Saturday, 28 July 2012

Dimuat di Percikan Majalah Gadis tahun 2011


HUTANG

Aku tengah asyik melamunkan long dress bunga-bunga incaranku ketika mendadak Sofia muncul dan menjawil lenganku. Reflek aku memalingkan wajah. Kulihat Sofia menatapku dengan ekspresi tegang.
“Luh, aku abis kecopetan. Padahal di dompetku ada uang SPP. Aku.. Bisa pinjem uangmu nggak? Lusa aku ganti deh,” pinta Sofia melas.
Waduh. Kasian juga Sofia. Tapi, kalo uangku dipinjem dia, berarti ntar sore batal dong beli gaun idamanku itu. Padahal aku udah mimpi beli dari dua minggu lalu. Sampe bela-belain absen jajan di kantin demi menghemat uang. Mmm.. Gimana ya?
“Berapa, Sof?” tanyaku sedikit berat.
“Seratus lima puluh aja. Aku masih punya duit di ATM dua ratus. Please…”
Hmm. Apa boleh buat. Ya sudahlah. “Oke deh. Ntar istirahat pertama aku ke ATM dulu,” putusku akhirnya.
Sofia tersenyum lega. Dia meremas tanganku seraya berbisik,”Terima kasih, Sista.
oOo
Hari ini Sofia janji mau bayar utangnya tempo hari. Namun sejak pagi tadi, dia belum nyerahin uangku. Nggak ngomong apa-apa pula. Jadi rada was-was juga. Pasalnya aku ini siswa baru. Kenal Sofia juga baru sebulanan. Takutnya Sofia kayak temen-temenku di kota sebelumnya. Pura-pura amnesia kalo punya utang. Mau nagih nggak enak, tapi kalo dibiarin, malah ngelunjak.
Diluar dugaan, pas istirahat Sofia justru nraktir aku di kantin. Dia bilang lagi dapet rejeki. Dia juga pamer kalung cincin emas putihnya padaku. Pikiranku mulai berburuk sangka. Jangan-jangan tempo hari dia pinjem uang cuma buat alasan doang. Kalo beneran gitu, bisa rugi di aku.
Sampai bel pulang berdering pun, Sofia nggak kunjung menunjukkan tanda-tanda mau bayar utang. Malah dia cepet-cepet pergi, padahal biasanya kita biasanya pulang bareng.
“Aku mau ke mall dulu,” katanya sambil melambaikan tangan. Aku terperangah menatap kepergiannya. Sofia benar-benar udah lupa sama hutangnya.
Tubuhku langsung lunglai. Setiba di rumah, kulemparkan tasku begitu saja. Bad mood jadinya gara-gara Sofia. Kuhempaskan badanku di kasur.
Terdengar ketukan di pintu kamar. Aku gelagapan. Rupanya aku ketiduran. “Galuh! Ada temenmu tuh!” panggil Ibu dari balik pintu.
Temen? Siapa? Sofia kah? Ah, nggak mungkin. Dia nggak bilang kalo mau ke sini kok. Tadi pamit mau ke mall. Ibu kembali memanggilku. “Iya bentar,” jawabku.
Aku segera bangkit, keluar menuju ruang tamu. Sofia duduk menunggu sambil cengar-cengir. Aku berusaha tersenyum.
“Hai, Sof. Tumben nih,” ujarku berbasa-basi seraya ngelirik pada tas-tas belanjaan Sofia. Busyet! Nih cewek ngeborong apa aja kok banyak banget. Hatiku makin panas.
“Tadi abis beliin baju buat adik-adik.”
“Trus?” tanyaku sambil pasang tampang cuek. Jangan-jangan mau ngutang lagi nih.
Sofia membuka tas ranselnya, mengulurkan tas butik warna pink. “Buat kamu. Aku lagi dapet rejeki. Menang lomba bikin esai lingkungan hidup,” kata Sofia sumringah.
Aku terlongo. Dengan gemetar kuterima tas dari Sofia, kubuka. Astaga! Mataku mendelik. Long dress bunga-bunga.
“Maaf ya, Luh. Bayarnya telat. Ini uangmu. Makasih ya,” lagi-lagi tangan Sofia terulur memberikan tiga lembar uang lima puluh ribuan.
Aku masih terpaku. “Kok jadi shock gitu, Luh? Nggak suka bajunya ya?” Sofia tampak khawatir.
Lidahku kelu. Tak mampu berkata apa-apa lagi, langsung kupeluk Sofia. Perasaan bahagia bercampur rasa bersalah membaur menyesaki dadaku.
“Makasih, Sista,” bisikku.

No comments:

Post a Comment

REVIEW LIPSTIK: POPPY DHARSONO LIQUEFIED MATTE LIP COLOR

Zaman sekarang yang namanya lipstik banyak sekali macamnya. Cuma saat ini yang lagi ngehits adalah lipstik matte yang kesat dan tahan berja...