Tuesday, 17 July 2012

BUNGA RUMPUT UNTUK MAWAR (Kompas Anak)


BUNGA RUMPUT UNTUK MAWAR
(Ini adalah cerpen anak, awal-awal banget aku belajar nulis)

“Aduh Amir!!! Susah amat mau ngerti! Kan udah dikasih tahu kalau rumus segitiga itu setengah dikalikan panjang alas kali tinggi! Berarti setengah dikalikan delapan meter kali sepuluh meter sama dengan empat puluh meter persegi!" Mawar menggertak menahan marah bercampur gemas  karena Amir, teman kelompok belajarnya, tak kunjung paham atas penjelasan-penjelasan yang telah dia berikan kepadanya.
“Sekarang kita kerjakan soal selanjutnya. Nomor delapan. Hitung luas segitiga dengan panjang alas enam meter dan tinggi delapan meter,” Mawar membacakan soal yang tertera di buku paket matematikanya. “Amir! Tidak boleh salah lagi!” Lanjut Mawar seraya memberikan pandangan tajam. Amir hanya bisa mengangguk. Iis yang duduk di sebelah Mawar menjulurkan lidah ke arah Amir, bermaksud mengejeknya. Tapi sayangnya ejekan Iis tanpa hasil karena Amir sama sekali tidak peduli. Anak-anak itu kembali berkonsentrasi mengerjakan soal yang diberikan Mawar.
“Waktu habis. Sudah tahu jawabannya?” Mawar dengan lagak seorang guru bertanya sambil bersedekap. Satu persatu teman-temannya memberikan jawaban pada Mawar dengan cara berbisik. Jawaban mereka semua sama yaitu dua puluh empat meter persegi. Kemudian Mawar mengalihkan pandangannya pada Amir. Amir yang sedari tadi komat kamit menghitung tiba-tiba diam. Suasana hening. Kemudian dia menjawab tergagap, “Du… Dua puluh empat meter persegi, Ma." Mawar mengangguk sambil tersenyum puas mendengar jawaban Amir. Amir menghela nafas lega sementara Iis mendengus kesal.
“Baiklah. Karena sudah hampir jam lima dan kalian sudah bisa mengerjakan soal-soal matematika dengan baik, kita sudahi dulu belajar bersama kita sore ini. Usahakan besok tidak ada yang mendapatkan nilai tujuh puluh.” Seperti biasa Mawar selaku ketua kelompok memberikan kalimat penutup yang rutin diucapkan setiap kali kegiatan belajar kelompok akan berakhir.
Satu persatu teman-teman Mawar berpamitan pulang. Ketika tiba giliran Amir hendak pamit, Mawar langsung berpose sok agung dengan mengangkat wajah dan menyilangkan tangannya di depan dada seraya berkata “Sebutkan rumus luas segitiga Amir!”
Amir tersenyum kocak kemudian berteriak “Setengah dikalikan panjang alas kali tinggi!”. Suaranya melengking kecil. Mendengar jawaban Amir, Mawar mengangguk tanpa ekspresi. Kemudian Amir merogoh ke dalam tas kainnya mengambil sebuah buku tulis. Beberapa tangkai daun suplir kering menempel di bagian tengah buku itu. Amir menyerahkannya pada Mawar. Sedetik kemudian raut wajah Mawar tampak berubah cerah. Tangannya terulur menerima pemberian Amir. “Terima kasih. Mir, Kalau ada bunga rumput kering ya.. Aku ingin sekali. Minta lima tangkai saja,” pinta Mawar. Amir mengangguk sambil mengacungkan jempolnya kemudian bergegas pulang.
Begitulah aktivitas sore beberapa murid kelas empat SDN Banyuputih 5, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Hampir tiap sore kecuali hari Sabtu, lima orang anak diantaranya Mawar, Iis, Yani, Siti, dan Amir belajar bersama di rumah Mawar mulai jam tiga hingga jam lima sore. Mereka sepakat belajar di rumah tersebut karena rumah mawar lebih layak digunakan sebagai tempat belajar bersama selain karena kelengkapan buku-buku paket dan kepintaran Mawar. Akhirnya teman-temannya sepakat mengangkatnya sebagai ketua kelompok.
Iis, Amir, Yani, dan Siti adalah tetangga-tetangga Mawar. Mereka berasal dari keluarga sederhana yang tidak memiliki buku paket sama sekali. Diantara keempat anak tersebut Amir-lah anak yang paling susah menangkap pelajaran dengan baik. Tak ayal, ketika kegiatan belajar kelompok dimulai, dialah yang paling sering bertanya pada Mawar juga paling sering dimarahi Mawar dan teman-temannya akibat melontarkan pertanyaan yang sama secara berulang-ulang. Mendapat perlakuan seperti itu Amir hanya tersenyum kocak tak peduli.
Setiap kali kegiatan belajar kelompok usai, Mawar mengajukan sebuah soal pada Amir. Biasanya jawaban Amir selalu benar walaupun kadang harus menjawab dengan tergagap akibat bentakan Mawar. Selanjutnya Amir selalu mengambil sebuah buku tulis dari tasnya, lalu membukanya di hadapan Mawar. Jika benda yang terselip diantara lembaran kertas buku tulisnya sudah kering, Amir menyerahkannya pada Mawar. Namun jika dirasa belum cukup kering, Amir menutup bukunya kembali tanpa menyerahkan apa-apa dan berkata “Belum kering, Ma. Mungkin besok.” Lalu dia pun berlari pulang.
Itulah imbalan yang diberikan Amir pada Mawar atas usahanya menjelaskan kembali semua mata pelajaran yang sulit dimengerti Amir. Beberapa helai daun atau kelopak bunga liar yang dipetik di pinggir jalan dalam perjalanannya mengantar bekal ayahnya di sawah selanjutnya diselipkan diantara buku tulisnya untuk dikeringkan kemudian diserahkan pada Mawar. Amir melakukan itu karena mengetahui bahwa Mawar sangat menyukai kerajinan daun atau bunga kering.
Suatu sore, Mawar dan kawan-kawannya sedang belajar Ilmu pengetahuan alam. Tidak seperti biasanya saat itu Amir begitu pendiam. Tak ada satupun pertanyaan diajukan pada teman-temannya. Begitu pula ketika Mawar memberikan soal-soal dan meminta teman-temannya menjawab, hanya Amir yang tidak menjawab.
“Aku nggak ngerti Ma,” ucap Amir lirih.
“Makanya kamu coba dengarkan apa yang aku baca barusan! Masa sudah dibacakan tiga kali nggak paham-paham. Jangan melamun terus! Kalau mau melamun lebih baik pulang saja! Kita berkumpul disini untuk belajar bukan bermalas-malasan!” sahut Mawar ketus.
Begitu mendengar kalimat Mawar tak disangka Amir tiba-tiba berdiri, menyandang tas kainnya, lalu berjalan cepat dan berlari meninggalkan teman-temannya tanpa pamit. Mawar dan teman-temannya saling berpandangan tak mengerti. Dia memandang jauh kelebat sosok Amir yang menghilang di pertigaan jalan. Sedetik kemudian perasaan bersalah berkelebat di hati Mawar. Namun perasaan tersebut berkurang tatkala dia dan teman-temannya mulai berkutat menjawab latihan soal.
Sudah dua hari Amir tidak masuk sekolah maupun datang untuk belajar kelompok. Mawar merasa khawatir. Pikirannya didera perasaan tak enak karena merasa bersalah gara-gara berkata ketus pada Amir. Namun dia tidak punya keberanian untuk menjenguk Amir dirumahnya. Dia takut Amir masih marah.
Hingga suatu hari, di hari ketiga ketidakhadiran Amir di sekolah, Bu Lastri, Wali kelas Mawar memberikan pengumuman mengejutkan. Bu Lastri menyatakan bahwa Amir Sodikin, siswa kelas 4A telah meninggal dunia pukul 09.00 WIB dan meminta seluruh siswa kelas 4A datang melayat sepulang sekolah. Sejenak kelas 4A hening. Beberapa anak saling berbisik dengan wajah terkejut tak percaya.
Pernyataan Bu Lastri seolah sambaran kilat di telinga Mawar. Dia belum percaya. Dia merasa apa yang didengarnya barusan tidak nyata. Dia memejamkan mata. Pikirannya menerawang ketika melontarkan kata-kata ketusnya pada Amir. Tidak mungkin, bisiknya. Seandainya dia tidak menyuruh Amir pulang. Seandainya kata-kata itu tidak terucap. Tidak, bisiknya. Air mata penyesalan menggenang di kedua matanya. Iis, Yani, dan Siti menghampiri mejanya dan mereka berpelukan.
Q
Ketika Mawar dan teman-teman sekelasnya melayat ke rumah Amir, Ibu Amir memanggil Mawar. “Amir meminta Ibu memberikan buku ini untuk Mawar. Katanya ini pesanan Mawar. Ibu minta maaf karena baru menyerahkannya sekarang. Sebenarnya Amir minta Ibu menyerahkannya kemarin tapi belum sempa.". Mawar menerima buku tulis itu dari tangan ibu Amir.  “Amir panas tinggi dua hari yang lalu. Sempat membaik tapi kemarin sore panas lagi dan muntah darah. Ibu merasa bersalah tidak segera membawanya ke Puskesmas,” lanjut ibu Amir terisak.
Sesampainya di rumah, Mawar segera masuk ke kamarnya. Perlahan dia membuka buku tulis pemberian Ibu Amir. Dadanya terasa sesak. Lima tangkai bunga rumput kering terselip di antara kertas bergaris di tangannya. Dia sadar dia pernah memintanya pada Amir. Diraihnya bunga rumput itu. Air matanya menetes. Mawar berjalan ke sudut kamar dan meletakkan bunga rumput itu di sebuah vas pipa kecil yang terletak di sudut kamar. Maafkan aku Amir. Selamat jalan, bisiknya. Sekelebat bayangan Amir yang sedang tersenyum tiba-tiba melintas di benaknya.

10 comments:

ofi sugito said...

bagus mbak. waktu itu aku baca juga di kompas anak. aku masih inget..
kutunggu postingan lainnya ya mbak :)

Unknown said...

Insya Allah pas Ramadhan ya :D

silulak said...

wah Widya, bagus.... :)

Wahyuti said...

keren mbak, aku terharu, hik, amir, :(

Widya Ross said...

Oh, baca juga toh Mbak :D. Makasih ya....

Widya Ross said...

Makasih Mbak :). Hayuuuk nulis buat Kompas Anak :D.

Wahyuti said...

qiqiqi, belum berhasil nembus kompas anak, :) naskahnya pulang terus. kangen ma aku kali, ya, :)

Widya Ross said...

Emang susah nembus media itu Mbak. Tapi yakin deh, suatu saat pasti bisa :)

Annur eL Karimah said...

sedih haru, kerenz.. salam kenal mba walupun telat hehee.. saya ingin mnjdi spti mbak hihi, baru sekali saya tmbus majalah online dan menang lomba antologi mdahan bisa kayak mba..
makash mba cerpen yg udah ku baca stidaknya buat pemblajaran. :D

Widya Ross said...

Halooo, maaf, baru komeeen hihihi. Aduuuh, aku ini jarang ngubek2 blog.

Eh, jangan pengen seperti aku doooong :D. Harus jauuuuhh lebiiih baiiiik daripada aku. Semangat Annur :D

Post a Comment

REVIEW LIPSTIK: POPPY DHARSONO LIQUEFIED MATTE LIP COLOR

Zaman sekarang yang namanya lipstik banyak sekali macamnya. Cuma saat ini yang lagi ngehits adalah lipstik matte yang kesat dan tahan berja...