Monday, 23 July 2012

Ini cerpen mini pertama kali dimuat Gadis, sekitar Maret 2010. Pas masih awal-awal nulis buat media remaja dulu.


ANTARA CINTA DAN MATEMATIKA

Vero mengamati Levia dengan cermat. Mulai dari pucuk rambut sampai ujung kaki. “Emang cinta tuh buta, ya. Kamu yang cupu gini bisa juga narik perhatian Dion. Kadang hidup emang nggak adil,” komentar Vero sambil geleng-geleng. Levia hanya senyum-senyum.
 “Betewe, udah siap ulangan Matematika, blom?” lanjut Vero.
Levia langsung pasang wajah serius. Ia membenarkan letak kacamatanya. “Tentu! Tadi malam aku sampe batalin kencan ama Dion, gara-gara pengen belajar Matematika,” sahut Levia.
“Wah, gila! Kalo aku sih mending kencan. Matematika kan bisa nyontek.”
“Ih nyontek.. Math is my life. Aku nggak akan pernah main-main dengan Matematika.”
“Iya. Kamu emang pelit kalo dimintain contekan. Kira-kira kalau Dion, bakal kamu kasih nggak?”
“Karena Matematika itu ilmu pasti, aku nggak akan berandai-andai. Mending ngebayangin yang pasti-pasti aja,” jawab Levia sungguh-sungguh.
Vero angkat tangan. Sahabatnya yang satu itu memang seorang Math Mania. Jadi harus hati-hati kalau ngomong Matematika sama dia. Tiba-tiba Dion datang. Dan keseriusan di wajah Levia mendadak cair seketika. Vero sampai terperangah dibuatnya.
“Hai, sayang. Cantik banget hari ini,” puji Dion.
Tentu saja tingkah Levia makin kikuk seperti boneka kayu. Sementara Vero yang masih terperangkap dalam keheranan kembali mengamati Levia. Cantik apanya? Penampilannya kuno begini. Protes Vero dalam hati.
“Trims. Udah belajar Matematika belum?” tanya Levia masih dengan sikap tersipu.
Anehnya, kali ini Dion yang justru gelagapan. “Ow! Yah, pastinya,” jawab Dion.
Hape Dion bordering. “Mamaku. Bentar ya,” bisik Dion pada Levia.
“Iya, Ma. Nggak akan lagi. Dijamin memuaskan deh. Nggak bakal ngecewain Mama lagi. Dion dah usaha. Liat aja ntar nilainya. Pasti bagus.”
“Oke, Ma. Bye.
“Mamamu kenapa?” tanya Levia.
“Oh.. Nggak kok,” Lagi-lagi Dion salting alias salah tingkah.
Teet! Teet! Bel Bel masuk berbunyi. Dion, Levia, dan Vero masuk kelas. Beberapa detik kemudian Bu Wati datang. Bunyi sepatunya berkeletak keletuk membuat suasana jadi tegang. Setelah memberi salam, ia membagikan soal-soal ulangan berikut kertas jawabannya.
Ulangan Matematika  kali ini berisi 10 soal. Essay semua. Semua siswa kelas 10B tampak pening. Kecuali Levia. Ia mengerjakannya dengan lancar.
Melihat sang pacar anteng, Dion yang dari awal hanya memanfaatkan Levia mulai beraksi. “Sst!! Sayang! No dua,” bisik Dion yang duduk di pojok kanan depan.
Levia mengernyitkan dahi. Wah, ganteng-ganteng kok nyontekan sih, pikir Levia risih. Ia tak mempedulikan Dion. Levia langsung lanjut ke soal nomor delapan.
“Levia! Please. Demi mamaku. Please,” Dion kembali beraksi.
Demi mamanya? Pantes aja nyokap dia tadi telpon sebelum masuk. Tunggu! Tadi dia janji nggak ngecewain nyokapnya? Dengan cara nyontek ke aku? Berarti dia pacaran ama aku cuma… Ugh! Dasar! Levia pasang tampang ketus. Ia tak merespon isyarat Dion.
“Levia, Sayangku. Rumus nomor dua--“
“Maaf, Bu Wati. Sepertinya Dion ada masalah dengan soal nomor dua. Berkali-kali dia tanya sama saya,” sergah Levia dengan nada tegas.
“Oww shit! Dasar cewek pelit! Nggak ada untungnya pacaran ama kamu” umpat Dion pelan. Setengah berbisik.
Bu Wati menghampiri Dion. Dion benar-benar merasa dipermalukan Levia. Apalagi teman-teman sekelasnya sudah senyum-senyum.
Sembilan puluh menit kemudian, kertas jawaban dikumpulkan. Begitu selesai mengumpulkan soal, Levia sengaja melewati tempat duduk Dion.
“Biarin pelit. Aku rugi pacaran ama kamu. Nggak bikin aku tambah pinter. Mending kita putus!!”
Dion hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata. Ia membayangkan, bagaimana dahsyatnya kemarahan nyokapnya nanti begitu tahu nilai Matematikanya masih dibawah lima. Levia, teganya dirimu…

1 comment:

Post a Comment

REVIEW LIPSTIK: POPPY DHARSONO LIQUEFIED MATTE LIP COLOR

Zaman sekarang yang namanya lipstik banyak sekali macamnya. Cuma saat ini yang lagi ngehits adalah lipstik matte yang kesat dan tahan berja...