Sunday, 22 July 2012

Cerpenku ini dimuat Majalah Ummi 2012. Seperti biasa, lupa bulan dan tanggalnya.

SEPAKET KOSMETIK

Ruang tamu Aminah penuh sesak oleh ibu-ibu anggota tahlilan mingguan. Sebelum acara dimulai, seperti biasa mereka kasak-kusuk saling berkicau mengobrolkan hal-hal tak penting. Kali ini pembicaraan mereka terpusat pada Suliha, juragan toko kelontong, yang ditengarai memiliki resep khusus agar cantik mendadak. Suliha yang jadi bahan kekaguman orang-orang sekitarnya duduk kaku sok melamun, padahal telinganya bergerak-gerak kala menangkap bisik-bisik pujian dari dua ibu di sebelahnya.
Aku sendiri asyik mendengarkan hipotesis Yarni dan Nurtini. Sebagai orang yang tahu keseharian Suliha --keduanya jadi pramuniaga di toko Suliha-- mereka berkoar-koar memaparkan resep ajaib kemulusan kulit juragannya. Ibu-ibu yang menyimak --termasuk aku-- terbengong-bengong sampai tanpa sadar mulut kami terbuka.
“Dia beli kosmetik racikan dokter. Katanya bisa mencegah kerut, memudarkan flek-flek hitam, melicinkan kulit, dan yang terpenting… Bisa jadi.. AWET MUDA!”
Nurtini tak mau kalah bicara. “Iya benar. Sebulan sekali dia ke dokter kulit. Di kota sana. Pulang-pulang bawa segepok printal-printil kosmetik dalam wadah kecil-kecil. Segini,” Nurtini mempertemukan jari telunjuk dan jempol, membentuk lingkaran kecil. “Mahal lho itu. Katanya lima ratus ribu. Juraganku itu emang hebat deh! Kayak artis pokoknya!” sumbar Nurtini pongah.
“Kenapa tiba-tiba Suliha tergerak mendatangi dokter kulit, Nur?” celetukku.
Yarni langsung memotong dengan jawabannya, meski Nurtini sudah siap angkat bicara. “Takut suaminya selingkuh. Kan adik iparnya baru ketahuan selingkuh sama sales kosmetik keliling. Makanya dia jadi gencar mempercantik diri takut suaminya ketularan. Sekarang sih, pria gampang cari perempuan cakep. Kosmetik udah banyak macemnya. Makanya kalo punya duit, sebaiknya disisihin buat kecantikan. Biar suami kita ndak neko-neko. Kayak juraganku tuh, suaminya mesra. Makin cinta sama Suliha.”
Aku manggut-manggut membenarkan pernyataan Yarni. Sayangnya tak lama kemudian, Martinah, sang ketua tahlilan, sudah bertepuk tangan mendiamkan pesertanya yang mencicit riuh rendah. Acara akan dibuka dengan pembacaan Surat Yasin bersama-sama. Pembicaraan mengenai Suliha pun beralih. Aku memancangkan mata pada buku kecil “Surat Yasin dan Tahlil”, sementara pikiranku melayang-layang memikirkan ucapan Yarni
oOo
Sesampai di rumah, kuutarakan niat pada Mas Yanto, suamiku, perihal keinginanku mengunjungi dokter kulit. Bukannya mendukung, Mas Yanto justru menyuguhkan gelagat keberatan, meski responsnya diperhalus. Kebanyakan pria memang aneh. Jika pasangannya berusaha mempercantik diri, kadang diremehkan atau diabaikan. Namun manakala melihat perempuan yang lebih cantik --entah memang cantik alami atau polesan--, mereka akan terkagum-kagum seakan melihat boneka India.
“Ini kan demi Mas sendiri. Mas pasti seneng dong punya istri cantik,” aku bersikukuh.
“Iya. Tapi uangnya kan sayang. Lima ratus per bulan cuma buat beli dempul wajah, sayang toh?” Aku terdiam dengan kening mengerut. “Lagian kamu itu sudah cantik, Min. Kulitmu kuning mulus gitu. Mau diapain lagi?”
“Ya.. Kan buat mencegah keriput. Flek hitam. Biar awet muda,” ucapan Yarni kembali kucetuskan.
Mas Yanto menghela nafas. Sepertinya dia kebingungan harus menentukan sikap. Aku menunggu, memandangnya dengan intens,  mendesak keteguhannya oleh tatapanku. Usahaku berhasil. Mas Yanto mengedikkan bahu.
“Ya sudahlah, terserah. Awas nanti wajahmu rusak,” ujarnya pasrah sekaligus mengingatkan. Kuraih kedua tangannya, mengecupnya bergantian.
oOo
Genap tiga minggu sudah aku menggunakan paket kosmetik dari Dokter Lusi, seorang dokter kulit di kota. Suliha juga menggunakan jasa dokter ini. Begitulah informasi yang berhasil kukorek dari Nurtini. Aku benar-benar merasa surprise melihat perubahan kulit wajahku. Jadi kelihatan licin, lebih putih, dan halus. Beberapa orang yang menyadari perubahan wajahku pasti memuji. Membuatku jadi salah tingkah seperti seekor kucing dibelai tuannya.
“Astaga! Mimin makin cantik aja! Kulitnya jadi licin begitu!”
“Wah, Yanto pasti tambah seneng kamu makin cantik begitu, Min!”
Saat orang-orang mengomentariku, Mas Yanto justru bersikap tak acuh. Jujur aku jadi sedikit gemas. Jarak 35 km kutempuh, panas-panas naik bis untuk mempercantik diri demi dia, tapi tak sedikitpun Mas Yanto menawarkan komentar walau hanya satu kalimat pendek saja. Aku merasa tak dihargai.
Parahnya lagi akhir-akhir ini dia sering lembur sampai larut malam. Alasannya loading barang mau ekspor. Dia terpaksa bekerja sampai jauh melebihi batas jam pulang karena bertugas sebagai karyawan gudang, bagian yang bertanggung jawab menghitung barang yang dikirim. Suamiku bekerja di pabrik furniture.
Tentu saja aku tak mempercayai ucapannya begitu saja. Setahuku pabrik tempat dia bekerja hanya melakukan ekspor seminggu dua kali. Berbagai prasangka buruk tumpang tindih menguasai akal sehatku. Menjelang subuh kutumpahkan bongkahan kedongkolanku padanya.    
“Jangan-jangan ada yang lebih menarik di kantor.”
“Apa sih, Min. Pagi-pagi kok malah nuduh.”
“Iyalah. Udah aku bela-belain ke dokter kulit nguras tabungan demi Mas, taunya yang mau dipamerin malah pulang tengah malam. Aku berbuat begini ini demi Mas. Mas ngerti ndak?”
Mas Yanto masygul menatap lantai. “Lagian, Mas kan bisa ndak usah lembur. Gantian ama Jatmiko. Orang gudang kan ndak cuma Mas Yanto aja toh?”
Senyap.
“Pokoknya aku ndak mau Mas pulang malem-malem lagi. Nanti ibu-ibu sini pada nanya lagi. Nanti dikiranya Mas sudah ndak sayang lagi sama aku. Malu.”
Mas Yanto bangkit, menyambar handuk yang telah tak jelas warnanya dari jemuran. Tanpa merespon omelanku dia langsung masuk kamar mandi. Aku serasa bicara dengan tembok. Tak ada reaksi balik.
oOo
Masih menyimpan kejengkelan akibat diabaikan suami, aku berangkat ke pasar dengan hati gemas. Di kedai Mak Trisni, penjual gorengan, duduk Nurtini, Yarni, dan Martinah. Mereka memanfaatkan momen antri dengan berdiskusi.
“Eh, Mimin. Seger banget wajahnya,” puji Yarni sambil matanya mengamatiku dari ujung sandal hingga ujung jilbab.
Aku tersenyum. “Lagi ngobrolin apa nih? Kok kayaknya serius amat?”
Seketika nada suara Yarni merendah, nyaris berbisik. “Suami Suliha selingkuh”
Aku terkesiap. “Mungkin suaminya ndak betah ama Suliha. Dia terlalu galak sih. Siapa juga yang tahan sama orang judes. Meskipun cinta,” Nurtini unjuk komentar.
“Padahal ya.. Suliha sudah cantik begitu, masih saja diduakan. Memang jadi istri itu ndak gampang. Harus bisa memahami suami,” imbuh Martinah.
“Suliha tau dari mana?” tanyaku.
“Suaminya sering pulang malem. Nah, tiga hari yang lalu, Suliha sengaja jemput suaminya pake mobil ke kantor malem-malem. Ketahuan deh,” jelas Yarni.
Pikiranku terbang mengenang kejadian beberapa hari terakhir. Kegelisahan menyergapku menimbulkan sedikit kepanikan. Jangan-jangan Mas Yanto selingkuh di pabrik. Buktinya sekarang dia tak terlalu mempedulikanku. Sering lembur lagi. Tak mau berlama-lama di situ, aku segera pamit. Aku tak mau mereka juga menduga hal-hal buruk mengenai suamiku yang juga sering telat pulang.
Setiba di rumah, sayup-sayup terdengar dering handphone. Aku menemukannya di atas meja kamar. Rupanya Mas Yanto lupa membawanya. Layar handphone hanya menampilkan deretan angka saja. Maka aku pun mengangkatnya. Segera aku mendapat kejutan.
“Siang. Pak Yanto-nya ada?”
Waktu serasa berhenti. Suara perempuan, sedikit centil. “Maaf, ini siapa?” tanyaku kaku.
“Saya Sinta. Kemarin kami sudah janji mau ketemu sepulang kerja nanti…”
Tangan kananku melorot perlahan, kubiarkan lenganku menggantung dengan handphone masih dalam genggaman. Tak sanggup lagi kudengar ucapan lanjutan perempuan yang mengaku Sinta itu. Astaga! Mas Yanto… Benarkah dia?? Tak mampu kuteruskan dugaanku.
oOo
Dadaku menggelegak dihentak emosi tinggi. Tak ada pilihan lain kecuali mendatangi pabrik, menuntut penjelasan Mas Yanto, dan kalau bisa menyeretnya pulang sekalian. Kadangkala suami juga harus diberi pelajaran agar tidak “nakal”. Aku tak mau tahun pertamaku menduduki singgasana perkawinan koyak moyak gara-gara perselingkuhan.
Mas Yanto seperti tersengat ular kobra begitu melihatku muncul di dari pos satpam. Tiba di lobi dia tampak kikuk. Kecurigaanku memuncak.
“Hapenya ketinggalan.”
Aku mati-matian mengatur napas yang telah disesaki amarah. “Trus ada Sinta telpon. Katanya udah janjian kan?”
“Min, aku minta maaf.”
Makin muntab saja aku. “Siapa dia??”
“Bukan siapa-siapa. Sumpah!”
“Pulang sekarang! Kita selesaikan di rumah!”
“Min, ndak bisa. Aku nanti lembur.”
Arsadi, teman kerja Mas Yanto muncul sambil mengulum senyum. “Tumben, Min? Mau ngecek rumah baru ya?” ujarnya santai.
Dahiku mengerut. “Rumah? Rumah siapa, Mas Arsad?”
“Loh?? Yanto mau nyicil rumah toh?” Aku masih mengarca. “Dia udah nego ama Bu Sinta kan? Atau justru batal?”
Kupandang Mas Yanto dan Mas Arsadi bergantian. Mendadak Mas Yanto mendesah panjang, menepuk pundak kananku.
“Maaf, Min. Rencananya aku mau bikin kejutan sama kamu. Aku rencana nyicil rumah. Biar ndak ngontrak lagi. Sore ini mau ketemu sama Bu Sinta di kantor perumahan Griya Asri. Dia marketingnya. Tapi nanti ada stuffing ke Denmark. Batal lagi terpaksa.”
Perutku seakan menggelinjang dilingkupi keterkejutan. Astaga! Aku terpana. “Kalo jadi, bulan depan ndak usah ke Dokter Lusi ya? Sayang duitnya,” lanjut Mas Yanto.
Jawabanku tertelan oleh rasa malu. Berani-beraninya aku berburuk sangka terhadap suamiku. Astaghfirullah! Seandainya kami berada dalam situasi sepi, niscaya sudah berlutut aku di hadapan Mas Yanto, meminta maaf atas dugaan sintingku. Pundakku melorot, bibirku bergetar menahan haru. Sungguh kenyataan ini di luar dugaanku.
“Min? Kamu ndak apa-apa kan? Kok jadi pucat begitu?” Mas Yanto mengangkat daguku. Aku menatapnya dengan mata menggenang.


8 comments:

Wahyuti said...

aih, cakep nian mbak, keren habis, Kapan nih bisa kayak mbak widya, heheheh quenn of media, TOP BGT, :)

Widya Ross said...

Aaamiinn.. Makasih Mbak Wahyuti :). Pasti bisa. Malah pasti bisa jauuuuuuuuuuhhhh melebihi aku. Asal rajin dan mau belajar :)

Eddelweiss - Naqiyyah Syam said...

iya keren abiz, aku terharu huaaaaaaaah pengen meluk suamiku juga ah:P

widhivinan said...

hmmm cerpen yang bagus nih, tidak mudah ketebak jalan ceritanya

Widya Ross said...

Waaa, baru tau. Maaf, Mbak Naqi, baru bales. Ya, dipeluk jangan sampe lepas ya :D

Widya Ross said...

Makasih sudah membaca dan mampir Widhi :D

Anisyah Ritonga said...

nggak bisa ditebak mbak. jadi senyum2 gitu mbaca endingnya...

Widya Ross said...

Anisyah: Makasih udah mampir kemari :)

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...