Sunday, 29 July 2012

Cerpen yang dimuat Majalah Chic, 11 Juli 2012


RIVALKU ATASANKU

Apa? Pindah ke Departemen Pemasaran Divisi Biskuit? Tenang. Jangan shock dulu. Ini bukan perkara sulit kok. Malah lebih bagus lagi karena siapa tahu nantinya yang duduk di kursi Brand Manager itu adalah.. Ya. Aku. Walaupun entah harus menunggu berapa tahun lagi. Tapi kalau mulai minggu depan aku harus pindah ke sana, rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Bayangkan. Aku akan satu ruangan dengan Miss Snatcher yang menurutku tidak cantik tapi merasa cantik. Bukan hanya itu, karena dia yang berada di “hot seat” brand manager, maka bisa dipastikan akulah yang jadi kacungnya. Astaga! Bagaimana mungkin aku bisa tahan dengan perempuan yang telah menjambret (makanya kusebut dia Snatcher) pacarku itu hingga membuat kami jadi batal bertunangan dan aku jadi jomblo merana begini. Apalagi dia akan jadi atasanku.
Diam-diam aku menyesal mati-matian menyuguhkan performance kerja yang bagus. Seandainya aku tidak terlalu workaholic, mungkin sampai bulan depan pun aku akan berada di bilik Departemen Purchasing. Aku memang jomblo merana tapi setidaknya aku tak perlu berlama-lama menatap rivalku yang jelas-jelas menang. Mendadak terlintas di kepalaku, Miss Snatcher duduk anggun seraya mengobrol atau mungkin bermesraan dengan Erik, mantanku. Ulu hatiku serasa ditusuk-tusuk.
“Udah, La. Nggak usah terlalu dipikirin. Vika nggak seburuk yang kamu bayangkan kok,” Ratna muncul tanpa kusadari dari balik pintu toilet, berusaha menghiburku. Selama ini, dia memang partner yang seringkali kujadikan tempat berkeluh kesah.
“Aku nggak mikirin kok. Cuma kepingin cuci muka aja makanya ke sini,” elakku. Entahlah. Saat ini aku malas mengurai kegelisahanku.
“Syukurlah kalau kamu siap. Jangan sampai nanti air matamu meleleh kalo Erik datang ke ruangan Vika. Atau kalau pas mereka lagi telpon-telponan. Gengsi dong.”
Aku mengangguk mantap. “Hubunganku dan Erik kan udah berakhir, Rat. Ngapain harus nangis-nangis lagi,” aku berusaha tersenyum.
Ratna menatapku penuh selidik, kedua matanya menyipit. “Yakin?” Ia mencoba memastikan.
“Yakin!” balasku mantap. Tiba-tiba saja hatiku juga ikut mantap. Tak ada yang perlu ditakutkan di ruangan Marketing. Aku akan menghasilkan ide-ide yang brilian untuk mendukung brand equity yang ditangani Vika. Bisa jadi dia akan mempromosikanku naik jabatan. Mungkin Ratna benar. Dia tak seburuk yang kukira, meskipun aku tahu fakta kalau dia pernah jadi Miss Snatcher. Tapi siapa tahu Vika akan memperlakukanku dengan baik. Tapi, eng.. Benarkah??
oOo
Sisa hari setelah Senin berlalu secepat angin. Tahu-tahu sudah hari Senin lagi. Mood-ku kacau balau menjelang berangkat ke kantor. Aku sudah bersiap sejak pukul lima pagi. Memilih baju, aksesoris, tas, warna lisptik dan eyeshadow yang bagus dan cocok. Aku tak mau terlihat kalah keren di mata Vika. Sebagai seorang Brand Manager, sehari-hari Vika berusaha agar selalu tampak berkilau di kantor. Pantas saja Erik lebih tahan pacaran sama dia daripada aku yang memang cuek dalam berpenampilan. Jarang sekali aku meluangkan waktu demi mencocokkan baju dengan tas atau make up. Karena menurutku, itu hanya buang-buang tenaga saja.
Vika sudah bersilang kaki di balik meja begitu aku masuk. Tumben dia datang lebih awal? Jangan-jangan, dia sengaja merencanakan kegiatan ploncoan layaknya penerimaan mahasiswa baru dan menungguku untuk dikerjai. Oh, sial! Harusnya aku tadi tidak hanya memasukkan lipstik ke dalam tas. Tapi juga pemukul kasti. Jadi bila dia mulai cari gara-gara, aku bisa menyabetnya terlebih dahulu hingga tak berkutik.
Perempuan itu mendongak anggun. Seolah di antara kami tak pernah ada masalah, Miss Snatcher tersenyum super ramah sembari menyilakanku duduk. Anehnya, aku langsung menurut begitu saja. Dia begitu menghipnotis. Mungkin ini faktor kedua yang mampu mengalihkan cinta Erik dariku. Pesona Vika membuat Erik terhipnotis dan langsung jatuh cinta.
Tanganku mulai merogoh isi tas, meraba setiap benda yang ada di sana siapa tahu bisa berguna kalau dia mulai macam-macam. Sayangnya yang kupegang hanya lipstik, sisir, bedak, coklat.. Yah hanya itu.
“Selamat bergabung di divisi ini, Lala. Ehm.. Saya tau performancemu cukup diandalkan di Departemen Purchasing,” dia berdehem sebentar lalu melanjutkan,”Saya berharap, ide-idemu mampu mensupport brand equity divisi kita di sini. Kita tahu biskuit Healthy sudah mulai cukup populer di masyarakat, padahal masih tergolong produk baru. Tapi tentu saja kita tidak boleh langsung puas. Kita harus bisa membuat produk tersebut melekat pada konsumen. Yah.. Kamu pasti paham maksudku. Kekompakan dalam tim adalah nomor satu”.
Tenggorokanku macet, lidahku seperti di tempeli es batu dari kutub utara. Jadi aku hanya bisa duduk kaku, sementara hatiku terus menerus menghujatnya. Saat kami dilingkupi kesenyapan, dering pendek telepon intern bergema, nyaris membuatku terlompat saking kagetnya. Benakku mulai digelayuti perasaan tak nyaman.
“Halo, Erik”.
Jeda sesaat.
“Lagi ada Lala. Gimana mutu produk terakhir?” Suara Vika terdengar sehalus percikan air di tengah gurun. Harus kuakui dia memang menarik dalam segala hal. Cara bicaranya, penampilannya, bahkan caranya meraih gagang telepon pun tampak mempesona. Mereka terus mengobrol masalah desain packing bermenit-menit lamanya, sementara aku terhenyak tanpa daya memperhatikan perempuan yang berselingkuh dengan mantanku itu. Hatiku tak bisa dibohongi, dia memang lebih unggul dariku. Dalam segala hal.
oOo
Hampir tiga bulan sudah aku jadi Assistant Brand Manager. Ratna memang benar. Vika tak seburuk yang kubayangkan. Bahkan menurutku dia adalah atasan yang cukup perhatian. Seolah hubungan kami bukan antara atasan dan bawahan, tapi mirip teman kerja yang posisinya sejajar. Meski begitu aku masih bergeming menahan jarak dengannya. Dendam itu masih kusimpan. Mungkin dia juga merasakannya. Sejak awal, dia tak pernah sekalipun membicarakan Erik dan kulihat Erik pun tak pernah menginjakkan sepatunya di ruanganku. Kalau bertelepon ria sih masih. Hanya saja telingaku menangkap pembicaraan mereka berkisar seputar pekerjaan saja.
Hingga suatu ketika Vika harus ke Singapura, Erik masuk tanpa kusangka. Langkahnya tegap menuju mejaku. Jantungku bertalu-talu. Mau apa dia kemari? Semenjak putus sembilan bulan lalu, tak pernah sekalipun dia berinisiatif menemuiku. Jangankan bertemu, melirik pun saat berpapasan saja tidak. Erik menyeret kursi. Melihat wajahnya yang terpahat begitu sempurna nyaris membuat tatapanku tak bisa teralihkan.
“Apa kabar, La?”
Aku berusaha meliukkan bibir untuk tersenyum. “Baik. Tumben nih pagi-pagi? Ada apa?” Suaraku kubuat seriang mungkin.
“Nanti malam free?”
Aku terlongo. Dahiku mengerut dalam. Kenapa Erik bertanya begitu? Apakah dia berniat mengajakku kencan? Wow! Alangkah berbinarnya duniaku jika memang hal itu terjadi. Aku serasa mencuri piala emas Vika yang sudah digadang-gadang selama berbulan-bulan. Lihat saja, Vika. Kamu bisa saja berbangga hati bisa menggaet si ganteng Erik. Tapi di belakangmu, pria tersebut ternyata diam-diam mendambaku.
“Nggg.. Kenapa?”
“Mau ngajak makan malam. Udah lama banget nggak makan ama kamu.”
Kurasakan ribuan confetti tak kasat mata berhamburan menghujaniku. Beruntung aku mampu menahan diri untuk tidak bersorak dan menandak-nandak kegirangan. Erik mengajakku makan malam? Setelah sekian lama mengabaikanku? Sungguh sebuah kejutan! Tapi, tunggu dulu! Kok tiba-tiba dia menemuiku justru saat aku sudah masuk divisi ini? Bukankah lebih bebas kalau dia melakukannya ketika aku masih berkutat di Purchasing agar tidak ketahuan Vika? Tapi ya sudahlah.. Yang penting nanti malam kami bisa bersama lagi.
Aku tersenyum samar. “Oke”, putusku dan semoga dia tak melihat betapa merahnya pipiku.
“Baik. Jam tujuh aku jemput. See ya..”
Senyum Erik menutup pertemuan terlarang kami. Dia bangkit. Sebelum menarik pintu, entah sengaja atau tidak, di mengerling padaku. Astaga! Dadaku berdentang-dentang seakan luluh lantah dan hatiku meleleh. Dalam sekejap rasa sakit yang belum kunjung sembuh itu raib, tergantikan oleh harapan dan cinta yang menungguku nanti malam. Tapi.. Kok rasanya aneh ya? Ah, sudahlah! Bukankah cinta memang terkadang cukup rumit dinalar?
oOo
Erik terlihat bagai model televisi masuk café. Tubuhnya yang kekar terbalut kaos biru bertuliskan “My Love”. Aku tak tahu apakah tulisan tersebut menyiratkan perasaannya padaku ataukah dia sekedar asal ambil di dalam lemari karena memang menyukainya. Yang jelas malam ini dia sangat menawan. Kami duduk berhadapan di sudut café yang dulunya biasa kami datangi. Momen-momen manis masa lalu berkeliaran menyeruak berhamburan dari kotak memoriku. Aku berharap Erik juga merasakan hal serupa. Setelah memesan menu, Erik mulai menghadapkan pandangannya padaku.
“Lama nggak ketemu kamu. Kangen,” ia tersenyum tipis.
Aku tak mampu menahan diri. “Kamu sih. Sok cuek kalo ketemu. Seolah aku ini invisible,” tiba-tiba uneg-unegku meluncur begitu saja.
Erik terkekeh. Aku menghela napas jengkel. Jengkel dengan kegembiraan yang ia tawarkan sedangkan aku bergulat dengan rasa yang menyesakkan. Dasar Erik!
“Hey, dengar! Aku nggak bermaksud begitu. Yah.. Agar Vika nggak cemburu aja..”
Sumpit di tanganku terkatung di udara. Sesaat sulit bagiku untuk memercayai pendengaranku. Agar Vika tak cemburu? Maksudnya?
“Kok?”
“Kamu pikir yang nyuruh kamu masuk divisi biskuit itu siapa?”
Mulutku masih menganga.
“Aku, La,” lanjut Erik enteng.
“Aku mempromosikan kecakapanmu pada Vika. Tentu saja awalnya dia keberatan. Tapi. Dia kan harus bersikap professional demi perusahaan.”
Aku masih belum mampu mencerna penjelasan singkat Erik. “Tujuannya?”
“Astaga! Kamu lupa atau gimana? Ayahku pemilik Nusantara Food, ingat? Tentu saja aku harus tahu strategi marketing divisi biskuit Healthy. Kemajuan Healthy cukup pesat bersaing ketat dengan Milkuit dari Nusantara Food. Sebagai calon pewaris tunggal perusahaan tersebut, aku juga nggak mau Nusantara Food kalah.”
Sumpitku jatuh menghantam hot plate. Ya ampun! Kenapa aku tak berpikir sampai ke sana? Jadi Erik hanya memanfaatkan Vika saja? Oh, seandainya Miss Snatcher itu tahu dirinya cuma diperalat. Aku sendiri saking kagetnya tak mampu berkomentar apa-apa.
“Sekarang ada kamu di divisi itu. Aku butuh segala informasi penting yang berkenaan dengan brand equity. Tapi jangan sampai Vika tahu. Gimana, sayang?”
Dadaku bergemuruh. Tak pernah kusangka sebelumnya Erik akan memelihara niat sepicik itu. Mungkin dari segi persaingan antara aku dan Vika, akulah yang diam-diam keluar jadi pemenangnya. Tapi sayangnya, dalam kompetisi kali ini, aku tak berminat sama sekali jadi juara. Aku muak pada Erik. Dia bermain licik. Benih-benih cinta yang mulai meyubur raib seketika disapu kenyataan yang baru saja ia akui. Aku tak kuasa berlama-lama lagi. Maka aku bangkit sambil menggertakkan gigi karena emosi, tak peduli pada makanan yang masih tinggal tiga perempat.
“Sori! Kurasa aku nggak minat mendukung rencana bodohmu itu! Selamat malam!”
Kusambar clutch bag putih di tepi meja lalu melangkah mantap meninggalkan Erik yang termangu. Hatiku digerogoti rasa geram tak berkesudahan. Mendadak aku bahagia tak lagi menjalin hubungan dengannya. Seenaknya saja dia memanfaatkan perempuan. Lalu Vika? Yah, kurasa aku harus benar-benar total mendukung perempuan itu. Dan entah mengapa, detik ini aku sangat merindukannya.



4 comments:

Eddelweiss - Naqiyyah Syam said...

Kasihan banget ya, huhuhu....

Ragil Kuning said...

Duh, cowok nyebelin...

Widya Ross said...

Buaaaangeeeet :P

Widya Ross said...

Waaa, maaf, baru bales Mbak. Hehehe. Kasihan emang :)

Post a Comment

Resensi Novel Pergi: Menetapkan Tujuan Hidup Ketika Berada di Persimpangan

"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ...