusan raja pada Bu Thompson.
“Ya Tuhan Stella! Pasti rasa selai itu kacau.Oh tidak!Stella!! Stella!!” teriak Bu Thompson panik. Stella datang.
“Stella, kau dicari utusan raja, Nak. Kau pasti telah membuat selai yang aneh,” ujar Bu Thompson khawatir. Stella sedikit takut.
“Ada apa, tuan?” tanya Stella pada utusan raja.
“Kau telah mengecewakan raja, Nak,”
“Benarkah? Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud mempermainkan Baginda Raja,” tutur Stella terisak.
“Raja kecewa karena kau hanya membuat selai beberapa toples. Raja kurang puas. Bisakah kami membeli selaimu lagi?”
“Oh!!!” Stella memekik tertahan lalu menghambur memeluk Bu Thompson.
“Kau hebat, Stella. Kau memang anak berbakat,” bisik Bu Thompson bangga.
Stella melepaskan pelukannya. “Baiklah saya akan membuat selai yang banyak untuk raja,” ujar Stella.
Sejak saat itulah selai buatan Stella  menjadi terkenal seperti selai buatan ibunya.







No comments:

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...